Renungan Harian Kristen Protestan, 14 Maret 2019 : Idola Anda Siapa?
Namun adapula yang menjadikan seseorang sebagai idola karena sebatas tampilan fisik saja, yakni karena kecantikannya atau kegantengannya.
Renungan Harian Kristen Protestan : 14 Maret 2019
Idola Anda Siapa?
Oleh: Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
HAMPIR semua orang memiliki idola. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orangtua memiliki idolanya masing masing.
Idola seseorang semakin bertambah banyak dan luas, sejalan dengan kemajuan teknologi dan informasi.
Kalau idolanya menujuk kepada orang, maka tokoh idolanya juga bervariasi" : (artis, bintang film, pemain sinetron, olahragawan, pemimpin dunia, dsb). Tokoh-tokoh tersebut dapat mempengaruhi kehidupannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) idola dapat menunjuk kepada orang, gambar, patung dan sebagainya yang menjadi pujaan.
Beberapa alasan menjadikan seseorang idola antara lain karena prestasinya, kepribadiannya, ketenarannya, pengaruhnya, keunikannya, bahkan bisa juga karena "keanehan dan kegilaannya" dll.
Misalkan, ada seseorang memilih idolanya karena perjalanan hidupnya yang heroik, prestasi yang mentereng, dsb.
Namun adapula yang menjadikan seseorang sebagai idola karena sebatas tampilan fisik saja, yakni karena kecantikannya atau kegantengannya.
Atau karena suaranya yang merdu, ketangkasannya dalam balapan motor ata mobil. Atau karena kepiawaiannya mengocek bola, etc.
Idola memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan seseorang, apalagi jika idola tersebut merupakan tokoh dalam masyarakat (public figure), artinya mampu menarik minat yang besar sejumlah orang dalam jumlah yang besar pula.
Menurut psikolog ternama Erik Erikson, pada masa krisis identitas diri seseorang, hubungan sosial yang signifikan mempengaruhi seseorang adalah model kepemimpinan. Dalam hal ini model kepemimpinan dapat menjadi idola.
Misalnya, jika ada sekelompok band yang berhasil menarik minat banyak orang sehingga banyak orang berhasil "terhipnotis" olehnya dalam arti lagu tersebut memberikan kenyamanan bagi seseorang, ketika orang mendengarnya.
Maka secara perlahan para remaja mulai mengidentifikasi semua hal yang ada pada kelompok band tersebut mulai dari baju yang dipakai hingga tatanan rambutnya.
Contoh grup band The Beatles yang tenar di Inggris sekitar tahun 1960 an dan mendapatkan banyak penggemar bukan hanya di Liverpool atau di Inggris umumnya bahkan di seantero dunia.
Jikalau seseorang yang berhasil menyentuh hati orang lain, maka orang tersebut akan menjadi idola baginya.
Faktor yang berhasil menyentuh hati seseorang adalah kemampuan bukan hanya mempengaruhi orang lain, tetapi juga kemampuan memahaminya, penerimaan yang tulus dan dukungan yang besar terhadap kehidupan pribadinya.
Kelompok band atau penyanyi yang lirik lagunya memberikan penguatan atau penghiburan bagi seseorang, maka kelompok band atau penyanyi tersebut akan segera menjadi idola orang tersebut.
Akan tetapi sekarang ini pemilihan idola bahkan telah melenceng dari kaidah-kaidah umum yang berlaku. Penjahat perang seperti Hitler pun bisa dijadikan idola.
Dan teroris yang kejam pun ada pada dinding kamar anak-anak muda. Hal ini bisa terjadi karena pergeseran nilai atau ketidakpuasan dalam kehidupan masyarakat.
Atau mungkin boleh dikatakan banyak orang yang telah buta akan pemilihan idola. Asalkan seseorang dianggap keren, bahkan aneh dan nyeleneh, maka ia langsung di jadikan idola.
Lalu kemudian diikuti semua tindak tanduknya, baik hal itu yang terpuji maupun hal yang tercela.
Jika hal terpuji yang dicontoh ini sah-sah saja, justru ini merupakan fungsi dari idola, namun jika sebaliknya dapat membuat hidup seseorang menjadi buruk.
Bemo-bemo di Kupang entah sadar atau tidak secara tidak langsung mempopulerkan idola-idola yang buruk.
Ada bemo yang bertuliskan Teroris, Pelakor, Hitler, etc,. Mungkin pemilik bemo tidak ada maksud apa-apa, hanya untuk lucu-lucuan saja.
Pembaca yang budiman, idola sebetulnya juga mencakup aspek keteladanan.
Dalam Alkitab misalnya Filipi 3:17-4:1 Rasul Paulus mengajak warga jemaat di Filipi untuk mengikuti teladannya, yang bersumber pada teladan Kristus
Karena sebelumnya dalam Fil 2:5 dst, ia sudah lebih dulu menyuruh mereka untuk mengikuti teladan Kristus.
Jadi, jelaslah bahwa teladan yang tertinggi dan yang sebenarnya adalah Kristus!
Paulus boleh kita jadikan teladan, karena ia mengikuti Kristus (1Kor 11:1). Bukan karena Ia merasa dirinya sudah sempurna, tetapi ia mau belajar mengenal Kristus. Bagi Paulus Kristus adalah sang idola yang ideal.
Kehidupan Kristen adalah suatu kehidupan yang diliputi dengan kebebasan untuk memilih cara hidup. Kata Yunani Typos dalam 17 adalah kata kunci untuk memahami pemikiran Paulus di sini.
Typos dalam arti harafiah artinya pola atau cetakan, sebuah bentuk, suatu model untuk menjadi contoh, untuk ditiru selanjutanya dan suatu teladan untuk diikuti.
Rasul Paulus meminta jemaat Filipi untuk memilih tidak mengikuti pola atau teladan hidup yang menentang kesaksian pemberitaan Injil, tetapi sebaliknya memilih pola hidup yang mendukung pemberitaan Injil.
Memilih di antara pola hidup yang mendukung pelayanan Tuhan atau justru menghambatnya.
Rupanya di antara jemaat Filipi terdapat orang-orang yang memberi teladan keliru dan salah.
Mereka meniadakan kuasa Injil dengan menganjurkan kehidupan yang memenuhi nafsu tubuh atau keinginan duniawi semata (ayat 19).
Dengan berbuat demikian, mereka hidup sebagai musuh salib Kristus (ayat 18).
Oleh karena itu Paulus mengajak dan mendorong jemaat Filipi untuk mengikuti teladannya di dalam mengikut Yesus dan dengan sungguh-sungguh bertumbuh dan dibangun di dalamNya.
Pada diri manusia itu sendiri, jika tanpa Kristus, maka tidak ada sesuatu yang baik untuk ditiru; hanya apa yang ada dalam kita yang dari Kristus yang layak ditiru.
Ini menunjukkan bahwa menurut Rasul Paulus jika manusia terpisah dari Kristus, sedikitpun tak ada sesuatu yang baik (bdk. Roma 7:18-19).
Hanya karena adanya kasih karunia dan pekerjaan Allah di dalam diri manusia itu, maka barulah ia bisa menjadi baik bahkan bisa menjadi suatu teladan atau idola bagi orang lain.
Oleh karena itu Paulus memperingatkan jemaat di Filipi untuk tidak mengikuti teladan dari orang-orang yang tidak sungguh-sungguh percaya kepada Kristus.
Karena kesudahan mereka menurut Paulus adalah kebinasaan. Tuhan mereka bukanlah Kristus, tetapi "tuhan" yang lain, karena hal yang paling utama bagi mereka, adalah perut.
Yang dimaksudkan perut disini bukan hanya kerakusan tetapi juga segala bentuk pemuasan nafsu.
Kebebasan yang mereka sangka benar sebetulnya adalah perbudakan oleh nafsu yang memalukan dan mereka ditentukan untuk memikirkan hal-hal yang kotor dan duniawi.
Oleh karea itu bagi Paulus, jikalau Jemaat Filipi benar-benar menyadari diri mereka sebagai warga Kerajaan Surga, maka selayaknya mereka hidup sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Surga dan tidak mengikuti nilai-nilai yang dari dunia.
Nilai-nilai Kerajaan Surga itu terlukis di dalam lambang salib Kristus (18). Mereka harus meninggalkan cara hidup dan nilai-nilai lama yaitu tidak lagi hidup demi perut.
Perut adalah lambang kepuasan hidup jasmani, ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai Kerajaan Surga.
Karena kebutuhan makanan adalah kebutuhan yang paling mendasar dalam hidup manusia, maka jika manusia memuaskan perutnya saja, dapat diartikan bahwa ia hidup dengan tujuan yang sangat rendah.
Bagi Paulus bila orang hanya hidup oleh dan untuk perut, juga dikendalikan oleh pikiran-pikiran duniawi, maka hasil dari semuanya itu adalah aib semata (19).
Oleh sebab itu Paulus meminta jemaat di Filipi supaya tidak tawar hati melihat pemenjaraan dirinya, tetapi sebaliknya tetap teguh di dalam Tuhan.
Mengarahkan mata hati dan iman mereka bukan pada cara pandang duniawi, tetapi cara pandang surgawi, meskipun mereka mengalami situasi yang sulit (4:1).
Dalam pandangan duniawi Salib sebagai hal yang rendah (kebodohan) sedangkan pandangan surgawi memandang Salib sebagai hal yang mulia.
Pikiran duniawi memandang penjara Paulus sebagai sesuatu yang hina, sedangkan pikiran surgawi memandang sengsara penjara seperti yang Paulus alami sebagai jalan salib yang mulia.
Yang menarik Paulus memakai kata Yunani politeuma dalam Filipi 3: 20 yang artinya "kewargaan".
Kata ini hanya dipakai satu kali dalam Perjanjian Baru dalam teks ini mungkin menunjuk kepada pola hidup yang dianut seorang warga, yang dimaksudkan di sini ialah negeri di mana dia menjadi anggota warganya.
Menurut beberapa penafsir para warga Romawi yang tinggal di perbatasan seperti Filipi akan langsung mengerti apa yang dimaksudkan oleh Paulus.
Orang-orang Kristen yang dewasa hidupnya ibarat sebagai "sekelompok warga surgawi" dan menghidupi nilai-nilainya yang tinggal di bumi untuk sementara.
Rasul Paulus dalam bacaan kita bicara tentang kewarganegaran juga, tetapi dalam tekanan yang berbeda.
Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Filipi bahwa mereka oleh karena kuasa Injil Kristus telah ditebus sebagai warga kerajaan Sorga. Kewargaan mereka di dunia hanya bersifat sementara.
Menurut Paulus, keadaan jasmani mereka bersifat sementara saja, sebab kelak mereka akan diberikan tubuh surgawi yang mulia (ayat 21).
Mereka akan luput dari pengaruh keduniawian dengan hawa nafsu yang membinasakan, bila mereka hidup dalam perspektif pengharapkan kepada kemuliaan tubuh sorgawi nanti!
Jadi dari pemikiran Paulus kita dapat menegaskan beberapa hal.
Pertama, ada banyak tokoh idola dalam kehidupan kita, dulu idola kita mungkin berasal dari Amerika, Inggris, tetapi sekarang ini mungkin juga dari Korea atau Cina.
Untuk itu maka kita mesti selektif memilih idola. Apakah teladan mereka memberikan perubahan ke arah baik atau tidak.
Banyak yang mengidolakan tokoh politik tertentu, tetapi saat ia berurusan dengan masalah hukum apalagi menggugat cerai istrinya, maka banyak orang kecewa dan frustrasi.
Oleh karena itu anjuran Paulus untuk mengikuti teladan Kristus harus menjadi perhatian utama kehidupan orang beriman, bukan pada gaya berpakaian, gaya berbicara, tetapi nilai-nilai yang telah ditunjukan Yesus.
Kedua, salah satu tujuan Alkitab mencatat kehidupan dari orang-orang beriman adalah supaya kehidupan mereka yang baik bisa kita tiru.
Apakah kita selalu berusaha menyesuaikan kehidupan kita dengan kehidupan yang baik dari tokoh-tokoh dalam Alkitab? Atau kita tidak menirunya dengan alasan bahwa mereka hidup pada jaman yang berbeda dengan kita?
Nama-nama anak kita saat ini, sudah berubah sesuai zaman: Yohanis, menjadi Johny, Matius menjadi Methiew atau Matt, Yakobus menjadi Jakc, dll.
Tapi apakah teladan hidup dari orang-orang yang diberi nama ini ada dalam hidup anak-anak kita? Atau hanya sekadar gaya.
Ketiga, menarik bahwa kewarganegaraan orang Kristen bukan hanya satu tetapi dua. Kewarganegaraan kita dua: Dunia dan surga.
Mari kita tidak dalam pemikiran bahwa hidup ini seolah-olah semua habis di dunia. Tapi tempat tinggal kita yang kekal ada di surga.
Kalau ditanya, apakah anda yakin masuk surga atau neraka? Maka tidak ada yang berani menjamin, karena kita masih ragu-ragu.
Namun kita baru berani memastikannya kalau kita hidup dalam tuntunan Roh Tuhan dan dalam pengharapan sebagai warga kerajaan surga.
Melalui anugerahNya Tuhan telah memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih.
Bagi orang Kristen telah memahami betapa muliaNya anugerah keselamatan Allah, dan hidupnya telah disentuh oleh berkat Tuhan, maka pastilah hidupnya itu akan menghasilkan hal-hal yang baik.
Dan berjuang untuk untuk hidup dalam standard hidup yang benar bukan ikut arus duniawi yang menyesatkan dari para idola kita. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-messakh-dethan-3.jpg)