Sabtu, 11 April 2026

Waspadai Bencana dan Lestarikan Lingkungan, Inilah yang Perlu Kita Kerjakan

Selain itu, puluhan rumah warga dan gedung sekolah tergenang air serta tanaman pertanian tersapu banjir.

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/ISTIMEWA
Peristiwa banjir bandang yang melanda Desa Wanga, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur. Selasa (4/4/2017) 

POS KUPANG.COM - Hujan yang turun selama bulan Maret hingga awal April 2017 ini di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan bencana tanah longsor dan banjir. Akibatnya, fasilitas umum seperti jembatan dan ruas jalan putus.

Selain itu, puluhan rumah warga dan gedung sekolah tergenang air serta tanaman pertanian tersapu banjir. Bahkan di beberapa daerah, banjir memakan korban jiwa manusia.

Seperti diberitakan Pos Kupang, Senin kemarin, di Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, tercatat delapan rumah warga rusak berat diterjang banjir. Tidak hanya itu, ratusan tanaman pisang di sepanjang Kali Mati di Kota Maumere terbawa banjir.

Lurah Fatu Feto, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Yunda Bunga, saat memantau lokasi rawan longsor di wilayah itu. Senin (25/1/2016)
Lurah Fatu Feto, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Yunda Bunga, saat memantau lokasi rawan longsor di wilayah itu. Senin (25/1/2016) (POS KUPANG/JOHN TAENA)

Sementara di Maubesi, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), dan di Kabupaten Malaka, bencana banjir memakan korban manusia.

Di TTU dua pelajar (satu SMA dan satu SMP) meninggal dunia tersapu banjir ketika keduanya sedang asyik menonton banjir dari atas jembatan. Saat itulah tiba-tiba jembatan putus diterjang banjir dan kedua pelajar bernama Miranda Kefi (usia 16 tahun /SMA kelas 2) dan Fernando Funan (usia 14 tahun/SMP kelas 1) jatuh dan terhanyut banjir. Miranda dan Fernando ditemukan sudah meninggal dunia.

Sedangkan di Kabupaten Malaka, banjir menerjang sejumlah desa menyebabkan rumah- rumah warga tergenang banjir. Hal yang sama terjadi di Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, tiga bangunan sekolah terendama banjir menyebabkan sejumlah fasilitas seperti laptop, buku-buku dan kursi serta berkas sekolah rusak.

Kita belum bisa memprediksikan sampaikan hujan yang kadang-kadang disertai angin kencang berhenti. Sebab, kenyataan dalam satu dua bulan terakhir ini kondisi iklim agak ekstrim, di mana cuaca kadang-kadang panas, lalu tiba-tiba hujan turun, dan begitu seterusnya.

Perubahan cuaca ini tentu berdampak pada banyak aspek. Pertama bisa berpengaruh pada kesehatan manusia, dan kedua terjadi bencana alam ketika perubahan cuaca ekstrim disertai hujan dan angin kencang.

Karena itu, kita harus selalu waspada terhadap bencana akibat perubahan iklim, karena bencana bisa datang kapan saja dan kita tidak bisa mengelaknya.

Selain senantiasa waspada, kita juga harus terus berupaya untuk melestarikan lingkungan hidup. Pasalnya, bencana tanah longsor saat hujan turun karena kawasan hutan sebagai penyanggah air hujan semakin berkurang karena ditebang untuk kebutuhan bahan bangunan, penambangan liar dan lahan pertanian kering tanpa mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan hidup.*

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved