Membumikan Budaya Membaca
Banyak manfaat yang dipetik dari aktivitas membaca. Pengetahuan kita diperkaya dan wawasan kita diperluas dengan
Catatan Atas Deklarasi Saya Baca
Oleh: Gerardus Kuma, S.Pd.,Gr
Guru SMPN 3 Wulanggitang, Bergiat di Komunitas Baca Lera Gere-Boru
POS KUPANG.COM - Membaca. Kata ini sudah tidak asing bagi kita. Saya yakin di antara kita telah melakoni aktivitas ini.
Banyak manfaat yang dipetik dari aktivitas membaca. Pengetahuan kita diperkaya dan wawasan kita diperluas dengan membaca. Dengan membaca kita melawan kedangkalan berpikir dan melatih berpikir kritis.
Tidak hanya untuk meningkatkan keahlian dan memperluas pengetahuan, membaca juga menentukan cara berpikir kita, yang memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan imajinasi yang berngaruh terhadap perkembangan emosi dan moral juga kemampuan verbal sehingga kita akan menjadi pribadi yang baik (Colin, 2004:3).
Dalam konteks yang lebih luas, membaca tidak hanya mendatangkan manfaat bagi diri sendiri tetapi juga bagi bangsa dan negara. Dengan membaca kita akan mendapatkan pengetahuan dan dengan pengetahuan tersebut kita bisa membangun negara kita sebagaimana dianjurkan oleh Bung Hatta.
Tokoh proklamator ini menganjurkan agar pemuda-pemuda membaca buku-buku guna menambah ilmu dan mengamalkannya guna membangun Indonesia yang adil dan makmur (Aminudin, 2012:3).
Walau membaca memberi banyak manfaat, namun dalam kenyataan sulit sekali untuk dijalankan. Membaca hanyalah kata yang mudah diucapkan dan sulit sekali untuk dilakukan. Besarnya manfaat membaca berbanding terbalik dengan semangat membaca. Membaca bukan aktivitas yang popular dilakukan masyarakat kita.
Keuntungan membaca tidak didukung oleh kemauan melahap bacaan. Membaca tidak lagi menjadi pilihan pertama dan utama dan telah digeser dari kebiasaan bangsa ini dalam menyerap informasi.
Dari pengalaman sebagai guru, ditemukan bahwa minat membaca anak-anak sekarang sangat rendah. Di sekolah, kalau pun membaca, itu hanya pada saat pelajaran. Selain itu tidak pernah ada waktu luang (khusus) untuk membaca.
Kenyataan ini didukung oleh survei yang membentangkan fakta memilukan. Budaya membaca bangsa Indonesia sangat rendah. Sebagaimana dalam Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2011 International in Result in Reading, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari rata-rata 500.
Sementara itu uji literasi membaca dalam PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496).
Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012. Data PIRLS dan PISA tersebut menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia dalam memahami bacaan tergolong rendah (bdk. Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 2016: i).
Sementara UNESCO (2012) melaporkan bahwa kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah: 0 persen. Tepatnya 0,001 persen.
Artinya, dari seribu anak Indonesia, hanya satu yang mampu menghabiskan 1 buku dalam setahun (kompas.com.7/2/2017). Taufik Ismail, sebagaimana ditulis Adkhilni, dalam penelitian tentang pengajaran sastra dan mengarang di SMU beberapa Negara melaporkan bahwa setiap tahun di Amerika siswa ditugasi membaca novel sastra sebanyak 32 judul, Belanda 30 judul, Prancis 20 judul, Jerman 22 judul, Jepang 15 judul, Kanada 13 judul, Singapura 6 judul, Brunei 7 judul, Thailand 5 judul, sedangkan Indonesia 0 (nol) judul (dalam Irkham, 2008:12).
Lebih jauh Adkhilni (dalam Irkham, ibid) memaparkan rasio jumlah penduduk dengan surat kabar: Indonesia (1:43; artinya satu surat kabar dibaca oleh 43 orang), Malaysia (1:8,1), Jepang (1:1,7), India (1:38,14).
Lembata Kabupaten Literasi
Fakta rendahnya budaya membaca di atas seharusnya membuat siapa saja prihatin dan mendorong kita mengambil langkah konkret-strategis untuk mengatasi. Karenanya kampanye membaca harus terus digemakan. Gema literasi harus terus digerakkan.
Dalam konteks ini, deklarasi "Saya Baca" yang dilakukan pemda Lembata (12/8/2017) patut diapresiasi. Dengan menjadikan Lembata kabupaten literasi menunjukkan bahwa pemerintah sadar akan pentingnya menanamkan budaya membaca bagi masyarakat.
Namun deklarasi saja tidak cukup.
Membudayakan membaca tidak sebatas deklarasi bernuansa seremonial. Mengingat semangat membaca tidak tumbuh dengan sendirinya saat kita menyatakan tekad menjadi kabupaten literasi. Juga tidak serta merta muncul begitu saja tatkala deklarasi "Saya Baca" dilakukan.
Sebagaimana dikatakan Jean Grambs yang dikutip Lessene S. Teri dalam jurnal Developing lifetime Reader: Suggestions from Fifty Years of Research bahwa "Kegemaran membaca tidaklah timbul begitu saja, ia adalah suatu kebiasaan yang harus terus dikembangkan." (Arifin, 2013:3).
Ibarat perjalanan, deklarasi adalah ayunan langkah awal. Titik start memulai langkah berikut dalam mengakarkan literasi. Tekad yang telah dinyatakan dalam deklarasi harus segera diwujudnyatakan untuk menapaki perjalanan selanjutnya.
Langkah konkret selanjutnya selain mendirikan taman-taman baca dan mengadakan bahan bacaan, pemda harus menjalin relasi dengan pegiat literasi ini telah berjuang berdarah-darah menghidupkan budaya membaca dalam diri anak-anak Lembata.
Sebagai informasi, di Lembata jauh sebelum literasi bergema, pada tahun 1983 telah hadir rumah baca "Taman Daun" yang dikelola Bapak Goris Batafor. Dan belakangan juga telah tumbuh rumah baca yang lain.
Di rumah baca ini berhimpun para pegiat literasi yang konsen menebar virus membaca dengan mendistribusikan bahan bacaan ke kampung-kampung. Aktivitas mereka ini walau bergerak dalam diam, perlahan telah membangkitkan minat membaca anak-anak Lembata.
Apabila pemda punya niat baik menjadikan Lembata kabupaten literasi, gandenglah semua pihak yang ada di Lembata. Literasi sebagai sebuah gerakan membutuhkan keterlibatan semua stakeholder: pemerintah, keluarga, lembaga pendidikan, pegiat literasi, LSM. Itulah esensi dari sebuah gerakan bernama literasi.
Menumbuhkan semangat membaca bukan hanya tugas pihak tertentu saja. Atau masing-masing pihak bekerja secara sendiri-sendiri. Tidak. Usaha ini membutuhkan sinergisitas dan kolaboritas antar stakeholder. Karena itu sikap pemda Lembata tidak menggadeng atau setidaknya mengundang para pegiat literasi yang telah bekerja Lembata dalam deklarasi "Saya Baca" patut disesalkan.
Namun, sudahlah. Kita tidak perlu menoleh ke belakang. Mari kita menatap ke depan. Deklarasi telah dilakukan. Tekad menjadikan kabupaten literasi telah dikumandangkan. Demi mewujudkan mimpi ini, kerjama sama lintas element mutlak diperlukan. Hanya dengan kerja sama dan sama-sama bekerja niscaya mimpi Lembata menjadi kabupaten literasi dapat terwujud. Salam Literasi. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-membaca-buku_20160806_155705.jpg)