Ceritera Rakyat dan Moral Kepolisian
Dongeng adalah ceitera rekaan, legenda adalah ceritera tentang terjadi sesuatu yang unik dan terkenal, sage adalah
Apa itu karakter? Menurut Kamus Bahasa Perancis: "Le Petit Larousse", (1993), `karakter adalah cara kebiasaan bertindak unik seseorang, kepribadian, penegasan tentang diri seseorang, kekuatan jiwa, apa yang memberikan keaslian dari sesuatu atau seseorang'("Maniere habituelle de reagir propre a chaque personne; personalite, affirmation plus ou moins forte de soi, force d'ame, ce qui donne a quelquechose ou a quelqu'un son originalite").
Menurut versi Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025, karakter adalah nilai-nilai khas yang terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam prilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan kapasitas moral dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.
Dengan demikian dalam dan melalui media ceritera rakyat, seorang anggota Polri yang sementara menempuh pendidikan maupun yang telah bekerja dapat terus- menerus memperbaharui komitmen nilai-nilai mora komunitariannya untuk pembentukan kararakter kemanusiaannya yang adil dan beradab.
Untuk itu, dalam rangka konservasi nilai moral berdasarkan nilai yang terdapat dalam ceritera rakyat, teori etika atau filsafat mora yang kiranya dapat digunakan sebagai alat analisis adalah teori etika keutamaan yang diwariskan oleh filsuf dan teolog Thomas Aquinas` Teori etika atau mora tersebut sebagaimana dikembangkan dalam studi Watu (2016) terdiri dari nilai prudentia (`kearifan'), justitia (`keadilan'), fortitudo (`keberanian'), dan dicipline (`disiplin'). Teori etika keutamaan ini juga terbuka untuk diperkaya oleh teori-teori etika yang lain dan teori-teori kajian budaya pada umumnya, seperti teori dekonstruksi dan teori proses .
Pertumbuhan dan perkembangan moral kepolisian perlu terus-menerus diperbaharui, karena dewasa ini kita berhadapan dengan berbagai fenomena paradoks kebudayaan dalam kehidupan politik di NKRI. Teristimewa muncul dalam gejala politisasi dan kapitalisasi agama.
Ada kelompok yang menjadikan ayat-ayat kitab sucinya untuk menjadi pedoman dan insipirasi dalam tindakan menyucikan dunia politik dengan nilai-nilai kebebasan, kejujuran dan keadilan. Namun di sisi yang lain ada pula yang menjadikan ayat-ayat kitab suci yang sama, justru sebagai inspirasi untuk menjajah, berbohong dan melakukan tindakan diskriminasi, hingga tega untuk merencanakan dan membunuh orang lain, baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatan. Itulah paradoks budaya dalam hidup beragama dan berpolitik di tanah air.
Kembali ke judul opini ini. Mari kita kembali menggali nilai-nilai kearifan lokal kita yang terdapat dalam ceritera rakyat, yang sadar atau tidak, justru menegaskan ideologi kebangsaan kita dan dapat menumbuh kembangkan pertumbuhan moral kepolisian, agar sungguh hadir sebagai Bayangkara Negara yang arif, adil, berani, dan disiplin. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pahami-mitos-mitos-keliru-tentang-tidur-siang_20151229_092721.jpg)