Rabu, 8 April 2026

VIDEO

VIDEO: Hasilkan 2 Kain Tenun Ikat NTT Perbulan Ama Tobi Minta Bantuan Pemda

Dalam jangka waktu satu bulan, Thobias Lomi Ratu alias Ama Tobi, pengrajin tenun ikat NTT, hanya bisa menghasilkan dua kain dengan alat Gedogan.

Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: Agustinus Sape

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Novemy Leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dalam jangka waktu satu bulan, Thobias Lomi Ratu alias Ama Tobi, pengrajin tenun ikat NTT, hanya bisa menghasilkan dua kain tenun dengan menggunakan alat tenun tradisional gedogan. Kain tenun yang berukuran sekitar 2 x 90 cm itu seharga Rp 1.500.000 maka dalam sebulan Ama Tobi mendapat pemasukan Rp 3.000.000.

Saat ditemui Pos Kupang di rumah kostnya di wilayah BTN Kolhua, Sabtu (18/3/2017) siang, Ama Tobi dan istrinya, Dorce Mengi serta saudaranya sedang melakukan proses menenun. Ama Tobi melipat-lipat kain tenun, Dorce mengikat benang dan saudaranya sedang memasak benang untuk pemberian warna.

Ama Tobi mengaku belajar menenun dari ibunya, Nigi Juma, sejak mereka menetap di Kabupaten Sabu Raijua. Saat itu Ama Tobi baru berusia 12 tahun. "Saat kecil, saya lihat-liat mama kerja dan bantu-bantu sedikit. Cari kayu api, cari tumbuhan untuk proses pewarnaan kain. Lalu saya belajar menenun. Saat saya punya mama meninggal baru saya membuat tenun untuk dijual," kata lelaki kelahiran 30 Juni 1979 ini.

Selama di Sabu, kata Ama Tobi, kebutuhan keluarga diperolehnya dari menenun dan istrinya, Dorce selalu membantunya menenun. Tiga tahun terakhir ini, Ama Tobi memilih pindah ke Kupang dan kini tinggal di rumah kos bersama istri dan empat anaknya.

Ama Tobi mengaku, hasil tenunannya lebih banyak menggunakan teknik pewarnaan alami yang diambil dari daun, batang dan akar tumbuhan. Teknik pewarnaan alami ini dipelajari Ama Tobi secara otodidak dari ibunya. "Kalau mau hasilkan warna kuning, saya pakai kunyit dan akar kulit mangga, untuk warna merah dari akar mengkudu atau Loba. Kalau warna hitam dari daun nila," kata Ama Tobi.

Menurut Ama Tobi, pewarna alam lebih baik dibandingkan pewarna sintetik. Kalau pewarna alam, pengerjaan pewarnaan tidak terlalu lama hanya sekitar 2 sampai satu minggu, karena warna sudah ada sehingga hanya tinggal dimasak bersama kain

Sedangkan untuk proses pewarnaan menggunakan pewarna alami, akan memakan waktu lebih lama dan lebih susah dikerjakan. Paling lambat proses pewarnaan itu dikerjakan dalam waktu satu tahun setelah itu barulah bisa dilakukan proses menenun. Sekali pewarnaan, demikian Ama Tobi, bisa digunakan untuk 7 - 10 lembar kain tenun.

"Misalnya, tahun ini peminyakan satu tahun sampai tahun depan, baru proses ikat, proses celup, baru setelah itu bisa melakukan proses tenun. Untuk proses tenun dalam satu bulan bisa hasilkan 2 kain tenun. Saya lebih suka pakai pewarna alami karena warna tidak luntur meski lama dikerjakan," kata ayah empat anak ini.

Harga satu kain tenun yang menggunakan pewarna alami yang dibuat Ama Tobi dijual seharga Rp 1,5 juta sedangkan yang menggunakan pewarna sintetis dijual minimal sekitar Rp 500.000 lebih.

Ama Tobi mengatakan, dia dan istrinya bisa membuat beberapa motif tenun ikat NTT seperti dari Sabu, Rote, Timor dan Flores. "Saya belajar sendiri bikin motifnya, saya lihat motif di kain dan saya coba-coba bikin dan bisa," kata Ama Tobi.

Ama Tobi mengatakan, dalam sebulan dia bersama istrinya bisa menghasilkan 4 lembar kain tenun.  Pasarannya adalah tamu yang datang ke kostnya untuk membeli langsung hasil tenunan itu.

Ditanya modal awalnya, Ama Tobi mengatakan, tiga tahun lalu modal awalnya Rp 2,5 juta dan uang itu digunakan untuk membeli tenun gedogan seharga Rp 700.000 dan sisanya untuk membeli bahan benang dan lainnya. "Saya kumpul modal untuk membeli alat tenun dan bahan benang itu dari hasil jualan ayam yang saya tabung selama beberapa tahun. Sampai saat ini saya tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah," ungkap anak kedelapan dari 12 bersaudara ini.

Ama Tobi sangat berharap bisa mendapat mendapatkan bantuan modal menenun dari pemerintah berupa alat tenun dan bahan benang. Dengan demikian dia bisa mengembangkan usahanya itu. "Semoga saya bisa dapat bantuan dari pemerintah, modal uang ko, benang ko, saya sangat harapkan itu," kata Ama Tobi. (vel)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved