Parodi Situasi
Rumah Joni
Joni yang beritanya viral karena melakukan perbuatan heroik. Panjat tiang bendera sampai ke puncak, turunkan ujung tali
Oleh Maria Matildis Banda
POS-KUPANG.COM - Masih ingat Joni? Yohanes Ande Kala, si anak pemanjat tiang bendera di Desa Silawan, Kabupaten Belu? Joni yang diundang Menpora, nonton pembukaan Asian Games, bertemu presiden, dan banyak pejabat di Tanah Air.
Joni yang beritanya viral karena melakukan perbuatan heroik. Panjat tiang bendera sampai ke puncak, turunkan ujung tali yang terlepas sangkutannya dan selamatkan wajah negara. Bendera Merah Putih berkibar di Pantai Silawan.
***
"Ada apa dengan Joni?" tanya Rara yang tidak ikut ke Silawan.
• Intip Ramalan Zodiak, Selasa 18 Desember 2018: Capricorn Perlu Istirahat, Scorpio Perlu Hati-hati
• Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang
• Selain Sempat Terancam Bubar, BTS Pernah Dipetisi Bubar, ARMY Tak Tinggal Diam, Ini yang Dilakukan!
"Seandainya saya jadi Joni!" Jaki tidak menjawab tetapi mengkhayal. "Kapan ya ada kejadian serupa? Kapan ya berita tentang saya membela negara jadi viral? Kapan ya diundang ke Jakarta? Waduh Joni, Joni, nasibmu memang lain daripada yang lain.
Seandainya aku jadi Joni!"
"Memangnya kenapa kalau kamu jadi Joni?" tanya Nona Mia.
"Terkenal tiba-tiba hanya karena perbuatan kecil," Jaki menjentikkan ujung jempol dan ujung telunjuknya.
"Ya, perbuatan kecil yang besar maknanya! Sangat besar," sambung Nona Mia dengan rasa bangga yang tidak dapat disembunyikan. "Joni pun tidak pernah berpikir bahwa apa yang dilakukannya itu akan menjadikannya begitu terkenal. Makna dari perbuatan sangat luar biasa. Berkaitan dengan simbol negara. Bendera Merah Putih harus tetap berkibar di Silawan, bagian lain yang kecil dari wilayah timur Indonesia."
"Joni memang pantas diberi perhatian khusus!" sambung Benza.
***
"Memang ada apa dengan Joni?" tanya Rara lagi.
"Dapat rumah baru!" jawab Jaki.
"Sudah mulai dibangun," jawab Nona Mia.
"Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah jadi!" Benza juga bicara. "Rumah Joni jadi salah satu tanda pembelaan yang tidak diucapkan seorang anak kecil tentang pentingnya Merah Putih tetap berkibar. Simbol negara yang tetap dan harus ditegakkan. Bendera Merah Putih itu simbol NKRI. Berkibarlah benderaku!" Benza pun menyanyi diikuti ketiga temannya.
"Lambang suci gagah perwira. Di seluruh pantai Indonesia. Kau tetap pujaan bangsa. Siapa berani menurunkan engkau. Serentak rakyatmu membela. Sang Merah Putih yang perwira. Berkibarlah selama-lamanya."
"Rumah Joni dibangun di mana?" tanya Rara lagi.
"Di rumahnya yang dulu," jawab Jaki.
"Rumah itu akan dibangun. Rumah itu akan menjadi rumah yang sangat istimewa karena penampilannya berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya. Rumah itu akan melambung sendiri di tengah desa yang tampak kering kerontang pada musim panas ini. Rumah itu akan menjadi rumah yang mencolok mata."
"Waduh! Apakah cocok untuk Joni?" tanya Jaki.
"Apakah aman untuk Joni?" sambung Rara.
***
"Tentu semua kita harap semoga rumah itu aman buat Joni dan keluarganya," Benza yang menjawab. Selanjutnya dijelaskan Benza bahwa dua hari lalu, Penjabat Gubernur NTT melakukan peletakan batu pertama, rumah untuk Joni dan orangtuanya. Rumah terletak di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu.
"Saya juga mau minta Gubernur!" kata Rara. "Letak batu pertama rumah saya. Bagaimana pun saya juga bela negara. Lihat saja saya upayakan air minum, saya bangun sumur, saya buat embung, saya sosialisasikan kesehatan lingkungan, saya ajar penggunaan jamban sehat, saya basmi malaria, saya buat semua. Bukankah saya ini sudah bela negara?"
"Kapan semuanya kamu lakukan dan wujudkan?"
"Nanti besok atau lusa!" jawab Rara.
"Jadi kamu harap Gubernur letak batu pertama untuk kamu yang tidak pernah buat apa-apa untuk negara?"
"Tentu saja! Biar viral! Demi nama baik NTT," Rara berapi-api.
"Kamu mimpi ya?"
"Dari pada tidak pernah mimpi?"
***
Yang pasti rumah Joni sudah mulai berdiri. Janji-janji untuk Joni satu demi satu ditepati. Inspirasi yang diberikan Joni tentang bela negara -- yang tidak pernah dipikirkan Joni-- semoga memberi warna merah putih yang tegas bagi kita semua.
Bela negaramu sepanjang waktu. Jangan tunggu besok. Rumah untuk Joni hanya sebagian kecil dari rasa terima kasih negara untuk harga diri bangsa yang mesti ditegakkan. Apapun yang terjadi. (*)
* Parodi Situasi adalah kolom Maria Matildis Banda yang terbit pada setiap edisi Minggu Pos Kupang cetak. Penulis mengungkap fakta sosial dengan gaya parodi yang menyentil reflektif .
* Maria Matildis Banda adalah sastrawan asal Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang tergolong produktif. Dia sudah menghasilkan banyak karya cerpen, cerbung dan novel. Sehari-hari Maria merupakan staf pengajar pada Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, Bali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/joni-kala-sepeda-presiden_20180907_171130.jpg)