Opini Pos Kupang

Kaum Muda dan Budaya Tradisional, Begini Seharusnya Bersikap

Prof. Aron dalam makalahnya lebih menitikberatkan penguatan jati diri kaum muda sebagai anak bangsa untuk bersaing secara global

Editor: Dion DB Putra

Oleh: Kris Ibu
Mahasiswa STFK Ledalero Maumere, Tinggal di Kupang

POS KUPANG.COM - Pada hari Kamis, 28 Juni 2018, saya menghadiri sebuah seminar internasional bertempat di Aula Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI NTT yang diselenggarakan oleh Komunitas Teater Perempuan Biasa bekerja sama dengan Angkatan Muda Adonara (AMA) Kupang.

Seminar Internasional ini mengangkat tema:  "Peran Generasi Muda dalam Mempertahankan Budaya dan Peradaban di Era Milenial". Seminar yang dimoderatori oleh Dr. Lanny Koroh ini menghadirkan tiga pemateri di antaranya: Prof. James T. Collins, Prof. Aron M. Mbete dan Dr. Sri Jayantini.

Prof. Aron dalam makalahnya lebih menitikberatkan penguatan jati diri kaum muda sebagai anak bangsa untuk bersaing secara global. Kaum muda, menurut beliau, adalah tonggak dan harapan bagi tegaknya kebudayaan tradisional di era milenial ini.

Hal ini beralasan, kaum muda zaman ini mengalami keterpisahan dengan tradisi para leluhur zaman dulu yang khas dan luhur. Oleh karena itu, perlu adanya penguatan jati diri dari kaum muda sendiri.

Prof. James dalam makalahnya lebih menekankan persoalan generasi muda dan pelestarian bahasa derahnya. Bahasa, tandas beliau, adalah fondasi komunitas dan peradaban sebuah bangsa. Namun, akhir-akhir ini, kaum muda mengalami disintegrasi dalam hal pemakaian bahasa daerah.

Kaum muda kurang berminat dengan bahsa daerah yang terlihat kolot dan tradisionalis. Hal ini terlihat dari pemakaian bahasa gaul dalam pergaulan sehari-hari.

Oleh karena itu, menurut beliau, mesti ada revitalisasi bahasa. Kaum muda mesti menghidupkan kembali bahasa daerahnya yang mulai pudar bahkan hilang ini.

Dr. Sri Jayantini lebih menekankan persoalan literasi bangsa. Menurut beliau, ketika budaya literasi luntur, bangsa kita akan hancur. Budaya literasi menguatkan kaum muda untuk menjadi penulis yang produktif dan efektif.

Implementasi dari budaya literatur ini yakni menulis. Dengan menulis, alur berpikir kita menjadi lebih logis dan kritis. Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya membaca buku agar wawasan kita menjadi luas.

Budaya Tradisional Kita

"Kacang lupa kulit." Demikian kata pepatah tua. Pepatah ini merupakan sebuah peringatan, bahkan sindiran, bagi orang-orang yang dengan tahu dan mau melupakan daerah asalnya atau melupakan kebudayaan daerahnya. Hal ini bisa terjadi karena `ketertutupan' diri seseorang terhadap budaya tradisional daerahnya.

Pepatah di atas sangatlah tepat bila dialamatkan juga kepada sebagian orang Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini. Daerah NTT yang multikultural mewarisi kebudayaan dan adat istiadat nenek moyang secara turun temurun. Warisan itu pada umumnya diwariskan secara lisan dan dipatuhi dari generasi ke generasi.

Umumnya, unsur budaya di NTT sangat khas. Ada dua hal yang mau disoroti. Pertama, budaya kita sarat akan mitos. Contohnya jangan menggunting rambut atau kuku pada malam hari, jangan menyapu rumah pada malam hari karena dianggap pemali dan bisa mendatangkan kemalangan.

Hal ini turut memengaruhi cara berpikir orang NTT, yakni cara berpikir mitis. Cara berpikir mitis ini memampukan seseorang untuk mengetahui latar belakang keterikatan masyarakat adat pada kampung asal, karena mereka yakin di sanalah masa silam leluhurnya dapat ditelusuri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved