Selasa, 16 Juni 2026

Berita Kabupaten Kupang

Jalan Sengsara Menuju Amfoang, Jarak 181 Km Menghabiskan Waktu Berjam- jam

Kondisi ini dialami Pos Kupang dari Kota Kupang menuju Desa Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur

Tayang:
Penulis: Hermina Pello | Editor: Dion DB Putra
ISTIMEWA
Warga mendorong mobil yang terjebak dalam banjir di Amfoang 

Warga Netemnanu Utara, Birgita Efi dan Yohanes Parera mengatakan akses transportasi ke Oepoli sangat sulit. "Kalau dengan bus, kami jalan jam 8 pagi maka tiba di Kota Kupang Kupang sekitar jam 9 malam atau 10 malam," kata Brigita.

Menurutnya, biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp 100 ribu per penumpang, belum lagi ditambah dengan barang. "Kalau musim hujan, jalan melalui pantai tidak bisa dilewati karena banjir. Kami memang biasanya lewat Eban-TTU karena waktunya lebih cepat," ujar Birgita.

Warga lainya, Yohanes mengatakan, untuk ke kantor Bupati Kupang saja membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar. Bukan hanya jalur pantai yang rusak tapi jalan dari Naikliu-Lelogama juga rusak. Apalagi dari arah Naikliu harus mendaki. Batu-batu lepas yang berada di badan jalan membuat kendaraan juga harus ekstra hati-hati.

Supervisor yang membawahi PLN Sub Unit Naikliu, Lelogama dan Oepoli, Hengky Funay mengungkapkan pada musim hujan sulit untuk bepergian, bahkan untuk ke desa tetangga saja sulit karena ada banjir. "Kami harus tunggu sampai banjir selesai baru bisa jalan," katanya.

Warga Desa Nuataus, Eloriana dari Desa Nuataus mengungkapkan, pada musim hujan mereka kesulitan untuk mendapatkan transportasi. "Kalau pun harus jalan, terpaksa kami harus tunggu sampai banjir di kali berkurang baru bisa jalan. Bisa tunggu sampai dua tiga jam. Itu baru satu kali. Padahal ada banyak kali cukup lebar yang harus dilalui. Jadi kalau mau jalan ke Kupang saat musim hujan maka maka harus siap makan, karena tidak tahu jam berapa bisa sampai Kupang," ungkapnya.

Dia menambahkan, kesulitan lainnya adalah anak-anak yang ke sekolah terutama untuk SMA, terpaksa harus menyeberang kali yang sedang banjir.

Seorang petani, Yohanes mengungkapkan tingginya biaya transportasi membuat masyarakat tidak bisa menjual hasil pertanian mereka ke Kupang. "Bukan hanya mahal, tapi juga butuh waktu lama. Sampai di Kupang, hasil pertanian sudah rusak, jadi apa yang mau dipasarkan di sana. Biasanya kami jual di sekitar sini saja, di pasar- pasar desa," ujarnya.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan warga juga sulit misanya semen. Saat ini harga semen per zak Rp 60 ribu tapi kalau musim hujan maka harganya bisa sampai Rp 75 ribu per zak. Mengenai bahan bakar minyak (BBM), khususnya bensin, bisa dibeli secara eceran dengan harga Rp 10 ribu per botol. "Kalau bensin harganya Rp 10 ribu per botol. Ya kami anggap saja satu botol satu liter," kata Brigita Efi.

Hal yang sama diungkapkan Tom Kameo bahwa masyarakat di Oepoli dan Amfoang pada umumnya sulit untuk membawa hasil ke luar Amfoang karena susahnya transportasi.

105 Km Belum Diaspal

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kupang, Joni Nomseo mengatakan, ruas jalan nasional untuk lintasan poros tengah yang menghubungkan wilayah Amfoang, panjangnya mencapai 149 Km. Sementara total kali dengan lebar rata-rata 8 meter jumlahnya mencapai 38 unit yang selama ini belum dibuatkan jembatan.

"Dari total panjang jalan tersebut baru diaspal mencapai 44 km," kata Joni Nomseo, Senin (8/10/2018).

Joni Nomseo yang juga Pelaksana tugas (Plt) Sekda Kabupaten Kupang menjelaskan, ruas jalan poros tengah di daerah ini khusus menghubungkan daerah Amfoang merupakan tanggung jawab Balai Jalan Nasional. Dari data yang dimilikinya, lanjutnya, panjang jalan nasional itu mencapai 149 kilometer dan sampai tahun 2018 ini yang sudah diaspal baru 44 kilometer atau masih 105 kilometer kondisinya rusak parah.

Saat ini, kata Joni, sesuai informasi yang diperolehnya, sekitar 7 kilometer telah proses tender untuk diaspal. "Cuma perusahaan mana yang kerja, berapa total dananya dan titik mana yang diaspal, itu ada datanya di Balai Jalan Nasional. Kami sendiri tidak mengetahui secara jelas," kata Joni.

Dikatakannya, persoalan utama yang dihadapi warga Amfoang setiap tahun adalah masalah infrastruktur jalan. Padahal poros tengah sangat stategis untuk akses ke wilayah perbatasan. Untuk itu, diharapkan pemerintah pusat bisa melihat kondisi ini dan bisa diaspal. Warga Amfoang sangat merindukan jalan beraspal sehingga setiap tahun mereka tidak lagi kesulitan jika bepergian ke Kupang.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
VS
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved