Selasa, 12 Mei 2026

Kisah Nyata. Ayah Menghajar Anaknya Hingga Tewas. Begini Akhirnya

Darah mengucur di tubuh anaknya tidak mampu membuka mata hatinya. Ayahnya semakin beringas dan kalap, ayunan bambu terus dan terus menghantam anaknya

Tayang:
Editor: Ferry Jahang
Thinkstockphotos
Thinkstockphotos Ilustrasi 

Penyesalan dan rasa bersalah memang sulit dipisahkan. Tetapi menurut psikolog Agustine Dwiputri, penyesalan tidak selalu sama dengan kesalahan. Justru kita bisa belajar dari kesalahan yang dilakukan, artinya tidak perlu timbul rasa sesal.

Penyesalan benih depresi

Sejauh mana penyesalan yang diidap seseorang tergantung karakteristik masing-masing individu. Apabila seseorang memiliki sifat optimistis, biasanya tidak mudah larut dalam penyesalan.

Menyesal ya, tetapi segera memperbaiki diri agar tidak mengulang yang sama. Sebaliknya, yang memiliki sifat pesimistis, biasanya mudah larut dan bisa berkepanjangan tanpa akhir yang berujung depresi.

Berikut adalah dampak penyesalan berkepanjangan yang akan merugikan diri sendiri.

Stress (perasaan tertekan dan bersalah)
Trauma (perasaan takut bila menghadapi hal yang sama)
Menyalahkan diri sendiri
Menyalahkan orang lain
Menyakiti diri sendiri
Tidak memiliki semangat hidup
Timbul berbagai penyakit
Hubungan sosial rusak (menarik diri dari pergaulan)
Sering putus asa
Tidak percaya diri
Gangguan mental yang disebut depresi.

Mengatasi penyesalan

Penyesalan memang datang selalu belakangan. Tetapi, menyesali peristiwa yang sudah terjadi dan tidak bisa diulang kembali, merupakan perbuatan yang sia-sia.

Cara untuk mengatasi penyesalan adalah berani menghadapi kenyataan, dengan demikian bersikap optimistis dan berpikiran positif.

Menurut psikolog Agustine Dwiputri yang dikutip dari Kompas (9 April 2016) dan juga dikutip dari berbagai sumber, cara mengurangi penyesalan, yaitu:

Bebaskan diri dari ikatan penyesalan dan miliki keberanian untuk mengambil arah baru dan mengubah sekaligus menghentikan hal-hal yang merugikan diri sendiri.
Tidak mengulangi kesalahan yang sama atau tidak lagi melakukan perbuatan yang berujung penyesalan.
Berdamailah dengan diri sendiri. Bebaskan cengkeraman ikatan emosional masa lalu yang membebani dan menyiksa diri sendiri.
Yakini dan miliki kepercayaan diri mampu mengatasi situasi serta yakin mampu menghadapi tantangan hidup masa depan.
Jangan selalu mengeluh dan menyalahkan orang lain. Saat mampu berhenti mengasihani diri sendiri maka perasaan menyesal akan mereda.
Hindari orang-orang yang hanya "meracuni" saja, yang hanya membuat hidup menjadi pasif. Sebaliknya, bergaullah dengan orang-orang yang berpikiran positif, optimis, selalu memberi semangat. Sehingga hidup menjadi termotivasi, percaya diri, bahagia.
Yakini masalah apa pun pasti berlalu.
Dekatkan diri dengan Tuhan dan mohon pengampunan-Nya, sehingga jiwa menjadi tenang.
Jadikan penyesalan ini sebagai pembelajaran hidup.
Semoga bermanfaat...

(Irwan Suhanda, menyelesaikan kuliah strata-1 di Fisipol jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Indonesia. Bekerja sejak tahun 1987 di PT Gramedia (diperbantukan di harian The Jakarta Post), tahun 1996 pindah ke Redaksi Harian Kompas, kemudian tahun 2003 pindah ke Penerbit Buku Kompas sebagai Editor sampai sekarang.)

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved