Berita Ekonomi Bisnis
Ini Alasan Wacana Tarif Masuk Komodo 500 Dolar AS Untuk Wisman
Penetapan tarif masuk 500 dolar AS merupakan pesan gubernur kepada Indonesia dan dunia bahwa sesuatu yang luar biasa
Penulis: Hermina Pello | Editor: Hermina Pello
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Adiana Ahmad
POS-KUPANG.COM | KUPANG- Kepala Dinas Pariwisata NTT, Marius A Jelamu dalam mengatakan, tarif masuk TNK yang diwacanakan Gubernur NTT dengan besarnya tarif 500 dolar Amerika Serikat (AS) untuk wisatawan asing dan 100 dolar AS untuk wisatawan lokal merupakan pesan gubernur tidak hanya kepada masyarakat tapi Indonesia dan dunia bahwa sesuatu yang luar biasa harus diapresiasi secara luar biasa juga.
"Nihiwatu saja Rp 120 juta per malam. Tidak masalah. Mengapa ke Komodo hanya 500 dolar AS atau Rp 7 juta lebih saja orang rebut. Di luar negeri, tarif masuk ke tempat-tempat wisata sangat mahal. Lihat gajah Afrika saja harus bayar 750 dolar AS," kata Marius saat pembukaan Musyawarah Daerah (MUsda) IV ASITA NTT di Swiss-Belinn Hotel Kristal Kupang, Senin (10/12/2018)
• Anggota ASITA Minta Diskusikan Lagi Wacana Tarif Masuk Komodo
• Sejumlah Komponen di Labuan Bajo Menolak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
Namun ia mengakui, tarif ini masih harus didiskusikan dengan pemerintah pusat.
"Penetapan tarif yang dinilai tinggi tersebut merupakan pesan gubernur tidak hanya kepada masyarakat tapi Indonesia dan dunia bahwa sesuatu yang luar biasa harus diapresiasi secara luar biasa juga. Nihiwatu saja Rp 120 juta per malam. Tidak masalah. Mengapa ke Komodo hanya 500 dolar AS atau Rp 7 juta lebih saja orang rebut. Di luar negeri, tarif masuk ke tempat-tempat wisata sangat mahal. Lihat gajah Afrika saja harus bayar 750 dolar AS," katanya.
Ia mengatakan, TNK sejak tahun 1980-an sudah diakui UNESCO sebagai warisan alam yang berkualitas dan perlu dilindungi. Pada tahun 2014, komodo ditunjuk sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
"Tidak sekadar keindahan, TNK bisa menjadi tempat belajar. Para ilmuwan, bisa meneliti kehidupan manusia ribuan tahun lalu melalui keberadaan Komodo," katanya. (*)