Berita Cerpen
Cerpen Erwin Pitang: Menunggu Hadirnya Maaf
"Imanmu tak sebesar biji sesawi dan cintamu sebesar lukisan senja, maka pergilah dari hadapan bunda dan jadikanlah cintamu abadi."
Penulis: PosKupang | Editor: Apolonia Matilde
Kataku sambil mendekati bunda yang berdiri membelakangiku di pojok gubuk tua itu.
"Janji itu kehidupan, Nak. Kamu hadir karena janji. Janji setia yang bunda dan ayah semayamkan pada bahtera cinta yang tak pernah tenggelam dalam samudera ketakutan. Namun jangan jadikan janji sebagai sebuah ketakutan karena dia tak pernah mengancam andaikan kita jujur padanya." Kata bunda sambil menatapku dengan mata waspada.
"Sebelum aku memilih tuk berladang di kebun Tuhan, aku telah bersumpah darah dengan gadis dara yang kukenal di ujung usiaku yang sedang mekar. Setiap malam pada dinding hati yang tenang ini ada tangisan bergetar, mengusik, melantunkan rindu akan kepulanganku. Aku merasakan deraian air matanya jatuh bertalu mendesakku tuk bisa memungut setiap pecahan air matanya itu dan pergi menyerahkannya pada sebuah pelukan. Bahkan ketika detak jantungnya berdegup kencang memanggil namaku, ada badai rindu yang dasyat merobohkan kemapanan jiwaku. Pada malam yang terlambat hadirkan bintang, doaku menggema ke peraduan Tuhan. Aku memohon agar Tuhan bisa membiarkan aku kembali, karena Tuhan tak ingin kehadiranku di depan matanya sekedar mengisi ruang yang kosong. Semua karena rasa cinta yang hadir pada saat itu membuat rasaku untuk tidak menyakitinya semakin membuih dan aku melakukan itu karena aku tak ingin kebahagiaanku adalah duka bagi dia. Sumpah darah yang kami lakukan adalah kesetiaan untuk memiliki. Aku yakin Tuhan pun tidak akan cemburu karena Dia mengijinkanku pergi membawa serta cinta dengan status kekal untuk kumeteraikan pada ambang hati yang sedang terbuka untukku."
Baca: Tiga Minggu Air Tidak Keluar! Hal Ini Dilakukan Warga Wae Lengga-Manggarai Timur
Sebait kata yang kulantunkan kepada bunda adalah usaha terbaikku untuk berkata jujur, bahwa cinta dan kekuatan janjilah yang telah membuatku gagal menjadi bintang sekaligus kejora bagi harapan yang bunda semai dalam ladang hati kecilnya.
Aku berharap kata-kataku bisa menjadi embun sejuk penyembuh luka hati bunda, agar bunda bisa menerima keyataan ini dengan ikhlas.
"Nak, imanmu terlalu kecil. Andaikan imanmu sebesar biji sesawi, kau bisa memindahkan gadis itu ke dalam doamu dan biarkanlah dia berbahagia dibalik lipatan jubahmu yang suci."
"Aku ada karena janji dan karena janji itu pula aku kembali hadir kedua kalinya untuk bunda. Aku kembali kepada bunda bukan karena aku melarat di ladang Tuhan, bukan pula tak ada anggur yang tak bisa kupetik dan kuteguk, rasanya juga bukan karena aksara doa bunda cacat sehingga tak sampai ke peraduan Sang Khalik, tetapi karena kekuatan janji itu bunda. Janji yang kata bunda adalah kehidupan itu. Aku ingin kehidupan itu tumbuh dan mekar di dalam cinta dan kesetiaan kami."
"Imanmu tak sebesar biji sesawi dan cintamu sebesar lukisan senja, maka pergilah dari hadapan bunda dan jadikanlah cintamu abadi. Arungilah kehidupanmu dan janganlah memikirkan kehidupan bunda. Cinta bunda kepadamu adalah kebencian yang menunggu hadirnya kata maaf dalam kehidupan bunda. Andaikan kehadiran kata maaf muncul dalam waktu dekat, mungkin kau bisa memeluk bunda lagi, tetapi kalau kata maaf tak pernah hadir dalam kehidupan bunda kau boleh kembali saat usia bunda sedang tersisa satu hembusan." Kata bunda sembari meninggalkan aku bersama heningnya gubuk tua di malam itu.
Baca: Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Arti dan Maknanya
Kutatap langkah bunda dengan sepasang mata bimbang. Kulihat gubuk tua ini lagi tak sekadar gubuk tetapi film pendek dengan pemeran kedua yang telah tiada.
Semoga bunda tak sekejam ini. Dalam keheningan malam itu aku berseru entah kepada siapa suaraku akan berlabuh dan dalam hati kecil yang sedang berdarah kutujukan seutas kata," Tuhan, ini aku. Aku menanti setetas anggur merembes jatuh pada cawan-Mu." (Erwin Pitang, tinggal di Vocationary)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/cerpen-menunggu-hadirnya-maaf.jpg)