Membumikan Budaya Membaca

Banyak manfaat yang dipetik dari aktivitas membaca. Pengetahuan kita diperkaya dan wawasan kita diperluas dengan

Editor: Dion DB Putra
Shutterstock
Ilustrasi 

Lebih jauh Adkhilni (dalam Irkham, ibid) memaparkan rasio jumlah penduduk dengan surat kabar: Indonesia (1:43; artinya satu surat kabar dibaca oleh 43 orang), Malaysia (1:8,1), Jepang (1:1,7), India (1:38,14).

Lembata Kabupaten Literasi
Fakta rendahnya budaya membaca di atas seharusnya membuat siapa saja prihatin dan mendorong kita mengambil langkah konkret-strategis untuk mengatasi. Karenanya kampanye membaca harus terus digemakan. Gema literasi harus terus digerakkan.

Dalam konteks ini, deklarasi "Saya Baca" yang dilakukan pemda Lembata (12/8/2017) patut diapresiasi. Dengan menjadikan Lembata kabupaten literasi menunjukkan bahwa pemerintah sadar akan pentingnya menanamkan budaya membaca bagi masyarakat.
Namun deklarasi saja tidak cukup.

Membudayakan membaca tidak sebatas deklarasi bernuansa seremonial. Mengingat semangat membaca tidak tumbuh dengan sendirinya saat kita menyatakan tekad menjadi kabupaten literasi. Juga tidak serta merta muncul begitu saja tatkala deklarasi "Saya Baca" dilakukan.

Sebagaimana dikatakan Jean Grambs yang dikutip Lessene S. Teri dalam jurnal Developing lifetime Reader: Suggestions from Fifty Years of Research bahwa "Kegemaran membaca tidaklah timbul begitu saja, ia adalah suatu kebiasaan yang harus terus dikembangkan." (Arifin, 2013:3).

Ibarat perjalanan, deklarasi adalah ayunan langkah awal. Titik start memulai langkah berikut dalam mengakarkan literasi. Tekad yang telah dinyatakan dalam deklarasi harus segera diwujudnyatakan untuk menapaki perjalanan selanjutnya.

Langkah konkret selanjutnya selain mendirikan taman-taman baca dan mengadakan bahan bacaan, pemda harus menjalin relasi dengan pegiat literasi ini telah berjuang berdarah-darah menghidupkan budaya membaca dalam diri anak-anak Lembata.

Sebagai informasi, di Lembata jauh sebelum literasi bergema, pada tahun 1983 telah hadir rumah baca "Taman Daun" yang dikelola Bapak Goris Batafor. Dan belakangan juga telah tumbuh rumah baca yang lain.

Di rumah baca ini berhimpun para pegiat literasi yang konsen menebar virus membaca dengan mendistribusikan bahan bacaan ke kampung-kampung. Aktivitas mereka ini walau bergerak dalam diam, perlahan telah membangkitkan minat membaca anak-anak Lembata.

Apabila pemda punya niat baik menjadikan Lembata kabupaten literasi, gandenglah semua pihak yang ada di Lembata. Literasi sebagai sebuah gerakan membutuhkan keterlibatan semua stakeholder: pemerintah, keluarga, lembaga pendidikan, pegiat literasi, LSM. Itulah esensi dari sebuah gerakan bernama literasi.

Menumbuhkan semangat membaca bukan hanya tugas pihak tertentu saja. Atau masing-masing pihak bekerja secara sendiri-sendiri. Tidak. Usaha ini membutuhkan sinergisitas dan kolaboritas antar stakeholder. Karena itu sikap pemda Lembata tidak menggadeng atau setidaknya mengundang para pegiat literasi yang telah bekerja Lembata dalam deklarasi "Saya Baca" patut disesalkan.

Namun, sudahlah. Kita tidak perlu menoleh ke belakang. Mari kita menatap ke depan. Deklarasi telah dilakukan. Tekad menjadikan kabupaten literasi telah dikumandangkan. Demi mewujudkan mimpi ini, kerjama sama lintas element mutlak diperlukan. Hanya dengan kerja sama dan sama-sama bekerja niscaya mimpi Lembata menjadi kabupaten literasi dapat terwujud. Salam Literasi. *

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved