Kamis, 7 Mei 2026

Harapan kepada Walikota Baru, Begini Catatan Kritis Anggota DPR RI Benny K Harman

Dalam politik berlaku adagium: janji adalah hutang karena seorang pemimpin dipilih karena janji-janjinya itu.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
ISTIMEWA
Benny K Harman 

Oleh: Benny K. Harman
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan NTT

POS KUPANG.COM -- Hari Selasa 22 Agustus 2017 adalah hari bersejarah bagi warga Kota Kupang. Seorang walikota baru Jefri Riwu Kore dilantik. Ia resmi menjadi pemimpin baru warga Kota Kupang.

Tentu ia diharapkan membawa harapan baru dengan segera mewujudkan janji-janji selama kampanye. Dalam politik berlaku adagium: janji adalah hutang karena seorang pemimpin dipilih karena janji-janjinya itu.

Warga Kota Kupang beruntung punya Walikota Jefri. Selama di DPR dua periode, Jefri dikenal sebagai sosok politisi pekerja keras, ulet, dan fokus pada tupoksinya dengan sedikit bicara. Untuk rakyat yang diwakilinya.

Asal untuk rakyat, di DPR dia ngotot berjuang. Sayang, sebagai rekan sefraksi di DPR RI saya tidak dapat menghadiri acara pelantikan ini karena masih ada tugas negara yang lain. Dari negeri jauh saya ucapkan proficiat buat Jefri!

Keuletan Jefri tampak dari perjuangannya untuk meyakinkan warga Kupang yang tergolong luar biasa. Jefri sudah tiga kali malang melintang dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Kupang sebelum memetik kemenangan pada 2017. Dia pernah dua kali menderita kekalahan menghadapi Daniel Adoe dan Jonas Salean. Tetapi kali ini dia sukses mengalahkan Jonas Salean.

Terpilihnya Jefri yang berpasangan dengan Hermanus Man -sebelumnya menjabat Wakil Walikota Kupang -dapat diartikan ada harapan baru yang diinginkan warga Kota Kupang kepada mereka.

Hari Selasa 22 Agustus 2017 mereka dilantik dan resmi menjalani debut sebagai walikota dan wakil walikota untuk periode 2017-2022.

Pantang menyerah
Ada kesan yang menarik dari kesuksesan Jefri. Apa yang telah ditunjukkan Jefri memang mengesankan bahwa dia adalah seorang yang pantang menyerah.

Meski dua kali mengalami kegagalan, hal itu tidak membuatnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah, hingga akhirnya menyabet sebagai walikota terpilih.

Bapak dua anak dengan istri Hilda Manafe itu bukan saja dua periode mendapat kepercayaan rakyat sebagai anggota DPR-RI (2009-2014 dan 2014-2019), tetapi juga dipercaya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk periode 2016-2021.

Kini, Jefri lebih memilih untuk mengabdi pada warga Kota Kupang setelah menuai kembali kepercayaan dari warganya untuk posisi walikota.

Selain dicalonkan oleh Partai Demokrat, Jefri juga mendapat dukungan dari Partai Gerindra dan PAN. Dengan memilih jadi walikota, dia pun harus melepas jabatannya sebagai anggota DPR-RI untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Tentu banyak yang berharap, sikap pantang menyerah itu bisa ditularkannya dalam membangun dan memajukan Kota Kupang sebagai salah satu kota terbaik, yang juga sebagai ibukota Provinsi NTT. Mereka yang memerintah tidak boleh menyerah terhadap apa yang lemah, tidak berjalan, atau tidak maju-maju. Pantang menyerah terhadap berbagai tantangan yang ada.

Sebagai walikota baru, Jefri bisa menghadirkan semangat baru dan kebijakan atau program yang inovatif. Sementara wakilnya, Herman Man yang berpengalaman bisa menjelaskan titik-titik yang perlu diprioritaskan.

Kolaborasi sikap inovatif dengan spirit baru ini penting sebagai modal dasar mengingat kota Kupang sebagai kota berkembang memiliki tantangan yang tidak sedikit.

Tantangan
Kota Kupang dengan luas 180,27 km² itu berpenduduk lebih dari 450.360 orang yang tersebar di enam kecamatan dan 51 kelurahan. Sebagian besar penduduk memeluk agama Kristen Protestan (63,29 persen), diikuti Katolik (21,62 persen), Islam (14,00 persen), Hindu (0,54 persen), Budha (0,03 persen), dan kepercayaan lainnya (0,52 persen). Kupang juga menjadi kota multikultural karena berbagai asal suku dan etnis, bahasa, dan ragam lainnya saling bertoleransi.

Meski begitu, Kota Kupang juga menghadapi beberapa tantangan. Pertama, tahun ini jumlah penduduk miskin meningkat sebanyak 3.018 keluarga sangat miskin (KSM). Sisa dari tahun 2016 sebanyak 2.902 KSM, maka beban yang ditanggung pemerintah kota (Pemkot) menjadi 6.020 KSM sebagai penerima penyaluran bantuan sosial nontunai Program Keluarga Harapan (PKH).

Kedua, angka pengangguran di Kota Kupang juga bertambah setiap tahun 11,38 persen. Meski terus bertambah, Wakil Walikota Herman Man sudah berupaya mengatasinya dengan menggelar Pameran Jabatan/Kerja (Job Fair) sejak 2015.

Sementara Jefri sebagai pakar ekonomi menambah dengan kebijakan atau program lainnya.

Ketiga, anak putus sekolah masih banyak di Kota Kupang. Langkah yang ditempuh Pemkot yang memberikan tugas kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertran) untuk "menyelamatkan" 105 anak putus sekolah dan terpaksa bekerja itu patut diapresiasi.

Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah kesungguhan Yoseph Orem Blikololong yang menghadirkan dua sekolah gratis untuk anak-anak miskin, sungguh sebuah perbuatan mulia. Kiranya, Pemkot perlu berkomitmen "pendidikan untuk semua".

Keempat, warga Kota Kupang masih mengeluhkan masalah infrastruktur jalan yang kurang merata. Selain itu juga air bersih dan penerangan jalan. Walikota baru perlu menempatkan diri sebagai walikota bagi semua warga Kota Kupang agar pembangunan infrastruktur lebih merata serta bersifat multikultur.

Kelima, semasa kampanye, Jefri mengatakan Kota Kupang berada pada ranking satu korupsi dari 50 kota di Indonesia. Mencegah dan mengurangi korupsi menjadi tantangannya bersama Herman Man. Mereka harus menularkan sikap pantang menyerah untuk melawan korupsi.

Salah satu caranya adalah membentuk sistem transparansi dan akuntabilitas publik. Dengan kemajuan teknologi informasi, mereka bisa memulai dengan sistem pemerintahan elektronik atau e-government (e-Govt) yang dimulai dari anggaran elektronik (e-budgeting).

Masih banyak tantangan dan masalah yang dihadapi warga Kota Kupang. Sebagai pakar ekonomi, Jefri pasti dapat mengidentifikasi masalah dan tantangan tersebut. Meskipun merangkap sebagai ketua partai, Jefri harus menjadi walikota bagi semua warga Kota Kupang tanpa diskriminasi, serta membuka partisipasi mereka seluas-luasnya.

Kita berharap, Jefri dan Herman dapat mengemban tugas sebagai penerima mandat rakyat dengan baik, mengubah pemerintahannya lebih bersih, melayani rakyatnya bersama jajaran birokrasinya, serta memecahkan sejumlah masalah yang dihadapi warganya.

Kita juga berharap warga Kota Kupang membantu Jefri agar kepemimpinnya berhasil. Seorang pemimpin tidak mungkin sukses tanpa bantuan rakyat yang memilihnya. Selamat bertugas walikota baru dan wakilnya, semoga sejumlah harapan warga dapat ditunaikannya. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved