Penguatan Imunitas Diri Praktis bagi Masyarakat
Dengan pendasaran tersebut, kesehatan seseorang hanya ditentukan oleh dua hal, yaitu makanan dan minuman
Oleh Pius Weraman
Dosen FKM Undana; Pegiat LPTK Kupang
POS KUPANG.COM -Konsep Penguatan Imunitas Diri (PSID) adalah konsep baru dalam dunia keilmuan. Konsep ini menunjukkan bahwa diri manusia terdiri atas jiwa sebagai institusi jiwa sebagai suatu institusi dan tubuh sebagai yang lain yang membentuk organisme yang disebut sebagai manusia. Oleh karenanya treatment yang harus diberikan dalam menanggulangi berbagai jenis penyakit harus meliputi institusi jiwa dan institusi tubuh sekaligus.
Dengan pendasaran tersebut, kesehatan seseorang hanya ditentukan oleh dua hal, yaitu makanan dan minuman untuk tubuh dan jiwa. Makanan untuk tubuh adalah what you eat dan makanan untuk jiwa adalah what you do. Apa yang dilakukan selalu terjadi dalam relasi yang unik dan utuh dari individu dengan Allah, sesama, alam semesta dan diri sendiri (Porat A, 2013).
Pandangan ini melahirkan sebuah adagium baru yaitu jiwa yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat (corpus sanum in mentem sanam). Adagium lama, mens sana in corpore sano, sudah tidak dapat dipergunakan lagi. Cara berpikir seperti ini mengantarkan setiap individu untuk menjadi "tuan" untuk kesehatan masing-masing dalam melakukan aktivitas setiap hari.
PSID sudah teruji dari berbagai intervensi yang dilakukan melalui evidens based yang berlaku mulai tahun 2013 melalui riset interdisipliner terhadap beberapa penyakit melalui pasien yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas. Menurut data Lembaga Psikologi Terapan Kupang, sudah lebih dari 1.000 pasien yang ditangani secara formal dengan data riil dari penanganan ibu hamil sampai pada penanganan penyakit menular.
Penanganan ibu hamil telah mencapai di atas 500 orang yang umumnya telah menyelesaikan persalinan anak yang sehat dan tampaknya lebih cerdas dari anak yang lain jika dilihat dari perkembangan anak tersebut ketika dilakukan monitoring dan evaluasi bagi kegiatan yang ada di setiap rumah tangga yang ditangani.
Laporan riset penanganan malaria yang dilakukan terjadi di Kabupaten Lembata, Sikka, dan Manggarai Timur tahun 2014 telah mendata dan melakukan intervensi untuk menyembuhkan. Selain itu, penyembuhan juga dilakukan untuk pasien lain dengan berbagai penyakit seperti tumor, autis, kegemukan, hypertensi, gangguan jiwa (psikopat), HIV-AIDS, kusta. Singkatnya, penyakit menular dan tidak menular dapat disembuhkan dengan pasien yang menyebar di seluruh Indonesia termasuk yang datang dari luar negeri.
Hasil riset ini memiliki banyak kesesuaian dengan apa yang disebutkan dalam Teori Relasi Perilaku Sehat LPTK dan kenyataan riil yang dialami oleh setiap pasien yang bersedia menerima tawaran riset intervensi yang sudah berlangsung sejak tahun 2012 sampai dengan saat ini dan berlangsung terus sepanjang manusia masih membutuhkan pertolongan.
Ketika mereka dan keluarga bersedia untuk diintervensi, maka setiap pasien akan melakukan apa yang disampaikan oleh LPTK. Yang disampaikan lebih berhubungan dengan sejumlah aspek sekaligus. Pertama, aspek fisiologis yang berhubungan dengan makanan dan minuman yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi.
Kedua, aspek psikososial seperti hal-hal positip yang sebaiknya selalu dimiliki oleh setiap individu untuk mempertimbangkan bagaimana suatu tindakan yang memberikan kenyamanan yang berkelanjutan. Dengan kata lain, relasi merupakan aktus jiwa supaya tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, "menjadi" ada dan hanya ada jika ada relasi.
Dengan relasi, seseorang bisa menerabas kehidupan melampaui keterbatasan tubuh material.
Relasi itu tidak hanya ada pada manusia. Relasi juga ada pada tubuh material kebendaan. Relasi kebendaan itu terbatas. Relasi itu sebatas relasi internal yang mengikat kesatuan unsur-unsur. Relasi itu tidak membangun relasi dengan yang lain di luar dirinya sendiri. Relasi ini tidak cukup kuat untuk mengubah lingkungan menjadi diri kebendaannya. Inilah yang dipelajari oleh ilmu kimia, fisika dan ilmu-ilmu aplikatif lainnya. Dan itulah yang disebut dengan relasi fisika.
Relasi fisikalistis internal ini tidak mengubah lingkungannya menjadi dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena tidak ada yang disebut jiwa. Dengan kata lain, relasi ini murni fisik, tanpa adanya satu kekuatan yang mengubah lingkungan luar menjadi dirinya sendiri.
Ilmu kedokteran atau ilmu medis lainnya sangat peduli pada relasi internal kebendaan ini. Karenanya, ilmu tersebut mempelajari unsur-unsur yang membentuk tubuh yang dalam bahasa medisnya disebut sebagai jantung, lever, pembuluh darah, dan sebagainya, serta komposit pembentuknya.
Sebagai konsekuensi dari sudut pandang ini, sakit atau sehat tergantung pada kelengkapan atau kekurangan unsur-unsur pembentuknya dan relasi di antaranya. Sebagai contoh, tekanan darah tinggi yang dipompa dari jantung bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah. Relasi internal fisikalistis ini penting karena tubuh material manusia terdiri atas unsur-unsur dan relasi seperti itu. Dengan demikian, ini penting untuk dipelajari sungguh-sungguh. Sekali lagi, itu untuk relasi murni fisikalistis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-dokter_20161107_081747.jpg)