Sabtu, 18 April 2026

Bila Sudah Jatuh Cinta Selalu Ada Orang Ketiga, Ini Kisahnya

si pria jadi terdiam membatu. Lantas si gadis menarik tangan si pria dan menyadarkannya dari lamunan itu.

Editor: Rosalina Woso
IST
Ilustrasi 

Bapa Gadis: Saya kan kerja. Mana ada waktu.
Si Pria: (Aduh, jadi ribut nanti) Ehh-ehh. Bapak-Ibu, kita lupakan dulu pertanyaan tadi, sebab kalau ikut ibu pun tidak memakai jilbab juga. Maksudnya lebih kurang sama lah. Boleh bertanya lagi? Apa anak bapak pintar memasak?

Bapa Gadis: Hmm... Boro-boro masak. Tahu-tahu bangun tidur jam 12 lebih, bukan bangun pagi itu, tapi bangun siang. Terus makan siang.

Ibu Gadis: Apa lah ayah ini, orang ini ingin jadikan anak kita istrinya, dia malah cerita yang jelek-jelek.
Bapa Gadis: Ibunya pun sama, suka bangun kesiangan juga.
Ibu Gadis: Ayahnya!

Si Pria: (Bengong, yang itu pun diceritakan) Hehe .. Baik. Pertanyaan lain, bisa tidak dia baca AlQuran?
Ibu Gadis: Bisa sedikit-sedikit kok.
Si Pria: Pertanyaan terakhir, boleh?
Ibu Gadis: Iya, apa?

Si Pria: Ini pertanyaan utama, Dia salat tidak?
Bapa Gadis: Apa motif kamu bertanya semua ini. Dia kan selalu ikut kamu. Kamu lah yang tahu.
Si Pria: Kalau di luar, saya ajak dia salat, dia bilang datang bulan (halangan). Tiap hari saat jalan selalu bilang lagi datang bulan. Dia tahu salat atau tidak?

Hampir tertunduk si ayah dan si ibu. Pada raut wajah mereka berdua ada tanda-tanda kemerahan menahan amarah.

Si Pria: Bisa saya sambung lagi. Dia tidak bisa masak, tidak bisa shalat, tidak bisa mengaji, tidak mengerti menutup aurat sebelum dia menjadi istri saya, maka dosa-dosa dia jelas akan dibebankan pada ibu dan bapak.

Lagipula tidak pantas harga Rp 65 juta untuk dia. Berbeda kalau dia ini 'hafizah', 30 juz dalam kepala, menutup aurat dari bawah sampai ke atas dan tahu menjaga batasan, itu barulah pantas Rp 100 juta lebih pun saya sanggup bayar. Tapi orang seperti itu kalau menikah mereka meminta mahar sererendah-rendahnya. Sebab mereka paham sebaik-baik pernikahan adalah serendah-rendah mahar.

Lumrahkah adat untuk membuat anak perempuan dijadikan objek pemuas nafsu hati, menunjukkan kekayaan serta bermegah-megah dengan apa yang ada. Terutama pada pernikahan.

Adat lebih tinggi dari agama. Dibiarkan putri dihias dan dibuat pertunjukkan di depan umum. Sementara pada waktu itu akad telah dilafaz si suami, dan segala dosa anak perempuan sudah mulai ditanggung oleh si suami.

Sangat rugi. Mahar berpuluh-puluh juta dibayar pada istri dan seharusnya hanya si suami seorang yang berhak melihat, tetapi pada hari pertama pernikahan yaitu saat di pelaminan saja puluhan ribu mata yang melihat si istri tanpa menutup aurat.

Seolah-olah si suami membayar mahar untuk mereka semua.
Bapa Gadis: Tapi kan. Bapak hanya ingin anak senang. Semua itu sekali seumur hidup.

Ibu Gadis: Tentulah kami berdua pun turut gembira.
Si Pria: Benarkah? Bapak, ibu, saya bukan apa. Sekarang dosa anak bapak, bapak yang tanggung. Besok lusa saat sudah akad nikah, dosa dia saya yang tanggung. Pasti bapak ingin menggelar resepsi pernikahan dan setiap mata yang memandang, saya akan dapat dosa.

Ibu si gadis segera menarik diri dari percakapan dengan kembali ke belakang. Si ibu tahu, si pria berbicara menggunakan fakta islam dan tidak mungkin ibu si gadis dapat melawan kata si pria itu.

Bapa Gadis: Kau mengajari pula ingin berbicara agama dengan kami.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved