Setelah 1,5 Jam Maria Berhasil Dikeluarkan dari Timbunan Batu dan Pasir, Kondisinya Mengenaskan

Siswi SDI Wae Belang yang duduk di bangku kelas satu SD itu ditemukan tewas setelah keluarga dan penggali pasir mengeluarkannya

Penulis: Aris Ninu | Editor: Agustinus Sape
POS KUPANG/ARIS NINU
Warga sedang mengeluarkan jasad Maria Andriani dari timbun pasir setelah digali warga di Kelurahan Wae Belang, Kamis (24/8/2017). sore. 

Tangan Maria sempat terlihat dan tidak tertutup pasir.

Hampir satu setengah jam lamanya keluarga dan warga mengeluarkan korban dari timbunan pasir. Korban ketika dikeluarkan sudah tidak bernyawa lagi," papar Jemris.

Ia menjelaskan, korban tinggal di rumah neneknya dan orangtuanya tinggal di Kecamatan Rahong Utara.

"Korban sekolah di Wae Belang dan bapaknya penggali pasir di Wae Belang. Sekarang jenazah korban sudah disemayamkan di rumah duka," papar Jemris.

Gabriel alias Gaby, ASN dari Dinas PPO Manggarai, ketika menghubungi Pos Kupang, mengaku lokasi Maria tertimbun tanah persis di belakang rumahnya.

"Pak ada anak tertimbun pasir karena ada longsor di lokasi galian C di Wae Belang. Warga sedang mengeluarkan korban dari tumpukan pasir," kata Gaby.

Menurut Gaby, keluarga dan warga yang berada di lokasi pasir menangis dan tak menyangka Maria akhirnya meninggal dunia dengan cara yang sungguh memprihatinkan.

Dari balik HP Gaby ada isak tangis dan teriakan warga agar cepat mengeluarkan Maria.

Sekitar pukul 16.30 wita, Jemris, anggota Polres Manggarai, langsung menghubungi Pos Kupang lalu mengirim gambar untuk membuktikan bahwa korban sudah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

"Saya langsung angkat korban bersama warga ke rumah duka. Lokasi galian C dan rumah korban hanya  berjarak 20 meter," papar Jemris.

Untuk diketahui, lokasi galian C di Wae Belang berada di ruas jalan provinsi Wae Belang-Golo Worok-Golo Welu.

Lokasinya berada di belakang persawahan sarang laba-laba yang sering dikunjungi wisatawan.

Di sekitar lokasi ada tangga menuju lokasi persawahan lodok cara. Galian C tersebut setiap hari dikerumuni penggali pasir untuk mengambil pasir lalu dijual kepada warga. (*)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved