Renungan Harian Kristen Protestan
Tunjukkan Otakmu maka Aku Tunjukkan Tuhanku
Sang professor mati kutu karena seakan-akan si anak tersebut berkata: tunjukkan otakmu maka aku tunjukkan Tuhanku juga
Keberagamaan hanya dipahami dalam pengertian ritual tanpa ada kaitan dengan internalisasi nilai agama ini dalam kehidupan nyata secara sungguh-sungguh.
Perwujudan nilai kalaupun dilakukan hanya sekadar pencitraan dan supaya bisa dilihat dan dipuji orang bukan sebagai respons dan tanda syukur dengan hati yang tulus kepada Tuhan.
Hal-hal semacam inilah yang dikritisi oleh si penulis Mazmur 14 yang membicarakan kedua kelompok orang-orang atheis itu.
Meskipun istilah "atheis" belum dikenal pada masa itu, tetapi sikap dan perilaku atheis rupanya sudah ada sejak dulu kala.
Banyak kali kita temui orang-orang yang begitu tampak saleh dan alim tetapi sebetulnya adalah pembunuh berdarah dingin yang kejam atau predator seksual yang sakit psikis.
Seringkali kita dikejutkan dengan berita di media tentang ada orang yang memutilasi sesamanya secara kejam dan tidak berperikemanusiaan.
Peristiwa mutilasi paling heboh pernah terjadi pada seorang perempuan yang menjadi korbannya. Saya sendiri sempat melihat foto korbannya di koran dan di Facebook.
Bagaimana korban perempuan itu dimutilasi seperti orang menyembelih hewan. Bahkan lebih rendah dari bintang.
Atau pernah terjadi di Jerman seorang perempuan memutilasi setiap laki-laki yang tidur dengan dia dan menyimpannya di kulkas dan merebus atau menggoreng serta memakannya secara perlahan-lahan seolah-olah seperti daging yang dibeli di pasar.
Mungkin para pembaca yang budiman bisa membayangkan atau berimajinasi bagaimana wajah si pelaku?
Bagaimana cara dia memotong tubuh wanita atau para pria itu, dst..dst. Kita akan membayangkan seseorang yang sangat jahat dan tak memiliki hati nurani, mati rasa, bahkan mungkin gila.
Mungkin juga kita membayangkan, orang itu agama apa? Tidak mungkin dia seorang atheis atau orang yang tidak mengakui Tuhan, sebab bukankah di Indonesia atau di Jerman hampir semua orang sudah beragama?
Bahkan dimana-mana ada gereja, masjid dan semua orang begitu sibuk menjalankan ibadahnya?
Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa kejahatan demi kejahatan makin hari makin merjalela? Dan mengapa Allah tidak mencegah atau menghapus kejahatan di dunia ini kalau Dia ada?
Apakah kejahatan itu sendiri bagian dari ciptaan Tuhan sendiri?
Tentu saja Tuhan tidak menciptakan kejahatan dan penderitaan. Semua orang pernah menderita baik ringan maupun berat, dan bahkan menderita sudah menjadi sifat alamiahnya.
Menurut Alkitab bukan Tuhan yang menyebabkannya, tetapi dari pilihannya sendiri yang salah, memberontak kepada Allah melalui pemberontakan nenek moyang kita, misalnya dalam kisah Adam dan Hawa (Kejadian pasal 3).
Jadi, jika kita melihat dari teks Alkitab yang menjadi perenungan ini bahwa kita tidak dapat mempersalahkan atau menghakimi Tuhan atas adanya kejahatan dan pederitaan yang terjadi di dunia ini.
Kejahatan dan penderitaan adalah konsekwensi dari dosa dan pemberontakan manusia yang tergoda dan atau mau bekerjasama dengan setan.
Si Atheis mungkin akan berkata, "Mengapa Tuhan mengizinkan manusia memilih atau memberi kehendak bebas kepada mereka? "
Jawabannya, Tuhan memilih untuk memberikan kebebasan untuk tujuan yang benar kepada manusia, namun mereka membuat pilihan yang salah. Inilah kelihatannya jawaban yang sederhana tetapi benar menurut saya.
Atau mungkin para pembaca mempunyai jawaban lain yang lebih tajir.
Mengapa Tuhan seolah-olah "mengizinkan" manusia melakukan kejahatan? Karena Ia memberikan kepada mereka kehendak bebas untuk melakukan yang baik, yang patut mereka lakukan, dan mereka memilih untuk tidak taat kepada Tuhan.
Jika Tuhan tidak memberi kehendak bebas kepada mereka, maka mereka adalah robot dan bukan manusia yang memiliki kemampuan untuk memilih.
Alkitab menyakini bahwa kejahatan dan penderitaan tidak bersifat permanen. Mereka hanya sementara.
Johs McDowell, seorang penulis dan pembela iman Kristen terkenal, mengatakan bahwa karena kejatuhan manusia ke dalam dosa menyebabkan dunia menjadi kacau balau. Ini bukanlah yang seharusnya terjadi.
Beberapa solusi yang harus diberikan untuk berbagai masalah yang dihadapi manusia ini harus memberikan pertimbangan bahwa dunia tempat kita hidup saat ini tidak normal yang menyebabkan semua itu. (Josh McDowell, A Ready Defense, Thomas Nelson Publishers, 1993, p. 412).
Ya, dunia kita saat ini kacau balau, atau seperti yang dikatakan oleh McDowell, "tidak normal", tidak seperti keadaan semula ketika dunia ini diciptakan Tuhan.
Taman Eden atau Firdaus itu sudah ditutup dan dijaga sejak kejatuhan dalam dosa oleh Adam dan Hawa (lihat Kejadian 3:24).
Tetapi ini bukanlah keseluruhan dari kisahnya. Dunia dengan kualitas yang baru akan datang, yang mana Tuhan akan menjadikan segala sesuatunya menjadi baik.
Penderitaan, kesengsaraan, dan kejahatan akan berakhir (bandingkan Wahyu 21 dan 22).
"Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.
Ia yang duduk di atas tahta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (Wahyu 21:4-5).
Saya tahu bahwa penjelasan ini tidak akan membuat orang Atheis merasa puas.
Ia akan berkata seperti ini: "Tetapi mengapa Tuhan tidak melakukannya sekarang?" Paulus menulis sebagai jawaban dalam Roma 11:33-34:
"O, alangkah dalamnya kekayaan, himat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasehatNya?" (Roma 11:33-34).
Kita tidak dapat sepenuhnya memahami mengapa Tuhan menunggu untuk menjadikan segala sesuatunya menjadi baik, karena Alkitab tidak menyatakan segala sesuatu tentang keputusan, jalan dan tujuan Tuhan.
Saya tahu bahwa ini tidak akan membuat orang Atheis merasa puas dengan jawaban siapakah yang dapat mengetahui isi hati Tuhan.
Tetapi bahwa kita tidak sepenuhnya memahami "pikiran Tuhan" itu sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Untuk pikiran kita terbatas, kebenaran ini tidak dapat dijelaskan.
Kita tidak mungkin memiliki pemahaman yang penuh terhadap motiv dan pikiran orang lain, juga bagaimana kita dapat memahami motiv dan pikiran Tuhan?
Tetapi bahwa karena dosa dan kejahatan manusia Tuhan telah turut menderita itu menjadi isu penting dari pemberitaan teks-teks Alkitab terutama dalam pemikiran Rasul Paulus bahwa kejahatan dan penderitaan telah dialami Tuhan sendiri dalam keadaan sebagai manusia.
Inilah apa yang dimaksud dengan istilah "inkarnasi", yang artinya Tuhan menjadi manusia atau menjadi daging.
"Firman itu menjadi manusia, dan diam di antara kita." (Yohanes 1:14). "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan." (Kolose 2:9).
Dorothy Sayers mengatakan bahwa karena apapun alasannya Tuhan telah menjadi manusia. Ia sendiri mengalami semua yang dialami oleh manusia, dari masalah-masalah kecil dalam keluarga dan pengalaman yang sangat menyakitkan, kesulitan keuangan, penderitaan, kesengsaraan, penghinaan, penolakan dan bahkan kematian.
Ketika Ia dalam keadaanNya sebagai manusia, Ia hidup sebagaimana manusia lainnya. Ia lahir dalam kemiskinan dan mati dalam kekejaman dan Ia telah melewati semua hal yang buruk. (Dorothy Sayers, Creed or Chaos? Harcourt, Brace and Co., 1949, hal. 4).
Allah, di dalam Kristus, pergi ke kayu salib untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Ini menyelesaikan masalah kejahatan dalam perpektif utamanya. Kejahatan dan penderitaa dikalahkan oleh Kristus ketika Ia bangkit dari kematian.
Eksistensi kejahatan dan penderitaan tidak membuktikan bahwa Allah tidak ada. Namun justru membuktikan manusia yang penuh dosa, dan perlunya manusia akan pengampunan dan penebusan dari pihak Tuhan.
Dan Yesus telah datang ke dalam dunia untuk menebus kita manusia yang penuh dengan dosa.
Rasul Paulus berkata, "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa." (I Timotius 1:15).
Alkisah Pendeta Richard Wurmbrand telah bertobat dari pandangan atheisnya pada waktu masih muda. Kemudian ia menghabiskan empat belas tahun siksaan dan penderitaan di penjara komunis karena memberitakan Injil.
Pada tahun 1964 Pendeta Wurmbrand dibebaskan dari pemerintahan Komunis Romania ketika orang-orang Kristen dari Barat menebusnya dengan $10,000 untuk kebebasannya.
Pada Mei 1966 Wurmbrand bersaksi di depan Senat Amerika. Ia membuka kemejanya di depan para senator dan menunjukkan 18 luka siksaan pada tubuhnya. Kisah ini diberitakan surat kabar di seluruh dunia.
Ini sangat mudah bagi seorang professor perguruan tinggi, yang hidup dalam kenyamanan di negeri barat untuk berkata bahwa keberadaan kejahatan membuktikan bahwa Allah tidak ada.
Tetapi banyak orang Kristen yang hidup di bawah komunisme dan sangat menderita demi membela iman mereka, seperti Pendeta Wurmbrand dan perempuan muda itu, tahu bahwa keberadaan kejahatan hanya membuktikan bahwa manusia penuh dosa dan perlu menemukan kasih dan keselamatan dalam Yesus Kristus.
"Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa." (I Timotius 1:15).
Alkisah ada seorang professor yang berdialog dengan anak sekolah Minggu. Si professor mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Tetapi si anak sekolah minggu meyakini dan merasakan bahwa Tuhan itu ada. Si profesor mengatakan bahwa kalau memang Tuhan itu ada coba tunjukkan agar ia dapat melihatnya dengan mata kepala.
Namun si anak mengatakan bahwa ia tidak dapat menunjukan Tuhan, tetapi ia dapat merasakan bahwa Tuhan itu ada.
Si professor mengatakan karena anak itu tidak bisa menghadirkan atau menujukkan Tuhan secara kasat mata, maka secara ilmiah Tuhan itu tidak ada. Namun si anak tidak kehabisan akal.
Anak: "Professor adalah seorang dosen di sebuah universitas yang tentu saja pintar dan memiliki otak. Coba professor tunjukkan otak professor kepada saya".
Professor: "Otak saya ada di kepala saya ini, saya tidak dapat menunjukkannya kepadamu, namun saya merasakannya bahwa ia ada".
Anak: "Maaf professor, karena professor tidak dapat menunjukkan otakmu pada saya, maka saya juga dapat dengan yakin berkata bahwa Anda sama sekali "tidak punya otak".
Sang professor mati kutu karena seakan-akan si anak tersebut berkata: tunjukkan otakmu maka aku tunjukkan Tuhanku juga. Professor:?????!!!!!!!??????
Kesimpulannya bahwa Allah itu ada dan berkuasa. Walaupun orang bodoh mengatakan dalam hatinya tidak ada Allah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dr-messakh-dethan.jpg)