Komunitas Ini Ada di Pedalaman Timor, Penggagasnya Anak Muda Hebat, Aktivitas Mereka Menakjubkan

Setahun bergiat bersama warga dan para relawan, mereka maknai sebagai kesempatan untuk belajar dan bertumbuh bersama

Editor: Dion DB Putra
ISTIMEWA
Para remaja yang aktif di Komunitas Lakoat Kujawas pamerkan hasil karya mereka dalam pameran bertitel Mollo Panggil Pulang. Pameran berlangsung tanggal 12-17 Agustus 2017. 

Mollo Panggil Pulang menjadi judul dari pameran arsip pertama di komunitas Lakoat.Kujawas. Sebuah ajakan untuk pulang ke kampung halaman dan melihat segala potensi yang ada dengan optimis.

Mollo Panggil Pulang adalah kesempatan untuk melihat kembali sejarah Mollo yang begitu panjang dan kaya, jelas Dicky Senda, direktur program komunitas.

Pameran arsip ini sudah dibuka hari Sabtu, 12 Agustus 2015 dan akan berakhir Kamis, 17 Agustus 2017. Pameran buka setiap hari jam 10 pagi hingga jam 5 sore, bertempat di kantor Camat Mollo Utara yang lama di Kapan.

Di luar dugaan para fasilitator pelatihan, para remaja ini menampilkan karya yang luar biasa. Sederhana namun punya pesan yang dalam. Di ujung pelatihan, para remaja ini diperbolehkan untuk membawa kamera poket dan DSLR hasil pinjaman dari 8 relawan di Kupang, ke rumah.

Mereka diminta untuk memotret keseharian hidup mereka. Memotret dan menulis cerita tentang binatang kesayangan, bunga-bunga koleksi orang tua, kebun dan perpustakaan mereka.

"Saya tak menyangka, hasil foto dari Resi-salah satu peserta paling kecil ini-menawan hati saya," ungkap Danny Wetangterah, dari SekolahMUSA yang mengkurasi karya 15 remaja ini.

Menurut Wetangterah, Resi memilih memotret tentang ayahnya yang seorang penjahit di desa Taiftob. Resi memilih melihat dunianya lewat foto tentang ayahnya.

Resi memilih simbol-simbol seperti mesin jahit, benang, gunting dan potongan kain dari apa yang dia lihat sehari-hari. Bagi saya, pesan-pesan dalam foto-fotonya sangat dalam, jelasnya. "Mereka benar-benar tak terduga!" ucap pria yang biasa disapa DW ini bersemangat.

Pengunjung pameran, Romo Jimmy Kewohon, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para remaja ini. Romo Jimmy berkeliling ke setiap foto dan melakukan diskusi ringan dengan para pemilik karya foto.

"Selamat kepada Lakoat.Kujawas, telah menjadi ruang baru bagi generasi muda untuk berkesenian, menyalurkan minat dan bakat mereka," ungkap pastor yang tinggal di desa Taiftob.

Findy Lengga (13 tahun), warga desa Taiftob yang terlibat dalam pameran Mollo Panggil Pulang, menulis kebanggannya bisa belajar foto.

"Saya sangat senang belajar fotografi. Dari yang sebelumnya tidak tahu sama sekali cara mengoperasikan kamera hingga kini saya jadi tahu cara menggunakan kamera dengan lumayan baik. Mengetahui teknik dasar fotografi dan komposi dasarnya membuat saya sadar bahwa ini adalah proses belajar yang tidak akan pernah selesai. Saya pribadi merasa bahwa belajar fotografi itu mampu melatih kesabaran kita sekaligus menambah wawasan," kata Findy.

Resi Nati (11 tahun) dalam tulisannya mengungkapkan sebuah keinginan untuk bisa mengulangi pengalaman belajar fotografi ini.

"Saya ingin memotret rumah. Rumah adalah tempat yang melindungi saya, tempat keluarga saya berkumpul. Di rumah, ada begitu banyak orang-orang yang saya sayangi. Dan dari pengalaman belajar memotret selama ini, saya sudah berhasil memotret pekerjaan bapak saya yaitu menjahit."

Almastie, blogger asal Ambon yang beberapa tahun terkhir ini menetap di Labuan Bajo mengungkapkan rasa bangganya bisa terlibat dalam proyek arsip Lakoat.Kujawas.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved