Redesain Buku Pelajaran Bahasa
Menurut Sitepu (2005:120), aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam redesain buku pelajaran bahasa ialah isi
Oleh Antonius Nesi
Mahasiswa Program Magister PBSI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
POS KUPANG.COM -Persoalan yang kerapkali dihadapi dalam pembelajaran bahasa ialah apakah buku-buku pelajaran wajib, juga buku-buku pelajaran komersial, dapat menjawab kebutuhan siswa? Salah satu solusi yang bisa ditempuh para guru bahasa ialah melakukan redesain buku pelajaran.
Solusi ini mengacu pada pendapat Richards (2001:260), yakni "Jika guru tidak dapat menerbitkan buku ajar sendiri (author, creator), setidaknya ia menjadi penyedia bahan ajar yang baik (provider) bagi siswa. Artinya, ia dapat memilih, mengevaluasi, dan mengadaptasi bahan ajar yang sudah ada secara relevan dari buku-buku pelajaran yang sudah ada".
Dalam KBBI (2008), redesain merupakan bentukan dari kata desain. Desain sendiri bersinonim dengan kerangka, rancangan. Desain, yang mendapat bentuk terikat re-menjadi redesain, dalam konteks buku pelajaran memiliki arti perancangan kembali. Redesain, dengan demikian, dimaknai sebagai suatu proses pemilihan dan adaptasi bahan ajar dari beberapa buku pelajaran berdasarkan analisis kebutuhan siswa.
Menurut Sitepu (2005:120), aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam redesain buku pelajaran bahasa ialah isi (konten), tata bahasa, dan ilustrasi. Konten materi dalam buku pelajaran harus memenuhi beberapa syarat, yakni kesesuaian dengan kurikulum, kebenaran dan urutan konsep, dan alat evaluasi. Konten harus sejalan dengan kurikulum. Artinya, materi di dalam buku pelajaran dapat menjawab standar dan kompetensi dasar kurikulum. Urutan konsep yang logis dapat memudahkan siswa untuk menginternalisasi ilmu (cf. Nation dan Macalister, 2010:24).
Sejalan dengan telaah konten, aspek tata bahasa dan ilustrasi merupakan hal penting yang mesti diperhatikan dalam buku pelajaran. Seiring hakikatnya sebagai alat komunikasi, bahasa dalam buku pelajaran harus dikemas secara baik dan benar (sesuai konteks dan taat asas). Ilustrasi berfungsi sebagai penjelas konsep, dapat berwujud gambar, sketsa, bagan, grafik, peta, tabel, dan lain-lain. Ilustrasi memungkinkan siswa lebih cepat memahami intisari konten.
Model Terkini
Menurut Richards (2001:255, cf. Nation dan Macalister, 2010:25), buku pelajaran bahasa model terkini perlu didesain sedemikian rupa untuk digunakan dalam cara yang berbeda dalam program bahasa. Sebagai contoh, buku pelajaran membaca adalah dasar untuk mencapai keterampilan membaca, yaitu dengan menyediakan seperangkat teks bacaan dan latihan untuk praktik membaca. Sebuah buku menulis dapat memberikan suatu model komposisi dan daftar topik bagi siswa untuk berlatih menulis mengenai topik-topik tersebut.
Buku tata bahasa dapat berfungsi sebagai referensi pengetahuan tata bahasa. Sebuah teks berbicara dapat dirancang sekalian dengan kaset atau CD yang bisa berfungsi sebagai input utama kegiatan menyimak.
Berdasar pada uraian di atas, penulis mengusulkan redesain buku pelajaran bahasa Indonesia secara lebih spesifik. Pertama, buku pelajaran tata bahasa (grammar). Hemat penulis, tidak semua teori tata bahasa dimasukkan di dalam buku pelajaran bahasa. Tata bahasa dimanfaatkan untuk mendukung pencapaian keterampilan berbahasa siswa dan dapat disesuaikan dengan tingkat satuan pendidikan siswa. Integrasi tata bahasa di dalam pembelajaran dapat diwujudkan dalam berbagai macam aktivitas dan latihan. Sebagai contoh, materi tentang kalimat efektif dapat dikemas dalam bentuk latihan kuis atau isian singkat.
Selain itu, agar menarik bagi siswa, materi kalimat efektif dapat dibuat dalam bentuk kasus. Beberapa kalimat ambigu, misalnya, akan sangat menarik perhatian siswa. Dengan beberapa kalimat ambigu, siswa diminta untuk mengkritisi kalimat-kalimat tersebut, membuat klarifikasi dan kesimpulan.
Kedua, buku pelajaran keterampilan menyimak dan berbicara (listening and speaking). Dalam buku pelajaran ini, kegiatan menyimak dipadukan dengan kegiatan berbicara. Aktivitas ini juga berkaitan dengan pemilihan media dan materi. Media dan materi harus dipertimbangkan berdasarkan tingkat kemampuan dan usia siswa. Di tingkat SMA, misalnya, materi menyimak dan berbicara dapat mengambil beberapa bentuk praktik seperti debat, pidato, diskusi, seminar, dan lain-lain.
Praktik-praktik tersebut akan sangat membantu siswa untuk mampu mengartikulasikan secara benar dan kritis pelbagai fenomena yang disimaknya, entah melalui rekaman (tayangan video, atau online) ataupun menyimak langsung dalam praktik (misalnya praktik pidato seorang siswa yang disimak siswa yang lain). Jika demikian, dalam redesain buku pelajaran untuk keterampilan ini, buku pelajaran perlu dilengkapi (dilampirkan) dengan beberapa alat atau media pembelajaran (fisik) atau panduan media online (situs resmi sekolah).
Ketiga, buku pelajaran keterampilan membaca dan menulis (reading and writing). Keterampilan membaca dapat dipadukan dengan keterampilan menulis di dalam pembelajaran bahasa. Integrasi ini dirancang untuk memudahkan siswa dalam membaca dan menulis berbagai jenis paragraf. Sebagai contoh, dalam menulis paragraf argumentasi untuk makalah ilmiah dibutuhkan beberapa buku sumber sebagai referensi. Untuk membuat kutipan tidak langsung, misalnya, siswa perlu memahami isi dari sebuah topik dalam buku yang relevan dengan topik yang hendak ditulisnya, lalu membandingkannya dengan buku sumber lain.
Dengan membahasakan sendiri ide yang didasarkan pada buku sumber, siswa dipandu untuk menulis paragraf argumentasi dengan sistem rujukan yang tepat.
Ketiga jenis buku pelajaran tersebut dapat dirancang secara lebih inovatif dan sederhana untuk mengatasi buku-buku pelajaran kurang kontekstual dan tak terjangkau. Kehadiran buku-buku pelajaran yang lebih spesifik ini tentu akan sangat memberikan manfaat dalam pembelajaran tata bahasa dan pencapaian keterampilan berbahasa siswa. Selamat berinovasi.*