Festival Komodo dan Mimpi Sejuta Turis

Satu yang paling fenomenal dan menggenjot energi atensi publik adalah Festival Komodo. Kegiatan ini berlansung satu bulan

Editor: Dion DB Putra
TWITTER/@VALEYELLOW46
Pebalap MotoGP asal Italia, Valentino Rossi mengunggah foto liburannya di Taman Nasional Komodo, NTT. 

Oleh Sil Joni
Warga Labuan Bajo

POS KUPANG.COM - Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) yang ke-14 versi Bupati Agustinus Ch. Dulla jatuh pada 25 Februari 2017. Untuk mensyukuri momen peringatan hari jadi tersebut pemerintah lokal telah menyelenggarakan aneka kegiatan.

Satu yang paling fenomenal dan menggenjot energi atensi publik adalah Festival Komodo. Kegiatan ini berlansung satu bulan (4 Februari-4 Maret 2017). Pelataran obyek wisata Batu Cermin dijadikan panggung terbuka untuk mementaskan pelbagai kreativitas seni baik yang bernuansa tradisional maupun yang berbalut busana modernitas. Hajatan ini konon menyedot dana sekitar Rp 1,5 miliar.

Waktu, tenaga, dan biaya yang sudah terkuras mesti dibayar dengan pencapaian intensi mulia di balik even seni ini kelak. Pertanyaannya apa target utama yang diburu pemerintah pasca Festival Komodo? Bagaimana upaya konkret dan strategis untuk mendukung? Apakah kegiatan ini berdampak sifnifikan terhadap peningkatan citra dan popularitas Labuan Bajo sebagai destinasi wisata nasional yang termanifestasi dalam bentuk lonjakkan angka kunjungan wisatawan secara drastis?

Sektor turisme umumnya berurusan dengan lima hal, yaitu: aksesibilitas (accessibility), akomodasi (accommodation), atraksi (attraction), aktivitas (activities) dan amenitas. Budaya dan pertunjukkan seni merupakan bagian penting dari aspek atraksi dan aktivitas. Para wisatawan ingin memburu eksotisme dan sensualitas obyek wisata. Salah satunya aktivitas menonton aneka pergelaran seni. Saya kira bidang seni dan kebudayaan ini belum digarap optimal di Mabar. Padahal pengunjung atau wisatawan memiliki hasrat kuriositas (ingin tahu) yang besar tentang keunikan dan keragaman artefak kultural kita. Seharusnya ada "sesuatu" yang disuguhkan secara atraktif kala para turis berkelana di Mabar.

Karena itu, inisiatif dan terobosan Pemda Mabar menyelenggarakan Festival Komodo layak didukung dan diapresiasi tanpa menafikan sisi minus dalam pelaksanaannya. Pemda sudah buka mata sebenarnya Manggarai Barat tidak hanya mengandalkan obyek wisata bahari dan alam saja, tetapi juga obyek wisata budaya dan sejarah yang tidak kalah mengagumkan. Paket wisata yang ditawarkan semakin variatif .

Pemda dan para pemangku kepentingan dalam bidang kepariwisataan mulai memikirkan alternatif untuk mendukung kemasyuran biawak purba, Komodo yang sudah menjadi ikon dan branding pariwisata Mabar. Seremoni peringatan kelahiran kabupaten ini menjadi momentum "pengaktualisasian ide inovatif" tersebut. Pemda sudah mendapat gambaran mengenai komoditas pariwisata lain yang mesti dikelola secara profesional dan mendapat perhatian serius dalam mengeksekusi kebijakan politik berbasis kepariwisataan. Pada sisi yang lain, para pelaku wisata bisa "menyeleksi" atraksi seni mana yang layak dihidangkan kepada para wisatawan berdasarkan observasi dan penilaian selama festival ini.

Harus diakui Kabupaten Mabar tidak pernah kekurangan stok obyek wisata. Kita memiliki keunggulan komparatif yang sangat istimewa. Hanya modal alamiah ini belum mendapat jamahan yang semestinya dari para pengambil kebijakan. Efeknya adalah sektor kepariwisataan belum berdampak signifikan dalam mengurangi atau menekan laju angka kemiskinan di wilayah ini.

Karena itu, sebuah fajar harapan baru terbit ketika Pemda Mabar mengkreasi ruang ideal bagi publik untuk "memamerkan" dimensi lokalitas yang bercita rasa seni dengan kemasan dan mutu yang relatif terjaga. Harapannya adalah Pemda dan para stakeholder kepariwisataan mengakomodasi dan memberdayakan kekayaan tersebut dalam bentuk kebijakan yang pro kebaikan publik. Modal kultural yang ditampilkan tidak sekadar untuk mendapat afirmasi, tetapi menembus level transformasi kehidupan warga. Artinya, kekayaan budaya tersebut harus dikonversi menjadi aset yang sanggup mengubah kehidupan warga. Dengan demikian publik dapat menimba hikmah dari festival tersebut.

Jangan Cuma Seremoni
Pergelaran kreativitas seni dalam bentuk festival tidak sekadar ornamen pelengkap untuk menambah semarak sebuah perayaan. Kita tidak ingin kegiatan ini berhenti pada tataran seremonial. Sebaliknya, Festival Komodo menjadi pintu masuk meroketnya daya magis sektor kepariwisataan. Dengan demikian, mimpi menghadirkan sejuta turis di Labuan Bajo bukan isapan jempol.

Pariwisata meupakan sektor unggulan di Mabar. Namun, kelihatannya keunggulan tersebut baru sebatas retorika atau wacana politis para elit lokal. Kita belum melihat implementasi kebijakan politik spektakuler yang berimplikasi pada peningkatan derajat kemaslahatan publik. Kemauan politik pemerintah lokal kembali diuji. Pemerintah, bagaimana pun mesti berada pada garda terdepan untuk mendorong kesadaran publik memaksimalkan potensi mereka.

Saya kira, sudah saatnya kita memberdayakan segala yang kita punyai untuk mengubah wajah perekonomian. Publik sudah mendemostrasikan secara dramatis pelbagai "kepunyaan" tersebut. Tugas pemerintah adalah menciptakan iklim yang kondusif dan memfasilitasi pengoptimalan kapital sosial yang tercecer di tengah masyarakat. Kemajuan sebuah daerah tidak ditentukan oleh seberapa besar kita menerima donasi politis pemerintah pusat yang terkemas dalam bentuk proyek fisik.

Perubahan ke arah positif, juga tidak ditentukan oleh seberapa banyak aset daerah (seperti Pantai Pede) yang digadai untuk pemenuhan syahwat ekonomis kaum kapitalis. Kesejahteraan akan kita raih jika dan hanya jika kita bekerja keras dan bekerja cerdas serta ditunjang kepemimpinan yang hebat dalam "mengolah" modal strategis dan potensial yang berseliweran di wilayah kita.

Festival Komodo, dengan demikian, tidak dimaknai sebagai kata benda yang statis, tetapi sebagai kata kerja yang dinamis. Goal kita adalah pelaksanaan agenda aksi politis yang bermuara pada perubahan kualitas kehidupan warga di semua lini. Sukses dan proficiat Pemda dan rakyat Mabar! *

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved