Opini Pos Kupang

Ulasan Menarik Guru Besar Undana untuk Gubernur NTT yang Baru

Energi baru yang merupakan gebrakan baru itu antara lain para peladang tidak membakar ladang, ajak TKI

Editor: Dion DB Putra
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat (kiri) bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi (kanan) melakukan salam komando seusai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/9/2018). 

Oleh: I Gusti Bagus Arjana
Guru Besar Undana, Ketua Koalisi Kependudukan Provinsi NTT

POS-KUPANG.COM - Ada sejumlah Gubernur dan Wakil Gubernur dilantik di Istana Negara pada Rabu 5 September 2018 oleh Presiden Joko Widodo, termasuk Gubernur NTT, Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat dan Bapak Josef Nae Soi.

Ada sejumlah program baru yang disampaikan yang sudah tentu merupakan energi baru untuk membangun bumi Flobamora tercinta.

Baca: Ramalan Zodiak Malam Hari Ini, Rabu 12 September, Virgo Hubunganmu Terlihat Menjanjikan, Nikmati!

Energi baru yang merupakan gebrakan baru itu antara lain para peladang tidak membakar ladang, ajak TKI (Tenaga Kerja Indonesia) pulang, pembangunan pariwisata dan denda bagi pembuang sampah sembarangan. Ada banyak gebrakan lain tentu, tetapi empat program itulah menarik didiskusikan di sini.

Tidak membakar ladang

Penulis sebagai akademisi pada program studi Pendidikan Geografi (S1) Ilmu Lingkungan, Pendidikan IPS (S)2 sejak lama memang tidak setuju dengan budaya bakar. Mengapa? Bumi hanya satu, Penduduk Bumi Kian Padat, Bumi Kian Ringkih, Penduduk Kian Galau, Mari! Sayangi Bumi, Lestarikan Lingkungan.

Tradisi membakar di ladang atau di kebun pada akhirnya akan merusak lingkungan menghancurkan habitat makhluk hidup, hilangnya keseimbangan ekosistem.

Ancaman hama belalang di Pulau Sumba dan sesekali muncul di Pulau Timor, ancaman kurang pangan, merupakan bukti telah terjadi ecological backlash (bumerang ekologi).

Baca: BERITA POPULER: Harga BBM Naik, BTS Ditolak di Negaranya & Calon Istri Ahok Penggemar Drakor

Ekosistem, lingkungan yang dirusak oleh perilaku buruk manusia, tinggal menunggu waktu akan timbul masalah lingkungan yang lebih fatal sehingga mengancam kehidupan manusia itu sendiri, seperti kekeringan dan rawan pangan.

Ladang dibakar secara berkelanjutan mengakibatkan berbagai organisme yang hidup dalam habitat itu berpotensi punah, hilang, migrasi ke habitat baru di pulau lain. Untuk itu program ini tentu harus didukung oleh semua pemangku kepentingan sehingga masyarakat petani khususnya peladang akan lebih bijaksana mengelola ladangnya.

Teknologi ramah lingkungan berbiaya murah, dapat diterapkan termasuk pemanfaatan sabit atau arit, sebagai alat pemotong rumput, cangkul membalik tanah serta memanfaatkan sampah-sampah di kebun sebagai pupuk organik.

Ajak TKI pulang

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dikenal juga sebagai buruh migran telah lama berkembang di NTT dengan negara tujuan terutama Malaysia, Singapura, Hongkong dll. Di satu sisi TKI mendatangkan devisa, namun di sisi lain mendatangkan musibah dan keprihatinan.

Baca: BTS Rilis Teaser Bon Voyage Season 3, Fans Heboh Lihat Part ini, Bukti Jungkook BTS Sudah Dewasa!

Beberapa tahun terakhir NTT dikategorikan darurat human trafficking, korban perdagangan manusia, ada beberapa kasus pulang ke NTT dalam peti jenazah. "Total yang meninggal selama tiga tahun terakhir sebanyak 137 orang," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans), Bruno Kupok, Selasa, 15 Mei 2018. Dari jumlah itu, menurut dia, laki-laki sebanyak 92 orang dan perempuan 45 orang (www.nttterkini.com)

Sebagai warga NTT, fakta ini tentu sangat memilukan, mengapa ini terjadi? jika diurut akar masalahnya adalah ekonomi, lapangan kerja di desa terbatas, pola pertanian yang subsisten belum komersial, belum berkembangnya kewirausahaan, budaya dagang, bisnis, di sisi lain pendidikan rendah, penegakan hukum lemah, banyak calo TKI, budaya oko mama yang disalahgunakan, keterampilan sangat terbatas, etos kerja rendah, kurangnya pemahaman terhadap bahasa dan budaya negara tujuan.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved