Delhi International Art Festival

Dari Kautilya Marg, Sasando Sesumbar Taklukkan India

Diplomasi budaya melalui tari dan seni sangat efektif di India untuk menjalin kerja sama lintas negara

Penulis: Benny Dasman | Editor: Benny Dasman
POS KUPANG/NOVEMY LEO
Alat musik sasando 

POS KUPANG.COM-Delhi International Arts Festival (DIAF) 2016 edisi kesepuluh bergulir marak. Festival budaya bergengsi di dunia. Gemanya menghembus ke seluruh pelosok mancanegara. Momen ekstravagansa budaya menghangatkan musim dingin di India.

Di Purana Qila, Newa Delhi, 12-26 November 2016, para kreator genre, klasik dan kontemporer seni visual, musik (modern/tradisional), tari, teater, pedalangan, puisi, sastra dan film, berunjuk kebolehan. Publik India, kalangan diplomatik, pegiat seni dan budaya, para mahasiswa dan undangan premium dibuat terkesima.

Bagi Indonesia, DIAF tak sekadar medan untuk menguber Namaste Wonderful Indonesia dengan pelbagai atraksi seni dan budaya, tetapi menjadi platform untuk diplomasi budaya yang sangat efektif.

"Diplomasi budaya melalui tari dan seni sangat efektif di India untuk menjalin kerja sama lintas negara," ujar Rizali W Indrakesuma, Duta Besar Indonesia di India, di KBRI New Delhi, Jumat (18/11/2016).

Menurutnya, diplomasi budaya Indonesia dilakukan sebagai bagian dari upaya soft power untuk meningkatkan citra positif Indonesia di mata internasional serta meningkatkan people to people contact.

Sementara Pendiri DIAF, Pratibha Prahlad, melukiskan edisi DIAF tahun 2016 untuk merekatkan hubungan yang harmonis dengan pencinta seni dan musik dari negara-negara lain.

"Saya percaya bahwa seni itu memanusiakan, seni tidak hanya membuat persahabatan tetapi membuat persahabatan berlangsung seumur hidup," ujarnya.

Sebelumnya, Indonesia juga menggebrak di arena DIAF 2015
edisi kesembilan. Saat itu, Tari Saman dilakonkan dengan sempurna oleh home staff dan staf KBRI New Delhi. Juga dipentaskan Tari Puspanjali, Legong Mintaraga, Legong Lasem, Tari Taruna Jaya, Joged Bali dan Legong Kuntul. Semua tari ini dikreasikan oleh tim tari Ayu Bulan binaan Dr. Bulantrisna Djelantik. Pun ikut menggebrak, Tari Sigale-Gale dan Peplangi Budaya Nusantara oleh tim Melati Suci dan Pemerintah Kota Binjai, Sumatera Utara.

Pada DIAF 2016 dan Namaste Wonderful Indonesia Festival 2016, Indonesia kembali menghipnotis India. Tim kesenian angklung dari Jawa Barat dan musik tradisionil Sasando dari Nusa Tenggara Timur (NTT) tampil memesona.

Angklung, musik tradisional Jawa Barat, membius publik India di Nehru Park Chanakyapuri, 29 Oktober 2016. Sementara musik tradisional NTT, Sasando, mengalun sendu di KBRI New Delhi, Jumat (18/11/2016). Kawasan Kautilya Marg, Chanakyapuri, New Delhi, bergetar.

Jemari Jhoni LK Theedens, pegiat seni NTT, lincah menari-nari memetik dawai sasando, alat musik tradisional khas Pulau Rote. Meskipun suhu dingin menusuk kulit, Jhoni tidak kehilangan kepiawaiannya. Vibrasi dawai petikannya menggetarkan udara, membuat Dubes Indonesia di India, Rizali W Inderakesuma; Wakil Duta Besar Indonesia di India, Dalton Sembiring; Minister Counsellor, Mozes Tandung Lelating, home staff dan staf KBRI News Delhi serta para tamu kehormatan dari negara- negara sahabat, tak henti-hentinya berdecak kagum.

Dengan bersemangat, Jhoni yang mengenakan pakaian tradisional Rote lengkap dengan topi tiilangga --topi anyaman daun gebang khas Nusa Tenggara Timur--berusaha mengalahkan hiruk-pikuk sekitar kawasan Kautilya Marg. Upaya Jhoni berhasil. Dubes India dan para tamu kehormatan terpikat oleh penampilannya.

Tepuk tangan terdengar setiap kali Jhoni selesai membawakan lagu. Lagu Indonesia Tanah Air Beta dan lagu-lagu daerah NTT membahana memecah keheningan. Sasando menjadi primadona. Jhoni Theedens sontak menjadi 'artis' diserbu penggemar untuk selfie.

"Sasando ini seperti kita main musik harpa ya, asyik," ujar Rizali Inderakesuma ketika jari jemarinya mencoba memetik sasando. "Pak Dubes ini pemusik, pasti bisa main sasando," ujar Minister Counsellor, Mozes Tandung Lelating, disambut tepuk tangan para tamu.

Rizali Inderakesuma menyebut sasando sebagai musik tradisionil yang unik dan telah diakui masyarakat dunia. Dan, DIAF 2016 sebagai salah ajang untuk melestarikannya agar dapat dikenal ke seluruh mancanegara.
Lain lagi bagi Mozes Tandung Lelating. Diplomat yang sudah bertugas di enam negara, termasuk di Vatikan, ini memendam kerinduan. Dia berobsesi agar musik sasando tak hanya tampil pada acara-acara profan di India tetapi juga mengalun sendu di gereja-gereja mengiringi lagu-lagu rohani sebagai promosi pariwisata NTT.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved