Berita Gempa Lombok

Mengenal Sesar Naik Flores dan Amukannya yang Picu Serial Gempa Lombok

Selang dua minggu setelah gempa bermagnitudo 7,0, gempa berkekuatan besar kembali mengguncang Lombok pada Minggu (19/08/2018) malam.

Editor: Kanis Jehola
KOMPAS.com/Geosphysical Research Lette
Sunda Banda Arc terbagi menjadi tiga segmen, Jawa Timur, Sumba, dan Timor. Bagian utara dari Sunda Banda Arc terdapat segmen-segmen aktif yang saling berkesinambungan, salah satunya sesar Kendeng. r 

POS-KUPANG.COM - Selang dua minggu setelah gempa bermagnitudo 7,0, gempa berkekuatan besar kembali mengguncang Lombok pada Minggu (19/08/2018) malam. Gempa yang terjadi semalam bermagnitudo 6,9.

Daryono, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, gempa itu baru, bukan susulan dari gempa sebelumnya.

Ia menambahkan, kedua gempa disebabkan oleh sumber yang sama, yaitu Sesar Naik Flores atau Flores Back Arc Thrust.

Baca: Dua Korban Kecelakaan Lalulintas di Malaka Tidak Menggunakan Helm dan SIM

Dalam kurun waktu beberapa waktu belakangan, sesar tersebut telah menyebabkan sejumlah gempa besar, masing-masing bermagnitudo masing-masing 6,4; 7,0; 6,3; dan 5,9. Daryono menyebut, aktivitas sesar itu memicu "multiplet gempa".

Mengamuk

Sejarah mencatat, Sesar naik Flores pernah memicu gempa-gempa besar sejak ratusan tahun lalu.

Gempa tertua yang tercatat bermagnitudo 7, mengguncang Bali dan Nusa Tenggara pada 22 November 1815. Gempa tersebut memicu tsunami.

Gempa selanjutnya yang pernah dipicu oleh sesar tersebut bermagnitudo 7,5, merusak Bima pada 28 November 1836.

Selang beberapa bulan, pada 18 Mei 1857, Sesar naik Flores memicu gempa mermagnitudo 7. Gempa tersebut mengguncang Bali dan Nusa Tenggara serta kembali memicu tsunami.

Korban dan kerusakan belum terdokumentasi dengan baik saat itu. Aktivitas sesar itu mulai tercatat setelah Indonesia memiliki seismograf.

Pada 14 Juli 1976, Sesar Naik Flores memicu gempa bermagnituo 6,6, mengguncang Seirit, Bali. Gempa itu menelan 559 korban jiwa dan merusak 67.419 rumah.

Terakhir sebelum rentetan gempa pada 2018 ini, sesar itu mengguncang Flores pada 12 Desember 1992, mengakibatkan 2.500 orang meninggal dunia.

Pakar tektonik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, mengatakan, tahun 1992, aktivitas Sesar Naik Flores memicu tsunami dengan ketinggian 36 meter.

Setelah gempa tahun 1992 itu, Sesar Naik Flores nyaris tak terdengar aktivitasnya.

"Itu bisa diperlihatkan bahwa dalam beberapa puluh tahun terakhir tidak ada gempa dengan magnitudo besar," kata Irwan saat dihubungi Kompas.com, Senin (20/8/2018).

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved