Opini Pos Kupang
Mutasi Subjek dari Off ke On hingga Hoaks
Artinya, menjadi subjek media sosial. Subjek dalam media sosial adalah subjek yang direpresentasikan baik secara verbal
Ketiga kategori tersebut secara rinci sulit diukur kadar keberpihakannya dan pertentangannya. Dalam konteks subjek di media sosial, kategori usia, pendidikan, jenis kelamin, agama, suku, sama sekali tidak relevan.
Jika melihat subjek-subjek yang dihadirkan, yang muncul adalah subjek kepentingan (subjek politik, subjek agama, subjek ekonomi). Di sanalah muncul narsistik kolektif yang dibangun dengan batu bata kepentingan.
Bangkrutnya Demokrasi
Jika dibilang, pihak yang memproduksi dan melakukan ujaran kebencian, hoaks, fitnah dianggap masyarakat yang tidak kritis atau tidak literatif. Maka pertanyaan yang mengepung kita ialah, masa kita ragukan kecerdasan Ratna Sarumpaet, atau Profesor Amien Rais?
Jadi subjek On, sesungguhnya tidak relevan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Subjek On berbasis informasi dan mendirikan menara narsistik kolektif dalam grup-grup media sosial untuk memelihara kepentingan. Dengan demikian, keadaan itu sangat tergantung pada konteks dan pilihan keterlibatan dalam konteks tersebut.
Sebab, dalam diri kita sebenarnya ada perangai atau watak hewani, kadang bertindak di luar pemikiran rasional yang oleh psikolog Sigmud Freud disebut id. Kita memang binatang berakal, dan jika dominan berperilaku binatang, maka kita dikategorikan berakal binatang.
Subjek On yang bertanah air di media sosial dimana dirinya bukan lagi sebagai pusat ide. Ia tersingkir dari otoritas subjek sebagai pusat ide yang oleh Descartes disebut cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada).
Hakekat subjek On memiliki hubungan dengan informasi yang terus-menerus menerpa dan kemudian menjadi sangat tergantung padanya. Di sana ada otonomi dan otoritas yang berbeda dengan sifat alami diri. Pada subjek On otoritas subjek sebagai pusat ide, gagasan, atau pengetahuan diringkaskan dan kadang tersingkirkan sama sekali.
Pada sisi lain, demokrasi adalah kebutuhan akan kebebasan berpikir, kebebasan berbeda, dan terpenting berani menerima perbedaan secara rasional.
Dengan demikian, demokrasi modern sangat tergantung pada pemikiran kritis, kecerdasan, dan kebebasan berbeda. Dalam konteks demikian, subjek On dapat menghidupkan demokrasi karena bertambahnya pengetahuan melalui informasi yang benar.
Sebaliknya, ia menjadi subjek berbisa (beracun) apabila ia tak mampu meliterasi informasi atau, ia ikut dalam pembuatan dan pembiakkan hoaks misalnya.
Karena itu, ketika subjek On telah mendirikan narsisme kolektif sebagai rumah adat, mereka merasa unggul dan memandang rendah terhadap kelompok lain, maka keadaan itulah yang menyuburkan benih hoaks dan ujaran kebencian. Dan saat bersamaan, terjadi dekadensi atau pembangkrutan demokrasi. Gosip, bisik, dan kebohongan tergenang di aula pemikiran sekaligus menjadi hama demokrasi.
Semestinya, era keterbukaan informasi dan pesatnya teknologi informasi dipahami sebagai era pencerahan. Keterbukaan informasi akan melahirkan transparansi dan kejujuran. Hanya dalam terang informasi, perilaku mudah dikontrol dan cenderung berbuat baik.
Sebaliknya dalam kegelapan informasi, cenderung melakukan maksiat sosial dan kekuasaan terus menutup ventilasi informasi. Jika segalanya terang dan terbuka, maka sesungguhnya kerja pihak kepolisian semakin berkurang, kerja pihak kejaksaan kian sedikit, kerja Komisi Pemberantasan Korupsi tidak banyak.
Masyarakat kita lagi asyik secara berjemaah melakukan mutasi gen sosial atau
transsubjek. Sayangnya, transsubjek tanpa daya kritis dan tradisi literasi yang kuat,
maka sulit membedakan sebuah informasi yang benar dan informasi sampah seperti
hoaks, ujaran kebencian, kampanye hitam, fitnah, dan sejenisnya. Di sanalah
demokrasi disusutkan mejadi sekadar berbeda untuk saling menghujat.