Mengenang Hardiknas era Daoed Joesoef, Banyak Hal yang Jauh Lebih Menarik
Selama kegiatan belajar-mengajar dalam satu tahun ajaran, tampak seolah-olah semua murid dan guru, mempersiapkan diri
Oleh: Gerardus D. Tukan
Warga Flobamora
POS KUPANG.COM - Selamat Hardiknas, 2 Mei 2017. Apa kabar dunia pendidikan kita kini? Teringat dulu waktu masih di bangku SD (tahun 1980-an), perayaan 2 Mei itu bagi anak-anak sekolah merupakan saat-saat yang indah. Saat-saat dimana semua murid SD mencurahkan kemampuan atau potensi dirinya dalam berbagai kegiatan.
Selama kegiatan belajar-mengajar dalam satu tahun ajaran, tampak seolah-olah semua murid dan guru, mempersiapkan diri untuk meemperlihatkan kebolehan hasil proses belajar di penghujung tahun ajaran, yakni dalam pekan perayaan Dua Mei (istilah keren waktu itu). Setidaknya ada dua istilah yang dipakai waktu itu yakni Pekan Perayaan Dua Mei atau Pekan Olahraga dan Seni (Porseni).
Pada pekan itu digelar aneka kegiatan, baik kegiatan sosial kemasyarakatan maupun perlombaan. Ada lomba cerdas-cermat mata pelajaran, lomba baca puisi, lomba nyanyi vokal tunggal dan paduan suara, sepakbola, main kasti, gerak jalan beregu, tarik tambang, lari 100 meter hingga lari 5 km, lompat jauh, lompat tinggi, tolak peluru, lempar lembing, lempar cakram, panahan, lomba melukis, deklamasi, lomba mengarang, dan masih banyak lagi.
Jika diingat-ingat sepertinya program dari kementerian untuk merayakan dan memaknai perayaan Dua Mei waktu itu melalui aneka lomba tersebut, menghendaki agar semua murid SD mulai dari kelas 3 sampai kelas 6 terlibat pada setiap mata lomba. Teringat betapa sibuknya semua guru menyiapkan murid untuk setiap cabang lomba dimaksud pada pekan-pekan terakhir sebelum pekan Dua Mei dimulai.
Misalnya, guru yang tidak bisa menyanyi, dipaksa bisa belajar mandiri sebelum menjadi pelatih bagi murid-murid. Begitu juga untuk cabang lomba lainnya. Semua guru tampil sebagai pelatih untuk tiap cabang lomba, sebab seluruh siswa terlibat sebagai peserta. Tetapi syukur, guru-guru kala itu adalah tamatan SPG.
Mereka telah memiliki dasar-dasar saat bersekolah di SPG itu, sehingga tampak tidak ada kesulitan. Mungkin kita patut salut pada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era itu, (Daoed Joesoef), yang menjabat tahun 1978-1983 dalam era Kabinet Pembangunan III masa Orde Baru. Ia seorang pelukis, maka mungkin seperti itu trik rancangannya. Pekan Dua Mei itu selalu dipusatkan di ibu kota kecamatan.
Semua murid dari tiap SD kelas 3 sampai kelas 6), dalam dampingan semua guru, datang berkumpul di kecamatan. Kelengkapan yang harus dibawa tiap murid adalah pakaian, peralatan atau perlengkapan lomba, dan bekal (bahan makanan mentah) untuk ukuran makan selama satu pekan. Tentang penginapan, begini yang dilakukan pada era itu: Siswa-siswa atau murid SD di ibu kota kecamatan dan siswa-siswi pada SD terdekat, menjadi tuan rumah.
Mereka menerima kami untuk menginap di rumahnya. Satu orang murid (tuan rumah) bisa menerima 5 sampai 10 orang. Kami menginap di rumahnya, meskipun nanti bertanding, kami saling berhadapan.
Untuk kegiatan sosial kemasyarakatan, biasanya kami lakukan pagi hari. Setiap pagi, kami dibangunkan pukul 05.00 oleh orangtua asuh atau oleh para guru, lalu menjalani olahraga pagi bersama yang bernama Lari Gembira Pagi Hari.
Meskipun jalan raya di dalam ibu kota kecamatan waktu itu masih berupa jalan tanah, berlubang, berbatu, ada banyak akar pohon melintang, tetapi itu tidak menjadi halangan. Sambil berlari, kami bernyanyi-nyanyi. Maka, ibu kota kecamatan menjadi ramai riuh rendah setiap pagi oleh suara-suara kami. Setelah itu, pukul 06.00, kami berbaur membersihkan pasar, membersihkan lingkungan rumah ibadat atau kegiatan massal lainnya yang dirancang panitia
Tentang penginapan ini, ada hal lain yang sangat berkesan. Kami mendapat dan mempunyai teman baru di tempat kami menginap itu. Lalu orang tua di rumah penginapan itu pun langsung menjadi orang tua asuh bagi kami. Jadi, kalau terlibat mengikuti Pekan Dua Mei sejak dari kelas 3 sampai kelas 6 (selama 4 tahun), maka sudah pasti mempunyai 4 orang teman baru (tuan rumah), dan 4 orang tua asuh.
Selama masa Pekan Dua Mei, jika pergi ke tempat perlombaan, orang tua asuh kerap mengantar kami. Kami jalan kaki beramai-ramai, berbaur dengan teman-teman dari SD lain yang adalah calon lawan tanding, dan juga orang tua serta masyarakat yang akan menonton.
Pada puncak perayaan, yakni tanggal 2 Mei dilaksanakan apel bendera bersama. Orang tua asuh juga menghantar kami ke tempat upacara bendera bersama-sama mengikuti apel bendera, dan setelah itu mereka menyaksikan atraksi-atraksi massal (senam indah) yang dibawakan gabungan peserta. Ada dua nama senam indah yang masih saya ingat yakni Senam Seri D, dan Senam Kesegaran Jasmani.
Pokoknya asyik, menyenangkan dan berkesan jika teringat bagaimana semua murid dari semua SD berbaris rapih memenuhi lapangan bola, dan dengan semangat mementaskan senam secara massal. Biar di bawah terik matahari siang dan alunan musik dari toa berenergi listrik dari accu (aki), tetapi kami tetap semangat. Seusai senam kami bersalaman, berpelukan dan kembali ke kampung halaman masing-masing.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/acara-apel-peringatan-hardiknas-di-lapangan-pancasila_20160502_102038.jpg)