Bahaya Generasi Palsu di Negeri Ini

Semua orang dari berbagai level dan dengan semua strata memberikan reaksi beragam dalam nada sama. Mengutuk kepalsuan.

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi telur palsu 

Oleh: Lasarus Jehamat
Sosiolog Undana; Peneliti Institut Sophia Kupang

POS KUPANG-COM - Akhir-akhir ini, Indonesia dibanjiri oleh realitas palsu. Ijazah palsu, beras palsu, obat palsu, vaksin palsu, kartu palsu, cantik palsu, kampus palsu, dokter palsu, dosen palsu dan lain-lain.

Semua orang dari berbagai level dan dengan semua strata memberikan reaksi beragam dalam nada sama. Mengutuk kepalsuan.

Hemat saya, realitas ini tidak bisa dijelaskan hanya dari pandangan hukum dan regulasi negara. Fenomena palsu harus dibahas dengan perspektif sosial dan budaya. Di level itu, fakta kepalsuan harus melibatkan pemahaman tentang modernitas dan perkembangan ilmu pengetahuan sebagai produk budaya.

Tulisan ini ingin menggugat laju perkembangan modernitas yang dilahirkan oleh rasionalitas manusia modern. Rezim modernitas harus bertanggung jawab atas munculnya fenomena sosial kepalsuan diberbagai aspek ini.

Tesis dasarnya adalah bahwa rasionalitas manusia rasional memunculkan beragam hal; positif dan negatif. Beragam dampak itu tidak perlu dibuat litani di sini. Yang ingin dikatakan adalah bahwa realitas palsu merupakan bentuk risiko masyarakat modern yang diciptakan sendiri oleh manusia cerdik pandai. Media utamanya adalah uang dan modal di aras kapitalisme global.

Empat Pandangan

Mythen (2004) memetakan empat pandangan yang membahas tentang risiko masyarakat berisiko saat ini. Pertama, pandangan sosial budaya Douglas. Risiko sosial budaya terlihat dalam buruknya relasi sosial masyarakat, solidaritas sosial, pandangan tentang dunia serta nilai budaya.

Kedua, pandangan psikologi sosial. Dalam padangan ini, masyarakat masuk dalam jebakan berisiko ketika produk yang dibuatnya membuat manusia kehilangan identitas diri. Implikasi penggunaaan produk teknologi modern, teknologi informasi misalnya, bisa masuk dalam kategori ini.

Ketiga, pendekatan kelembagaan. Di sini, Mythen menyebut Foucault dan Castel. Disebutkan, risiko muncul ketika negara berkuasa untuk mendisiplinkan masyarakatnya secara sistematis. Perilaku manusia diatur dan dikontrol sedemikian rupa sehingga manusia kehilangan kebebasan individunya.

Keempat, pandangan tentang risiko yang terjadi dalam kehidupans sehari-hari. Dalam perspektif ini, manusia modern telah menghasilkan produk lain yang justru merugikan manusia rasional itu. Fenomena vaksin palsu bisa masuk dalam kategori ini.

Kaum kritis dari Mazhab Frankfurt juga melakukan kritik atas laju perkembangan modernitas. Kaum kritis menyebut realitas kegelapan modernitas dengan sebuah tesis yang sangat terkenal. Irasionalitas rasional manusia.

Horkheimer dan Adorno (1989) dan beberapa tokoh teori kritis menggugat perkembangan modernitas. Modernitas sebagai buah dari rasionalitas manusia lebih banyak diarahkan untuk tujuan instrumental ketimbang yang substansial. Rasionalitas manusia modern lebih didominasi oleh kuasa untuk memangsa manusia lain.

Laju gerak kapitalisme global menjadi bidikan utama kritikan mereka. Apa pun faktanya, uang dan modal menjadi hal utama yang ingin dikejar. Di sana, peperangan dalam berbagai bentuk merupakan alat untuk mendapatkan uang dan menumpukan modal sebanyak mungkin.

Disebutkan, rasionalitas manusia menjadi sangat irrasional dalam praktiknya saat ini ketika membaca fenomena peperangan dengan menggunakan senjata api dan bom nuklir.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved