Renungan Harian Kristen Protestan, 14 Maret 2019 : Idola Anda Siapa?
Namun adapula yang menjadikan seseorang sebagai idola karena sebatas tampilan fisik saja, yakni karena kecantikannya atau kegantengannya.
Kelompok band atau penyanyi yang lirik lagunya memberikan penguatan atau penghiburan bagi seseorang, maka kelompok band atau penyanyi tersebut akan segera menjadi idola orang tersebut.
Akan tetapi sekarang ini pemilihan idola bahkan telah melenceng dari kaidah-kaidah umum yang berlaku. Penjahat perang seperti Hitler pun bisa dijadikan idola.
Dan teroris yang kejam pun ada pada dinding kamar anak-anak muda. Hal ini bisa terjadi karena pergeseran nilai atau ketidakpuasan dalam kehidupan masyarakat.
Atau mungkin boleh dikatakan banyak orang yang telah buta akan pemilihan idola. Asalkan seseorang dianggap keren, bahkan aneh dan nyeleneh, maka ia langsung di jadikan idola.
Lalu kemudian diikuti semua tindak tanduknya, baik hal itu yang terpuji maupun hal yang tercela.
Jika hal terpuji yang dicontoh ini sah-sah saja, justru ini merupakan fungsi dari idola, namun jika sebaliknya dapat membuat hidup seseorang menjadi buruk.
Bemo-bemo di Kupang entah sadar atau tidak secara tidak langsung mempopulerkan idola-idola yang buruk.
Ada bemo yang bertuliskan Teroris, Pelakor, Hitler, etc,. Mungkin pemilik bemo tidak ada maksud apa-apa, hanya untuk lucu-lucuan saja.
Pembaca yang budiman, idola sebetulnya juga mencakup aspek keteladanan.
Dalam Alkitab misalnya Filipi 3:17-4:1 Rasul Paulus mengajak warga jemaat di Filipi untuk mengikuti teladannya, yang bersumber pada teladan Kristus
Karena sebelumnya dalam Fil 2:5 dst, ia sudah lebih dulu menyuruh mereka untuk mengikuti teladan Kristus.
Jadi, jelaslah bahwa teladan yang tertinggi dan yang sebenarnya adalah Kristus!
Paulus boleh kita jadikan teladan, karena ia mengikuti Kristus (1Kor 11:1). Bukan karena Ia merasa dirinya sudah sempurna, tetapi ia mau belajar mengenal Kristus. Bagi Paulus Kristus adalah sang idola yang ideal.
Kehidupan Kristen adalah suatu kehidupan yang diliputi dengan kebebasan untuk memilih cara hidup. Kata Yunani Typos dalam 17 adalah kata kunci untuk memahami pemikiran Paulus di sini.
Typos dalam arti harafiah artinya pola atau cetakan, sebuah bentuk, suatu model untuk menjadi contoh, untuk ditiru selanjutanya dan suatu teladan untuk diikuti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-messakh-dethan-3.jpg)