Kamis, 14 Mei 2026

Rumah Abu Siang Lay, Warisan Leluhur Tionghoa di Kupang yang Terus Dirawat

Rumah Abu Siang Lay, Warisan Leluhur Tionghoa di Kupang yang Terus Dirawat

Tayang:
Penulis: Lamawuran | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Ambuga Lamawuran
Robi Layantara, penjaga rumah abu Siang Lay. Gambar diambil pada Jumat (1/2/2019). 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Salah satu warisan leluhur Tionghoa dari marga Siang Lay (Siang Lay) di Kota Kupang masih bertahan sampai hari ini.

Rumah Abu Siang Lay, demikianlah orang-orang biasa menyebutnya, terletak di kawasan Lahilai Bissi Kopan, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Dikelilingi pertokoan, Rumah Abu Siang Lay tersebut tampak tua namun masih terawat. Untuk mencapai tempat itu, kita mesti melewati sebuah lorong yang terapit beberapa toko di pinggir jalan.

Kontestan Rising Star Indonesia RCTI asal Kupang, R&D Ramaikan Millenial Road Safety Festival

Jika dihitung dari tanggal dibangunnya yakni tahun 1865, tempat sejarah ini telah berumur 154 tahun. Hitungan tahun ini tentu sebuah masa yang cukup lama untuk membuat sebuah bangunan tetap berdiri kokoh.

Robi Layantara, si penjaga, mengatakan bahwa tempat ini merupakan rumah abu. "Ini rumah abu. Bukan kelenteng yang seperti orang-orang bilang," katanya kepada POS-KUPANG.COM, Jumat (1/2/2019).

Semarak, Millenial Road Safety Festival di Polres Kupang

Dia jelaskan, jelang perayaan Imlek, banyak orang yang berkunjung ke tempat itu. Apalagi sewaktu doa bersama yang dilakukan sehari sebelum Hari Imlek.

"Banyak yang datang waktu sembayang. Tetapi di sini tidak ada perayaan. Karena ini rumah abu. Di sini hanya doa bersama," ujarnya.

Pria itu merinci, doa bersama itu digelar sehari sebelum perayaan Imlek, yakni hari Senin (4/2) pukul 09.00 Wita.

"Pada hari tersebut, kami mendoakan arwah leluhur. Rumah abu ini khusus untuk marga Lay, bukan untuk marga yang lain," jelasnya sambil menambahkan bahwa di rumah abu ini semua nama leluhur marga Lay dipajang.

Robi mengatakan, semua leluhur yang meninggal boleh dikuburkan di pekuburan. Tetapi, nama mereka harus dipajang di tempat tersebut.

"Sehingga suatu saat jika ada anak cucu yang ingat dengan leluhurnya, dia tidak perlu lagi ke pekuburan. Cukup dia ke sini dan berdoa," jelasnya.

Informasi yang diperolah POS-KUPANG.COM lebih lengkap mengenai rumah abu tersebut diperoleh dari Ferry Ngahu, penjaga lain rumah tua tersebut beberapa waktu lalu.

Dari namanya, kata Ferry, Siang Lay berarti Marga Lay. Rumah abu ini awalnya didirikan oleh dua ahli tukang bangunan yang berasal dari Marga Lay, yaitu Lay Foetlin dan Lay Lanfi.

Sejak dibangun tahun 1865, kelenteng ini beberapa kali telah mengalami renovasi. Tahun 1945, karena terjadi peperangan, bangunan ini mengalami kerusakan dan harus direnovasi.

"Perang tahun 1945 membuat bangunan ini rusak. Kerusakannya memang tidak terlalu parah. Hanya dua kuda-kuda yang rusak dan telah diperbaiki. Sengnya pun telah diganti dengan seng yang baru. Namun, secara keseluruhan, bangunan ini masih asli, dari pintu, tiang, dan bagian-bagian lainnya," kata Ferry.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved