Kota Yerusalem dan Pesan Perdamaian

Begitu banyak kebahagiaan yang melengkapi setiap kisah hidup individual dengan rentetan esensi dan eksistensinya

Editor: Dion DB Putra
(Thinkstock)
Kota Yerusalem 

Menurut Liliweri, komunikasi antar budaya yang efektif adalah interaksi antar budaya dimana pelaku-pelaku di dalamnya mampu menjaga keseimbangan dan relasi komunikasi di antara dua kebudayaan yang berbeda.

Dengan demikian bila seseorang belum mampu menghadapi dan menerima perbedaan-perbedaan budaya maka ia belum berkomunikasi antarbudaya secara efektif.

Hal itu pada akhirnya mampu memperbaiki kerusakan simetrisitas sosial yang oleh Muhamad Damm disebut sebagai kematian partikular. Simetrisitas sosial adalah relasi antara manusia dengan dirinya (intra subyektif) dan dengan orang lain (antar subyektif).

Pola komunikasi antar budaya yang efektif pada dasarnya memiliki tiga fungsi utama, yakni fungsi integrasi sosial, fungsi kognitif, serta fungsi sosialisasi nilai.

Fungsi integrasi sosial berarti komunikasi antar budaya adalah "penyatu" bagi orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi itu sehingga setiap orang akan berupaya untuk saling menghargai dan menerima satu sama lain. Dengan demikian akan tercapai suatu integrasi sosial dan menghindari berbagai konflik horizontal.

Kemudian fungsi kognitif berarti komunikasi antar budaya memberikan pengertian dan pengetahuan kepada setiap orang yang melakukan proses komunikasi sehingga mengetahui dan memahami identitas setiap pribadi. Hal itu bisa meminimalisir stereotip dan prasangka sosial sehingga terwujudnya nilai toleransi dan kesetaraan.

Dan yang terakhir adalah fungsi sosialisasi nilai yang berarti bahwa komunikasi antar budaya merupakan bagian integral dari proses pembelajaran dan pewarisan nilai-nilai luhur seperti toleransi dan kesetaraan bagi sesama.

Pada akhirnya isu Yerusalem memiliki hikmah tersendiri sebagai sebuah acuan refleksi bersama dalam menakar sejauh mana toleransi dan perdamaian itu berdiri kokoh di tengah kontroversi dan provokasi sebagian pihak yang mengais keuntungan di tengah perpecahan.

Eric Weil (1904-1977), seorang pemikir dan aktivis perdamaian meyakini bahwa setiap orang adalah pembawa kedamaian dan bertanggung jawab untuk melestarikan perdamaian itu. Hal itu menjadi bukti bahwa semua orang harus memiliki kesadaran sosial dan keyakinan sebagai pendorong tindakan sosial demi perdamaian.

Mengapa? Karena perdamaian bisa menjadi nyata dalam kehidupan bersama yang diwarnai oleh kerja sama, dialog, solidaritas, saling menghormati, saling menghargai, saling menolong dan hidup bersaudara.

Selain itu, toleransi dan semangat antar budaya juga mampu melestarikan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. *

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved