Opini Pos Kupang
Kaum Muda dan Budaya Tradisional, Begini Seharusnya Bersikap
Prof. Aron dalam makalahnya lebih menitikberatkan penguatan jati diri kaum muda sebagai anak bangsa untuk bersaing secara global
Meski sarat akan mitos yang sulit dibuktikan secara ilmiah, toh budaya tersebut tetap diyakini dan dipegang teguh oleh orang-orang NTT.
Kedua, budaya NTT mengandung unsur teologis. Budaya NTT merupakan kehadiran dan karya Allah. Kebudayaan NTT mengandung nilai religius yang sangat mengagumkan (Nuban Timo: 2007).
Hal ini sangat tampak dalam agama-agama tradisional yang ada di NTT. Agama-agama ini yakin dan percaya akan Wujud Tertinggi, Sang Pencipta alam semesta.
Meski demikian, ada sebuah kekeliruan paradigma yang fenomenal terjadi di sekitar kita. Ada anggapan yang menyatakan bahwa orang NTT itu kolot dan tradisional.
Padahal, bertindak sederhana dan lokal tidak identik dengan kekolotan. Justru tindakan demikian mengekspresikan kejeniusan sikap manusia dalam ziarah mencari jati dirinya. Kemodernan dan keglobalan dunia tak pernah terjadi dari dirinya sendiri. Hal itu muncul dari usaha manusia menemukan hakikat sebuah hal sederhana/lokal (Aleks Dancar, Lentera, 2001).
Dengan demikian, pada akhirnya meski arus globaliasi terus `mengempas', zaman modern boleh maju, sains modern boleh pula tegak sebagai peradaban yang gemilang, tetapi kebudayaan tradisional belum musnah dari rahim kultural NTT. Manusia NTT (akan) tetap berpegang teguh pada budaya dan adat istiadatnya.
Satu kelompok masyarakat yang diharapkan tetap melestarikan kebudayaan tradisional adalah kaum muda. Mereka adalah generasi penerus bangsa sekaligus penerus tatanan kebudayaan tradisional.
Meski demikian, mereka tidak bisa lari dari keadaan dunia yang terus berkembang. Hal ini ditandai oleh globalisasi kemodernan dalam segala aspek kehidupan. Mereka bisa saja melupakan `kulit' kedaerahan. Adat istiadat bisa saja ditinggalkan karena tidak sesuai tuntutan zaman.
Solusi
Kaum muda adalah pewaris sekaligus pelestari budaya tradisional yang kreatif. Berhadapan dengan arus globalisasi ini, Prof. Aron Mbete menegaskan bahwa kaum muda mesti menggali, mendokumentasikan, memahami, meyakini sungguh-sungguh kekuatan sejumlah elemen budaya etnik dalam kemasan budaya dan bahasa lokal.
Pada bulan Oktober, sebagai bulan bahasa, hendaknya diselenggarakan kegiatan dan perlombaan puisi, nyanyian dalam bahasa daerah, lomba memasak masakan tradisional dan masih banyak lagi.
Prof. James Collins dan Dr. Sri Jayantini menekankan pentingnya sosial media (sosmed). Kita bisa membuat blog dan website khusus untuk bahasa daerah. Dengan ini, kaum muda tidak kehilangan identitasnya. Ayo kaum muda, mari lestarikan budaya tradisional. *