Opini Pos Kupang
Guru yang 'Tak Nyambung'
Teknologi informasi menghadirkan semuanya sebagai kenyataan yang mencengangkan. Lingkup sosial lalu menjadi penyaji
Keterampilan Utama
Kevakuman salah satu dari tiga komponen di atas menyebabkan pendidikan menjadi momok. Murid merasa guru tidak menjawabi kebutuhan mereka. Di sana terjadi diskonektivitas yang menyebabkan kegelisahan.
Untuk dapat keluar dari kemelut dan menjadikan guru lebih `nyambung', maka dibutuhkan empat hal yang menjadi kecakapan yang dibutuhkan abad 21. Pertama, perlu menanamkan daya kritis.
Aneka invasi informasi mestinya diimbangi dengan sikap kritis guru. Ia mampu memberikan kerangka berpikir kepada siswa agar kini apalagi kelak, mereka sanggup mengkritisi aneka informasi.
Dalam kenyataan, kerap guru begitu terlibat dalam aneka gosip. Ia bukannya mencerdaskan masyarakat, tetapi terlibat dalam berita hoaks dengan sumber berita yang dipertanyakan.
Ruang guru bukan dipenuhi persaingan dalam prestasi akademik tetapi pada informasi murahan yang diterima begitu saja tanpa seleksi. Semestinya guru selalu menganalisis masalah secara matang, meneropong dari berbagai sudut dan memberikan jalan keluar sebagai pencerahan dan solusi.
Kedua, butuh keterampilan komunikasi. Guru hebat tidak saja mengetahui banyak hal tetapi mampu menjembatani komunikasi dengan para murid. Ia mengevaluasi aneka `feed back' siswa demi memperbaiki lagi agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
Komunikasi dalam pendidikan dipahami secara sederhana sebagai penemuan metode pengajaran yang tepat sasar. Metode yang ditemukan dari hasil pergulatan guru dengan siswa dan bukan sekadar beberapa `metode' yang diperoleh dari hasil `pelatihan'.
Di sini tugas yang diharapkan dari para `pengawas' sekolah. Mereka bukan berkutat pada hal administratif tetapi lebih jauh menguggah daya kreativitas dan inovasi.
Ketiga, butuh kolaborasi. Pendidikan tidak bisa dipahami sebagai aksi monopoli guru. Perkembangan teknologi telah menghadirkan kesadaran bahwa tidak ada lagi orang yang hanya mengajar dan yang lain hanya secara pasif menerima.
Kemudahan teknologi telah menyadarkan bahwa di era teknologi seperti ini, semua mengajar semua. Di sana peran guru dan murid bisa berubah segera peran karena yang sebelumnya disapa murid bisa saja menjadi guru oleh kelebihan yang justru ia peroleh di luar ruang kelas.
Kolaborasi juga dipahami dengan pelibatan banyak tokoh profesional untuk bisa `masuk kelas'. Mereka tidak saja hadir mensharingkan informasi tetapi membangkitkan motivasi. Hal itu kemudian didukung dengan aneka kunjungan belajar ke tempat kerja yang membuat siswa sadar akan pembelajaran di sekolah dan kebutuhan riil di lapangan.
Pada akhirnya pengajaran disebut sukses ketika diukur dari kreativitas yang dihasilkan. Siswa yang sanggup berkomunikasi, berkolaborasi, dan menghadirkan diri sebagai pribadi kritis, adalah produk kreatif yang bisa membuktikan kesuksesan dalam pengajaran.
Produk dalam bentuk tulisan, karya tangan yang bisa dilihat, maupun keterampilan komunikatif untuk menjelaskan proses yang telah dilewati, merupakan bukti bahwa apa yang diajarkan, `nyambung' dengan realitas di lapangan.
Pada tataran ini, pendidikan menjadi jawaban dan kian digandrungi siswa dalam proses belajar-mengajar. Sebaliknya, ketika guru masih terus berkutat pada konsep usang, jauh dari penguasaan konsep pengajaran dan minim pembekalan pengetahuan secara kritis, maka penurunan kualitas siswa kini dan masyarakat nanti akan menjadi taruhan.
Kita tentu tidak mengaharapkan hal itu. Karenanya, kita terus mengupayakan agar pendidikan tepat sadar oleh karena guru yang selalu `nyambung' dengan kebutuhan. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/guru_20181015_100536.jpg)