Opini Pos Kupang

Sayangilah Para Nelayan NTT

Sebelum datang ke kedutaan, seorang teman Indonesia berseloroh pada saya, Hati-hati dengan ibu Susi

Editor: Dion DB Putra
ROSIANNA SILALAHI
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Vatikan. 

Sementara para nelayan kecil dalam sehari dapat menangkap ikan sebanyak 5-6 kg. Secara empirik persediaan ikan segar untuk kebutuhan masyarakat juga meningkat. Keadaan ini juga dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Dalam diskusi malam itu, saya juga menceritakan pengamatan saya selama liburan hampir dua bulan di Kupang di bulan September dan Oktober 2018, setelah hampir tiga tahun meninggalkan tanah air. Memang ada perubahan. Para nelayan dan penjual ikan di beberapa pasar ikan mengakui bahwa jumlah tangkapan ikan akhir-akhir ini meningkat.

Dukungan Internasional

Effek kejut dan perubahan yang dibawa dari kebijakan ini, menarik perhatian dan mendapat banyak dukungan serta penghargaan internasional. Beberapa di antaranya, misalnya tahun lalu, 11 mei 2017 di Wahington City, Susi Pudjiastuti mendapatkan Peter Benchley Ocean Awards sebagai bentuk penghargaan tertinggi dunia di bidang maritim.

Penghargaan ini diberikan sebagai dukungan untuk melawan illegal fishing dan untuk keselamatan laut dan sustainable fisheries (keberlanjutan ikan), sebagai bagian dari penghormatan terhadap kemanusiaan.

Selain itu sejumlah negara memberi dukungan kepada Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama poros maritim dunia, dalam menggagas "the international declaration on transnational organized crime in the global fishing industry", untuk menyelamatkan dan menjaga laut.

Bentuk penghargaan lain juga diberikan oleh komunitas internasional, yang mengundang Susi Pujiastuti sebagai pembicara pada pelbagai forum internasional yang berbicara tentang persoalan maritim dan lingkungan hidup.

Terakhir ia hadir sebagai pembicara pada 24th session of the conference of the parties (COP24) (konferensi internasional tentang perubahan iklim) di Kota Katowice, Polandia.

Dalam pertemuan ini Susi diminta untuk membagi pengalaman Pemerintah Indonesia menjaga kedaulatan lautnya menghadapi pelbagai bentuk kejahatan perikanan dan bentuk kejahatan transnasional di baliknya yang dilakukan oleh kapal-kapal asing.

Terakhir, tidak kurang pula, bentuk dukungan dan apresiasi ini datang dari Sri Paus Fransiskus, yang sejak awal masa kegembalaannya menunjukkan perhatian pastoralnya yang besar pada isu lingkungan hidup sebagai rumah bersama yang harus dijaga oleh semua orang dengan mengeluarkan ensiklik Laudato Si.

Beliau mengikuti kegigihan perjuangan Menteri Susi melawan illegal fishing serta sejumlah kejahatan kemanusiaan yang tersembunyi di belakangnya. Maka Sri Paus mengundangnya dalam sebuah audiens bersama sejumlah tokoh dunia, pada Rabu, 12 Desember 2018 di Vatikan. Pada kesempatan pertemuan itu Sri Paus menyatakan dukungan morilnya bagi perjuangan yang sudah dilakukan.

Tantangan di dalam Negeri

Berbeda dengan dukungan luar negeri. Ada beberapa pihak dalam negeri malah mengusulkan agar kapal-kapal asing yang tertangkap karena melakukan illegal fishing di perairan Indonesia, tidak perlu ditenggelamkan, tapi bisa diberikan kepada para nelayan.

Menanggapi usulan ini Menteri Susi hanya menegaskan bahwa kebijakan ini tidak terjadi atas kemauan sendiri melainkan eksekusi putusan pengadilan. Secara simbolik tindakan ini menjadi tanda kedaulatan negara. Negara tidak boleh kalah menghadapi kejahatan. Selain itu ada juga pemerintah provinsi yang menginginkan agar kapal asing diizinkan melakukan penangkapan ikan di wilayahnya. Menteri Susi berharap ini tidak terjadi.

Usai obrolan malam itu, beliau ingatkan saya, "Romo, jangan lupa sampaikan ke NTT supaya pemerintah lebih memperhatikan dan memberdayakan nelayan kecil di NTT ketimbang kapal-kapal asing!"

Kedaulatan negara yang berpihak pada nelayan kecil adalah nilai moral di balik kebijakannya selama ini. Tapi kita juga tahu bahwa pelbagai sindikat kejahatan internasional biasanya selalu mencari kaki dan tangan di rumah yang ingin didatangi. Untuk itu saya tuliskan cerita ini. *

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved