Berita Kota Kupang

Gubernur NTT Viktor Laiskodat Doyan Kue Kelor Buatan Wanita Cantik Ini. Mengapa?

Pertemuan dengan Gubernur Viktor Laiskodat tidak sengaja. Awalnya, ada kegiatan launching Cafe Juragan Kelor

Penulis: Apolonia M Dhiu | Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/AMBUGA LAMAWURAN
Mathilda Masaubat 

Sedangkan minuman, antara lain es dawet kelor, es puding kelor, jus kelor, dan ice crime kelor. Dia juga membuat kue-kue berbahan kelor, baik kue basah maupun kue kering.

"Ini tantangan bagi saya untuk memasarkan kelor di NTT. Kelor memiliki manfaat yang luar biasa sebagai makanan tambahan. Saya sudah membuka menu makanan berbasis kelor sebanyak 20-an menu makanan, jamu dan jus," katanya.

Menurut Sri, saat ini dirinya juga menyiapkan bubuk kelor. Namun, saat ini masih kesulitan mendapatkanya kelor karena tidak memiliki kebun sendiri.

"Saya masih mencari di pasar atau memesannya dari petani yang saya kenal. Ketersediaanya saat ini sangat susah untuk mendapatkanya. Di pasar hanya satu dua orang yang menjual. Bubuk kelor saya buat sendiri dan banyak yang memesan, saya jual satu bungkus dengan ukuran 1 ons sebesar Rp 20.000. Karena tidak semua orang tahu cara membuat bubuk kelor mulai dari cara pengeringan maupun pengemasan. Bubuk kelor multi fungsi, bisa buat tehh, kue, mie, ice crime, dan sebagainya.

Banyak peminat kelor terutama me goreng kelor, mie ayam kelor dan pepes kelor.
Ke depan, saya siap menampung daun kelor, silakan petani menjualnya," katanya.
Petani kelor di RT 25 RW 8, Kelurahan Fatukoa, A Karim, saat ditemui di kebunya, Kamis (1/11/2018), mengharapkan jaminan pasar untuk komoditas daun dan biji kelor miliknya.

Karim yang juga ketua Kelompok Tani Usaha Bersama yang telah membudidayakan tanaman kelor, mengaku awalnya ia memiliki 24 pekerja dan 6 hektar lahan yang menjadi kebun kelor. Tetapi karena tidak ada kepastian pembeli daun dan biji kelor, ia mengalihfungsikan 2 hektar lahannya untuk menanam komoditas lain serta para pekerjanya pun pulang kampung.

Karim yang juga menyediakan bibit kelor pada akhir tahun lalu mengalami kerugian karena sekitar 200 kg biji kelor siap panen miliknya tidak ada yang beli.

Ia mengaku, harga biji kelor di pasar saat ini sangat rendah. Per kilogram biji kelor dibeli dengan harga Rp 30 ribu. Padahal menurutnya harga ideal biji kelor berkisar Rp 60 sampai Rp 75 ribu. Dia berharap, gencarnya kampanye dan promosi terkait kelor oleh pemerinah mesti disertai jaminan pembeli.

"Kalau kita panen dan tidak ada pembeli kan kasihan kami petani kelor," keluhnya.
Dengan bantuan pemerintah, lanjut Karim, ia optimis tanaman kelor akan dibudidayakan masyarakat NTT. "Saya yakin banyak petani yang beralih menanam kelor karena penanaman dan perawatannya tidak begitu susah," katanya. (nia/jj/ii)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved