Breaking News

VIDEO

VIDEO: Jangan Remehkan Orang ini yang Suka Membangun Sekolah dan Rumah Ibadah

Drs. Jusak Taneo, S.Th banyak sekali membangun sekolah dan rumah ibadah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) di NTT. Apa Sih Tujuannya

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Novemy Leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Selama menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) tahun 2009-2014 ini, Drs. Jusak Taneo, S.Th banyak melakukan kerja-kerja sosial keagamaan. Mulai dari membangun sekolah-sekolah kristen di wilayah TTS hingga membangun Gereja, Kapela bahkan Mesjid di wilayah-wilayah yang dibutuhkan masyarakat.

Menggerakan Masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan sekolah dan rumah ibadah, menjadi talentanya. Bahkan dana untuk membangun sejumlah sekolah itu dari hasil perpuluhan gaji dan uang makan Jusak dan guru-guru yang beragama Kristen selama beberapa tahun. Semua dilakukan hanya dengan satu tujuan, agar pendidikan bisa ‘menyentuh’ setiap anak yang berada di pelosok wilayah manapun.

Tak saja memikirkan pendidikan dan keimanan, usai pensiun Jusak yang aktif di bidang keagamaan dan politik ini pun menggerakkan masyarakat untuk mau mempersiapkan ‘rumah masa depan’ alias tanah makam. Bagaimana hal itu bisa dilakukan, semua diceritakan oleh Jusak dalam wawancara ekslusif bersama Pos Kupang, awal April 2017 lalu, di keadiamannya di wilayah Lasiana Kupang.

Selamat sore Pak Jusak, apa kabar? Bisa ceritakan kegiatan Bapak usai pensiun ini?

Selamat sore. Puji Tuhan, saya dan keluarga dalam keadaan sehat. Benar, saya sudah pensiun sekitar tahun 2015 lalu. Mengisi waktu luang, saya masih tetap aktif di kegiatan keagamaan di gereja Nazareth Oesapa Timur, di kegiatan sosial dan di politik. Saya juga senang menanam dan berkebun di kebun mertua saya. Aaktu lainnya saya gunakan untuk membaca.

Ya, bagi orang yang sudah pensiun harusnya terus menggerakkan badan dan otak sehingga tidak bosan dan tidak cepat pikun. Saya suka membaca bacaan teologi politik karena hal itu adalah dasar bagi kehidupan manusia. Dengan membaca kita dapat terus mengetahui pengetahuan baru dan kebenaran. Dan hal itu bisa menjadi kekuatan bagi kita terus melakukan kegiatan dan pelayanan bagi sesama.

Pak Jusak, sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten TTS, pernahkan mengalami persoalan yang pelik?

Ya. Saya pernah diperhadapkan pada persoalan terkait Kebhinekaan karena berbagai kepentingan disana. Jika kita lihat dari luar, memang kerukunan dan toleransi disana nampak indah tapi sesungguhnya di dalamnya tidak seindah itu. Jaman itu, masih ada klaim mengklaim di suatu tempat, dimana orang Islam mengklaim diri sebagai agama besar di Indonesia meski di TTS mereka kecil.

Sebaliknya orang Kristen juga mengklaim bahwa Kristen itu terbesar di TTS walau kecil di Indonesia. Klaim itu akhirnya menjadikan kehidupan keagamaan disana sedikit terganggu hingga sampai pada terhentinya pembangunan sebuah rumah ibadah. Ini jika dibiarkan bisa memicu perseteruan besar. Untuk menyelesaikan hal itu saya alami kesulitan karena berhadapan dengan dua pihak. Bagaimana saat itu saya harus bisa mengambil keputusan dan memberi pertimbangan yang dirasa adil bagi kedua pihak itu tanpa mencederai mereka.

Saya benar-benar dilema, ketika bicara di kelompok Kristen, mereka menganggap saya membela kelompok Muslim. Dan ketika bicara di kelompok Islam, mereka menuding saya membela kelompok Kristen karena saya beragama Kristen. Persoalan yang sangat sensitif ini ini sangat menyita waktu. Namun dialog terus dibangun dan saya pun selalu melibatkan Tuhan dalam mengatasi persoalan ini hingga akhirnya sedikit demi sedikit bisa teratasi dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.  

Pak Jusak, saya mendengar bahwa selama sekitar lima tahun menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten TTS, banyak hal-hal menarik yang dilakukan Pak Jusak. Seperti membangun sejumlah sekolah kristen di sejumlah tempat, bahkan tanpa bantuan dana dari pemerintah atau pihak ketiga. Bisa Bapak bagikan cerita itu?

Saat itu, sekolah swasta di TTS hampir tidak mendapat perhatian atau bantuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) TTS karena memang tidak ada aturan untuk bantu sekolah swasta khususnya Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK). Karena itu kondisi SMTK di TTS sangat memrihatinkan, sekolah meminjam ruang sekolah lain, tenaga guru kurang juga pembiayaan gaji guru dan sebagainya.

Hampir setiap hari ada saja guru atau kepala sekolah SMTK yang datang menangis karena merasa tertekan secara psikologis, diperlakukan tidak adil atau karena kurang sarana prasarana. Namun saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga akhirnya saya mendapat inspirasi dan ide untuk bisa mengatasi persoalan sekolah SMTK itu dengan cara sedikit berbeda, yakni pengorbanan tulus.

Apa ide Bapak untuk bisa menolong persoalan guru-guru SMTK di TTS saat itu? Pengorbanan apa?

Saya mengumpulkan para teman guru dan pegawai sekolah SMTK yang beragama Kristen. Lalu kami membahasa dan mencari jalan keluar mengatasi persoalan SMTK di Oekefan SoE. Akhirnya kami sepakati bahwa kami harus berkorban, setiap bulan kami memberikan perpuluhan dan uang makan kami untuk ditabung. Dan uang itulah yang akan digunakan untuk membeli tanah dan membangun SMTK.

Ada sekitar 100 guru beragama Kristen terlibat dan hanya sekitar dua tahun, uang kami sudah cukup untuk membeli tanah seharga Rp 60 juta. Betapa bahagianya kami karena bisa mengatasi persoalan SMTK dan bisa mewujudkan mimpi membangun SMTK. Namun muncul persoalan lain yakni bagaimana membeli bahan bangunan untuk SMTK.

Ya, darimana bahan bangunan untuk SMTK?

Saat membeli tanah untuk SMTK itu masih ada sisa uang untuk membeli sedikit bahan bangunan seperti pasir, batu, semen, paku dan lainnya. Namun untuk kosen pintu, jendela dan seng belum ada. Lalu ada rehab di kantor Kemenag TTS sehingga saya mengambil bahan bekas kosen dan seng dari kantor agama TTS itu dan dan saya sumbangkan untuk SMTK. Dalam perjalanan, saya sempat ditegur dan diperiksa oleh jaksa karena diduga menjualbelikan barang-barang eks gedung kantor agama TTS itu.

Saya lalu menjelaskan dengan bukti dan akhirnya jaksa menerima penjelasan saya itu. Untuk tukang, kami pakai tenaga guru atau keluarga sehingga biayanya tidak mahal. Kami mengerjakan pembangunan sekolah secara swadaya, setiap hari Jumat dan Sabtu, pulang sekolah dan pulang kantor, kami ke lokasi dan bergotong royong mengerjakan gedung sekolah. Akhirnya sekolah SMTK itu diresmikan dengan syukuran tanggal 15 Januari 2015.

Saat itu Pak Eston Funay datang dan menyumbang Rp 10 juta. Bupati TTS juga hadir dalam peresmian sekolah SMTK itu. Kami sangat bangga dan bahagia karena bisa menghadirkan SMTK pertama yang dibangun melalui dana perpuluhan kami.

Langkah apa yang Bapak ambil setelah itu?

Bagi saya, pembangunan sekolah SMTK Oekefan di SoE ini menjadi langkah awal untuk menghadirkan SMTK lainnya di wilayah TTS. Karenanya, saya dan guru beragama Kristen tetap semangat memberikan perpuluhan kami dan akhirnya SMTK-SMTK lainnya hadir di berbagai tempat. Sistem dan kerja kami menjadi pembicaraan dimana-mana, sehingga banyak sekali permintaan dan Puji Tuhan kami bisa merealisasikannya.

Kami kemudian membangun sejumlah sekolah lainnya seperti SMTK Benfomeni di Kapan, SMTK Mathen Luther di Amanuban Timur, SMTK di Noemuke Amanuban Selatan,  SMTK Oelbubuk di Kecamatan Molo Tengah. Juga SMPTK di Baus Kecamatan Boking.

Apa sih tujuan Bapak membangun banyak SMTK di wilayah TTS ?

Saya putra daerah, saya lahir di SoE-TTS. Dan sebagai putra daerah, sebagai anak Indonesia, saya harus bisa menyumbang hal positif bagi bangsa ini, daerah ini, bagi tanah kelahiran saya. Apa yang saya bisa kerjakan? Saya bisa menggerakan masyarakat untuk membangun sekolah, maka saya kerjakan itu dengan sukacita. Saya ingin memperkuat bidang pendidikan melalui pembangunan sekolah SMTK. Jika ingin menunggu pemerintah menghadirkan sekolah negeri di kampong-kampung di TTS, pasti akan lama sekali baru terwujud.

Tapi jika kita bisa memulai menggerakkan masyarakat, menggerakan guru untuk membangun sekolah swasta SMTK, mengapa tidak? Sejak kecil, saya merasakan susahnya mengenyam bangku sekolah dan mendapat pendidikan yang memadai. Karena itu, generasi muda, anak-anak SoE anak-anak TTS saat ini jangan lagi susah mendapatkan pendidikan. Meski hanya sekolah swasta SMTK, saya berharap bisa mendekatkan pendidikan bagi anak-anak TTS. Kehadiran SMTK di berbagai tempat di waliyah TTS, bukan untuk ‘mengkristenkan’ masyarakat, namun agar pendidikan bisa menjangkau seluruh anak-anak negeri di TTS ini hingga ke kampung-kampung.

Terkait pendidikan bagi anak bangsa, apa pikiran bapak untuk mencerdaskan anak TTS, anak NTT, anak Indonesia?

Sama seperti kebanyakan pikiran orang, bahwa untuk mencerdaskan anak bangsa, maka pendidikan formal dan pendidikan informal harus berjalan bersama. Pendidikan harus diterapkan juga sebagai pendidikan holistik, pendidikan keimanan dan keagamaan selain pendidikan intelektual, pendidikan karakter dan emosional. Anak-anak tidak hanya harus menjadi pintar namun juga harus menjadi anak cerdas, berbudi pekerti, berkarakter dan memiliki nilai-nilai hidup yang baik.

Bagaimana untuk mencapai itu, maka pendidikan di sekolah saja tidak cukup. Masyarakat dan lingkungan tempat tinggal dan pergaulan anak-anak ikut membentuk karakter dan kepribadian anak-anak. Karena itu, tanggungjawab itu tidak hanya dibebankan kepada guru, tapi juga masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan terlebih orangtua dan keluarga turut andil dalam mencerdasakan anak bangsa. Kenapa orangtua, karena setiap hari anak-anak akan kembali ke dalam rumah usai dia bersekolah, bermain, bersosialisasi, berorganisasi  diluar rumah.

Dan karenanya, di rumah itulah bersama orangtuanyalah, anak-anak bisa menyaring berbagai informasi dan pengalaman yang didapatnya di luar rumah. Informasi dan pengalaman baik dan buruk, apapun itu. Dan untuk menyaring berbagai informasi itu, maka harus ada dialog yang harmonis dengan orangtuanya. Disitulah anak-anak bisa kembali mendapat pendidikan dan pengajaran yang tepat. Juga keteladanan orangtuanya menjadi panutan bagi anak-anak.

Karena itu, jangan meremehkan rumah, rumah adalah tempat pembelajaran yang baik bagi anak-anak dan setiap anggota keluarga didalamnya. Hal inilah yang harusnya bisa dipahami dan dijalankan oleh setiap orangtua dan keluarga. Anak adalah harta titipan Tuhan kepada orangrtua sehingga orangtua harusnya bertanggungjawab terhadap kehidupan termasuk pendidikan anaknya.

Bagaimana dengan kurikulum dan pendidikan gratis?

Saya berharap agar kurikulum yang diterapkan di Indonesia itu tidak berubah-ubah demikian cepat. Ganti menteri, ganti presiden, lalu ganti kurikulum. Hal ini tidak efektif karena bisa membingungkan guru dan anak sekolah. Hemat saya, kurikulum itu dirubah minimal 10 atau 20 tahun untuk kemudian dievaluasi sehingga kita benar-benar bisa tahu dampak positif dan negatif dari kurikulum itu dan bisa mengambil jalan keluar yang tepat ketika ingin merubahnya.

Pendidikan gratis memang bagus, namun jangan semua digratiskan, harus ada beban dan tanggungjawab orangtua untuk membiayai pendidikan anaknya, agar proses pendidikan itu bisa bermakna. Kalau orangtua tidak keluarkan uang sama sekali untuk pendidikan anaknya, maka orangtua dan anak itu tidak akan merasa berkorban untuk bisa meraih pendidikan itu. Pendidikan itu mahal, pendidikan itu penting, sehingga harus ada pengorbanan untuk bisa meraih pendidikan itu.

Pak Jusak, selain membangun STMK, Bapak juga membangun sejumlah tempat ibadah di wilayah TTS.  Apa tujuan besarnya?

Saya tidak tahu ya, kenapa saya senang membangun sekolah SMTK dan membangun rumah ibadah. Hal itu seperti panggilan hidup bagi saya dan saya senang hati melakukannya meski ada kendala disana sini. Bagi saya, pendidikan dan ibadah itu penting. Kecerdasan penting, akhlak dan moral pun penting. Karenanya saya juga menggerakkan masyarakat mau dan bisa membangun rumah ibadah di wilayahnya. Dan saat ini saya dan masyarakat di TTS sudah membangun sekian banyak rumah ibadah, baik gereja Kristen, Gereja Katholik seperti kapela dan mesjid kecil.

Untuk rumah ibadah, kami mengumpulkan uang dan ada juga donatur. Lalu kami kerjakan pembangunannya bersama-sama. Fisik rumah ibadah yang kami bangun tidak mewah, namun sederhana dan bisa digunakan untuk menjalankan ibadah dengan nyaman. Kami membangun gereja GMIT Kefas Oenae klasis Amanuban Timur,  gereja GMIT Imanuel Oan Anak di Kecamatan Fatukopa, perbatasan TTU Malaka. Kami juga membangun gereja GMIT Ebenhazer Taeneno di Kecamatan Fautmolo, dan gereja Kapela Yohanes Pembabtis di Desa Tunnis di Kecamatan Fautmolo.

Bahkan di Dusun Eonana, Desa Elo, Kecamatan Fautkopa, kami membangun empat rumah ibadah yakni gereja Kapela, Mesjid, Gereja Pantekosta dan Gereja GMIT. Sedangkan ada puluhan gereja yang kami rehab. Ini luar biasa karena seluruh masyarakat bergotong royong membangun berbagai rumah ibadah tersebut. Selain membangun kami juga merehap rumah rumah ibadah. Bangga dan senang karena semua masyarakat turut andil dengan caranya masing-masing. Semua ini terjadi bukan karena hebatnya saya, tapi karena masyarakat juga punya kasih dan Tuhan selalu mengaminkan hal itu.

Saya juga dengar Bapak menggerakan masyarakat untuk membeli tanah untuk ‘rumah masa depan’ alias makam. Apa alasannya?

Orang pasti tidak percaya ya. Saya sudah menyiapkan tanah untuk membuat makam saya dan keluarga ukuran sekitar 5 x 6 meter di Mapoli. Tamah makam itu sudah sudah siapkan sejak tahun 1999 atau 17 tahun lalu. Namun tanah makam itu tidak jadi saya gunakan karena sudah saya berikan kepada guru spiritual saya, Martinus Leobisa yang meninggal beberapa tahun lalu.

Sekarang saya sudah punya tanah makam penggantinya di Oebelo. Saya mau beritahu begini, setiap orang pasti mati kan, tidak ada manusia yang tidak bisa mati. Bagi saya, kita tidak harus hanya mempersiapkan masa depan, kesuksesan dan rencana-rencana untuk keberhasilan dan kesuksesan semasa hidup saja. Namun kita juga harus mempersiapkan ‘kesuksesan’ kita ketika kita meninggal nanti, baik itu keimanan, akhlak termasuk makam. Hal ini saya pelajari dari tokoh Abraham.

Dan saya tidak mau sendirian, saya ingin ada masyarakat lain yang juga bisa mempersiapkan hal yang sama. Karena itulah, mulai tahun 2003 lalu, saya membicarakan ‘rumah masa depan’ ini kepada tetangga dan masyarakat di Lasiana. Dan kami sepakat mengumpulkan uang dan membeli tanah sekitar 1 ha di Oebelo. Tanah itu akan kami gunakan untuk membuat ‘rumah masa depan’ alias makam untuk kami dan keluarga ketika meninggal dunia nanti. Sudah ada sekitar 100-an kepala keluarga (KK) yang memiliki tanah disana, satu KK mendapat jatah sekitar 7 x 10 meter.

Hingga saat ini sudah ada beberapa orang yang dimakamkan disana. Kalau tidak salah, orang pertama yang dimakamkan di ‘rumah masa depan’ kami itu bernama Sophia. Dan kami juga menamakan ‘rumah masa depan’ kami itu sebagai ‘Rumah Sophia’ atau Rumah Kebijaksanaan. Mungkin orang menganggap saya aneh, tapi saya selalu ingin bisa menata kehidupan dan kematian saya dengan baik. Tak ada yang tahu bagaimana masa depan kita seperti tak ada yang tahu kapan dan dengan cara apa kita mati. Karena semua itu adalah rahasia Tuhan. (*)

**********

Jangan Berkelahi di Rumah

DRS. Jusak Taneo, S.Th sangat menekankan sikap toleransi dan komunikasi di lingkungan keluarganya. Menurut bapak empat anak ini, dengan bertoleransi dan berkomunikasi maka segala perbedaan dan persoalan bisa diminimialisir dan diatasi. Karena itu untuk bisa mewujudkan sikap toleransi itu, lelaki berambut uban ini yakni harus mulai dilakukan dari dalam rumah. Caranya Jusak meminta kepada anak-anak dan istrinya untuk ‘Jangan berkelahi di rumah’. Menurut Jusak, perkelahian, pertengkaran disebabkan oleh adanya perbedaan. Perbedaan menyangkut apa saja seperti berpedaan pikiran, perbedaan presepsi atau cara pandang, perbedaan perlakuan, perbedaan keadilan dan lainnya.  Dan untuk mengatasi berbagai perbedaan itu sebenarnya harus ada komunikasi dan sikap toleransi.

Menurut Jusak, setiap orang pasti punya perbedaan, ayah dan ibu, kakak dan adik, orangtua dan anak. Dan perbedaan yang ada itu harusnya bisa kita terima dan hormati dengan cara bertoleransi. Dan toleransi hanya bisa tercipta jika ada komunikasi yang baik diantara orang-orang yang berbeda itu.

“Maka saya selalu minta anggota keluarga untuk berkomunikasi dan bertolernasi jika ada perbedaan. Karena saya yakin, jika kita sudah bisa untuk tidak berkelahi dan bertengkar di rumah karena ada toleransi dan komunikasi yang baik, maka dengan dasar itulah, pasti diluar rumahpun saat kita menghadapi situasi apapun kita juga tidak akan berkelahi dan bertengkar karena adanya perbedaan. Perbedaan bukan untuk dipersoalkan namun diterima dengan baik,” kata suami dari Rachel Riwu ini.

Jusak juga tidak mau terlampau keras dan kasat dalam mendidik anaknya, meski Jusak kecil sering mendapat perlakuan keras dari ayahnya, Stefanus Taneo. “Kami ada 10 bersaudara. Jika kami nakal, bapak akan memukuli kami dan ibu Susana Fallo, tidak bisa berbuat banyak karena bapak sangat keras. Bahkan pada tingkat tertentu, bapak bisa mendatangkan 'tukang pukul' yakni bapa kecil untuk memukuli kami. Tapi saya tetap menghormati  dan menghargai sikap bapak, semua itu dilakukan untuk membuat kami menjadi baik dan disiplin, meski caranya salah. Tapi saya tidak mau cara itu untuk anak-anak saya,” kata ayah dari Dersi, Mifar, Edgar dan Yermit ini. (vel)

 
Nama : Drs. Jusak Taneo, S.Th.

TTL : SoE, 7 Juni 1958.

Pendidikan

Sekolah dasar : SD Negeri Kaeneno 1973.

Sekolah Menengah Pertama : SMP Kristen Kupang 1976.

Sekolah Menengah Atas : SMPP Negeri Kupang 1980.

Perguruan Tinggi :  

S1 Administrasi Negara FIA Undana Kupang 1987.

D3 PAK, Akademi Agama Kristen Protestan Negeri Taruntung 1998.         

S1 Teologia Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta 2004.

Pekerjaan :

Diangkat menjadi PNS 1 Maret 1989.

Kepala seksi Pendidikan Agam Kristen Kanwil Departemen Agama NTT 1991-2000.

Kepala Tata Usaha Kandep Agama Kota Kupang 2000-2006.

Dosen Luar Biasa pada Universitas Artha Wacana Kupang 2000-2006

Kakandep Agama Kabupaten Sumba Timur, 2006-2009.

Dosen Luar Biasa pada Sekolah Tinggi Teologi GKS, Waingapu, 2007-2009.

Dosen Luar Biasa pada Sekolah Tinggi Agama Kristen Kupang, 2009-2014.

Kepala Kantoe Kementerian Agama Kabupaten Timor Tengah Selatan, 2009-2014.

Purna Bhakti dari PNS, 1 Juli 2014.

Wakil Rektor Universitas Karya Dharma Kupang 2015-2016.

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved