Opini Pos Kupang

Guru yang 'Tak Nyambung'

Teknologi informasi menghadirkan semuanya sebagai kenyataan yang mencengangkan. Lingkup sosial lalu menjadi penyaji

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi 

Oleh Robert Bala
Penulis buku Menjadi Guru Hebat Zaman Now, Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia, 2018.

POS-KUPANG.COM - Kemajuan teknologi yang begitu pesat merupakan fakta yang nyaris disangkali. Lebih lagi, kemajuan yang di era sebelumnya lebih terpisah, kini nyaris hadir secara bersamaan.

Teknologi informasi menghadirkan semuanya sebagai kenyataan yang mencengangkan. Lingkup sosial lalu menjadi penyaji informasi sekaligus menawarkan aneka alternatif kerap menarik.

Apakah proses itu juga terjadi dalam pendidikan? Apakah guru sanggup menengahi realitas sosial dan pembelajaran dalam kelas? Apakah hal yang diajarkan `nyambung' dengan kebutuhan nyata?

Evaluasi Diri

Apabila konsep pendidikan `disederhanakan' dalam tiga pokok pikiran, maka bisa dirangkum dalam pemahaman konsep, metodologi pengajaran, dan evaluasi. Guru zaman now mestinya terus memantaskan diri lewat pemahaman konsep.

Baca: Kamu Mau Diet? Yuk Intip Cara Diet Terbaik Berdasarkan Zodiak Biar Gak Gagal

Baca: Penggemar Drama Korea, Intip 10 Drakor Yang Bakal Tayang Bulan Oktober 2018

Baca: Artis Game of Thrones Maisie Williams Bela-Belain Nonton Konser BTS Di London, Army Heboh

Baca: OTT di Bekasi, KPK Sita Rp 1 Miliar dalam Bentuk Dollar Singapura

Kesadaran membekali diri melalui bacaan (yang dikenal dengan literasi) mestinya bukan hal eksternal. Guru selalu haus untuk menyegarkan diri dengan bacaan. Ia terus menghidupkan otaknya dengan informasi yang membuat konsep pembelajarannya selalu baru.

Konsep yang ada merupakan rangkuman akan inti pembelajaran (standar kompetensi) dan perkembangan yang terjadi. Setelahnya, konsep ini yang `ditawarkan' melalui metode pengajaran yang mengena.

Disebut mengena karena metode terbaik dalam mengajar adalah sebuah jawaban atas kebutuhan siswa. Sebuah metode disebut tepat ketika sesuai dengan kebutuhan siswa. Bila metode mengajar diibaratkan dengan memancing ikan maka umpan yang diberikan harus disukai oleh ikan bukan yang digandrungi sang pemancing.

Pada akhirnya pencapaian siswa menjadi evaluasi atas konsep dan metodologi. Hasil yang dicapai (apakah sedikit, setengah, atau sebagian besar malah keberhasilan semua menjadi ukuran apakah konsep itu telah diterapkan secara tepat dalam metode mengajar yang mengena).

Proses evaluasi ini akan terus diupayakan karena guru yang refleksif akan terus mengamati, mengevaluasi, dan menghasilkan karya-karya baru. Selain itu, sebuah evaluasi akan tampak juga melalui karya refleksif dalam bentuk tulisan.

Guru menghasilkan karya sederhana yang ada dalam jangkauannya. Ia menghasilkan metode baru, alat peraga tepat guna yang bukan saja murah tetapi lahir dari penemuan sederhana.

Proses evaluasi yang berimbas positif kerap jauh dari harapan. Tidak sedikit pelatihan dilakukan dengan ilmu yang begitu mengagumkan dan metode penelitian yang tak jarang rumit.

Sayangnya, apa yang diberikan kerap dilakukan secara deduktif. Aneka teori dari atas coba `dipaksakan' ke bawah. Akibatnya, guru merasa apa yang diberikan terlampau jauh dari harapan.

Tak heran, banyak guru akhirnya menyerah dan `parkir' saja di golongan IVA karena merasa melompat ke jenjang berikut hanya ilusi. Atau kalau terpaksa, cara pintas dengan meminta orang lain `memfasilitasinya'.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved