Anda Wajib Tahu, BPJS Kesehatan Tidak Tanggung Biaya Pasien Kanker Usus Sejak 1 Maret 2019
Badan Penyeleggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, sejak 1 Maret 2019 tidak lagi menanggung semua pasien yang mengidap penyakit kanker usus
Kedua, cetuximab yang digunakan untuk pengobatan kanker kolorektal (kanker usus besar).
Untuk jenis obat bevasizumab, dalam keputusan menteri tersebut, sudah tidak masuk dalam formularium nasional obat yang ditanggung BPJS Kesehatan.
"Pada prinsipnya, mengenai obat kanker usus tak lagi ditanggung BPJS, pihak BPJS Kesehatan senantiasa berusaha untuk, comply dengan regulasi yang mengatur program," tandas Iqbal.
Sementara, pada Mei 2018, Guru besar kedokteran UI, Prof Aru Wisaksono Sudoyo, mengatakan jumlah penderita kanker kolorektal (usus besar) sudah mencapai 10% dari semua jenis kanker atau sekitar 1,4 juta orang yang menderita penyakit tersebut.
Diperkirakan, pada 2019, akan terjadi kenaikan angka kejadian kanker yang sangat besar di negara berkembang.
• Penampilan Terbaru Puput Nastiti Devi, Calon Istri Ahok Atau BTP, Bikin Pangling
• Lengkap, isi surat cinta Reino Barack untuk Luna Maya, bikin baper.
• Ramalan Zodiak Selasa 26 Februari 2019, Cancer Banyak Tantangan, Scorpio Jadi Pusat Perhatian
• Tiga Hari Tak Keluar Kamar, PNS Sumba Timur Ditemukan Tewas di Hotel Blue Pacific Jakarta
Penderita penyakit kanker tersebut terus meningkat seiring dengan perubahan lingkungan dan gaya hidup.
Bahkan, di Indonesia, kanker kolorektal sudah bercokol di urutan ketiga kanker yang paling sering menyerang, setelah paru dan payudara.
"Bahaya kanker lebih besar daripada AIDS dan HIV. Angkanya terus bergulir. Terutama kanker kolorektal, yang meningkatnya cukup tinggi," kata Aru.
Aru menjelaskan, kanker ini erat kaitannya dengan kerentanan genetik dan lingkungan. Artinya, gaya hidup sangat memengaruhi keganasan kanker kolorektal.
Bahkan sebagian besar bersifat sporadis dan hanya sebagian kecil bersifat herediter.
"Kejadian kanker ini berubah dengan zaman," ucapnya.
Bahkan kejadian kanker kolorektal di Indonesia semakin meningkat. Di mana lebih dari 30% penderitanya adalah kaum muda yang berada di usia produktif atau di bawah 40 tahun.
"Peningkatan kanker kolorektal karena gaya hidup, terutama kebiasaan makan dan merokok, yang belum berkurang," ujarnya.
Kanker kolorektal bisa dicegah dengan gaya hidup yang sehat.
Kanker menjadi masalah kesehatan terbesar di dunia, khususnya di Indonesia.