Australia Masih Penjarakan 200 Anak Indonesia, Umumnya Masih di Bawah Umur

Barrow mengakui secara hukum, hanya orang berusia di atas 18 tahun yang bisa dipenjara, namun ratusan anak muda Indonesia

Australia Masih Penjarakan 200 Anak Indonesia, Umumnya Masih di Bawah Umur
ilustrasi

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Kuasa hukum prinsipal dan pengacara dari Ken Cush & Rekan yang berbasis di Canberra Australia, Mark Barrow dan Frank Tuscano menyebut 200 anak Indonesia masih terbelenggu di penjara Federal Australia sejak 2012.

"Anak-anak yang masih di bawah umur itu ditahan dan dipenjara secara ilegal oleh pihak berwenang di Australia. Karena itu, kami ke sini (Kupang) untuk mencari keadilan bagi anak-anak asal Pulau Rote, NTT itu," kata Mark Barrow kepada Antara di Kupang, Senin (26/2/2018) sore.

Anak-anak asal Pulau Rote yang ditahan dan dipenjara secara ilegal di Australia itu atas tuduhan ikut terlibat dalam operasi penyelundupan orang tahun 2009, termasuk 55 pencari suaka Afghanistan ke Australia pada waktu itu.

Barrow mengakui secara hukum, hanya orang berusia di atas 18 tahun yang bisa dipenjara, namun ratusan anak muda Indonesia itu ditahan untuk waktu lama di penjara keamanan ketat.

Ia mengatakan pada tahun lalu, Ken Cush & Rekan berhasil membatalkan hukuman Ali Jasmin di Pengadilan Tinggi Australia Barat. Ketika berusia 13 tahun, Jasmin, tanpa sadar memainkan peran kecil dalam operasi penyelundupan orang tahun 2009 yang berusaha menghadirkan 55 pencari suaka Afghanistan ke Australia.

"Ali Jasmin dijatuhi hukuman sebagai orang dewasa untuk menjalani lima tahun di penjara Hakea yang terkenal kejam di Perth, Australia Barat itu," katanya.

Polisi Federal Australia (AFP) hanya mengandalkan tes sinar X untuk menghitung usia Ali Jasmin lewat pergelangan tangan. Dokumen Indonesia termasuk akta kelahirannya menunjukkan dia remaja, ada namun tidak disajikan di pengadilan.

Setelah proses hukum yang panjang, tahun lalu Presiden Pengadilan Tinggi Australia Barat, Michael John Buss dan para hakim, Robert Anthony Mazza dan Robert Mitchell membebaskan dan membatalkan hukuman Jasmin.

"Saya yakin kesalahan hukum telah terjadi, dan sekarang menyusul kesuksesan tersebut, mereka akan menuntut kompensasi untuk Jasmin dan anak-anak lain yang berada dalam situasi yang sama," katanya.

Jasmin telah mengajukan gugatan ke Komisi Hak Asasi Manusia Australia dan menuntut kompensasi. Gugatannyanya diikuti oleh sekitar 50 orang lainnya setelah Ken Cush & Rekan mewawancarai anak-anak yang pernah berada dalam situasi yang sama dari Kabupaten Alor, Kupang dan Rote, NTT.

Halaman
12
Editor: Putra
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved