Opini Pos Kupang
Politik dan Manajemen Risiko
Risiko adalah sama dengan ketidakpastian (uncertainty) akan terjadinya suatu kejadian yang (dapat) menimbulkan masalah
Oleh Isidorus Lilijawa
Warga Kota Kupang
POS-KUANG.COM - Pemilu legislatif yang serentak dengan Pemilu Presiden akan dilaksanakana pada 17 April 2019 mendatang. Semua caleg mempunyai peluang yang sama untuk menang dan untuk kalah.
Namun dalam realitas politik, hanya ada segelintir orang yang mendapatkan peluang (baca: menang) dari begitu banyak orang yang kehilangan peluang (baca: gagal).
Tidak heran jika politik selalu mengalir seperti simfoni merdu yang menyenangkan hati. Tapi jangan lupa juga bahwa politik kadang menyengat seperti berjemur di gurun, pedas menusuk rasa bagai teriris sembilu. Irama politik adalah perkawinan antara komedi dan tragedi, tawa ria dan tangis.
Sejak zaman Yunani politik dipahami sebagai "Ta Politika", yang berarti hal-hal atau urusan yang berkaitan dengan polis (negara kota). Pada masa itu kata "politike" senantiasa disanding dengan kata "techne", yang berarti teknik atau seni. Arti semacam ini selalu dimengerti sebagai kepandaian, seni, dan teknik mengelola kehidupan bersama dalam masyarakat atau kelompok.
• Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang
• 5 Zodiak Cewek ini Dikenal Paling Susah Ditaklukan Hatinya, Zodiak Kamu Ada?
• Evakuasi Jenazah Serda Handoko di Nduga Papua, Helikopter TNI Ditembak
Ia merupakan seni mengelola suatu kemungkinan menjadi efektif, posibilitas menjadi realitas. Menurut Otto von Bismarc, politik bukanlah suatu pengetahuan atau teori. Politik merupakan kepandaian membuat pilihan dan memenangkan suatu pilihan dari begitu banyak kemungkinan untuk mencapai suatu perjuangan.
Manajemen Risiko
Membicarakan risiko politik adalah hal yang sangat penting sebelum seseorang terjun dalam arena politik.
Risiko politik melahirkan dua hal: pemenang atau pecundang; sukses atau gagal; meraih peluang atau kehilangan peluang; diterima atau ditolak; didukung atau dikhianati. Dan siapapun yang terjun ke dunia politik mesti bisa menerima risiko-risiko ini.
Kita mungkin masih ingat ketika sebelum Pemilu legislatif, di berbagai rumah sakit sudah disiapkan bangsal kejiwaan bagi para caleg yang mungkin saja stres dan berisiko terganggu pikirannya pasca pemilu.
Kelihatannya sederhana, tetapi mengguratkan arti yang dalam bahwa pesta politik Pemilu legislatif tidak selalu berakhir dengan kegembiraan dan sukacita melainkan juga ketidakberuntungan dan kekecewaan yang berujung pada rasa sakit secara fisik maupun psikis.
Melihat begitu tingginya risiko yang timbul dalam sebuah proses politik, hemat saya setiap orang yang mau menjejaki jalan politik kekuasaan harus memahami manajemen risiko (risk management).
Risiko adalah sama dengan ketidakpastian (uncertainty) akan terjadinya suatu kejadian yang (dapat) menimbulkan masalah, dan peluang bagi organisasi perusahaan, pemerintah, dan perorangan dalam kehidupan sehari-hari. Para birokrat, eksekutif, industrialis, karyawan, investor, mahasiswa, rumah tangga, para pelancong, nelayan, dan petani, siapa saja selalu berhadapan dengan berbagai jenis risiko.
Suka dan atau tidak suka, kita harus menggaulinya. Kadang-kadang risiko dianalisis, dan dikelola secara sadar, akan tetapi kadang-kadang diabaikan, dan tidak menyadari akibatnya.
Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumber daya.