Bernatal di Dunia yang Tidak Ramah
Jangan takut sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa
Oleh: Pdt. Dr. Ebenhaizer Nuban Timo
Pendeta GMIT, Tinggal di Salatiga
MUNCULNYA malaikat di Efrata dengan berita: "Jangan takut sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa" menjadi tema yang ditetapkan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia sebagai tema perayaan Natal tahun 2016. Apa kiranya makna berita itu bagi orang Kristen Indonesia yang hendak merayakan Natal?
Seruan jangan takut mengandaikan adanya teror. Ini kedengaran aneh. Pentas politik Roma dalam pemerintahan Kaisar Agustus waktu itu relatif damai. Tahun 42 SM Agustus dinobatkan sebagai Allah. Sebuah mata uang logam diproduksi dengan gambar wajah Kaisar Agustus dan ditulis di bawahnya divi filius (Anak Allah). Tahun 10 SM dibangun sebuah altar di kota Roma untuk penyembahan Kaisar. Agustus dipuja sebagai juruselamat dunia (the savior of the world) dan kota-kota di Asia kecil menjadikan hari kelahiran Agustus sebagai perayaan tahun baru (Robert J. Miller. Born Divine.. 55). Bagaimana mungkin ada teror?
Sekitar tahun ke-5 dan 4 SM Agustus memberi perintah untuk sensus jiwa. Sensus selalu berhubungan dengan pajak. Sensus adalah kata lain dari teror kepada rakyat, terutama mereka yang terpinggirkan. Orang-orang kecil, miskin, papa, nista dan tak berpenghasilan takut mendengar perintah sensus jiwa. Mereka dihantui pertanyaan: "Dari mana dapat uang untuk bayar pajak kepada Kaisar?" Sensusnya Agustus, sang Juruselamat dunia mendatangkan kepanikan dan ketakutan dalam kerajaannya. Gembala-gembala di padang, malam itu dihantui ketakutan ganda. Dunia sekeliling mereka gelap. Gosip tentang sensus menambah hitamnya ketakutan mereka. Dalam situasi itulah Lukas bercerita bahwa seorang malaikat muncul dan berkata: "Jangan takut! Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus.
Jemaat mula-mula yang membaca kitab Lukas langsung bisa mengerti pesan yang mau disampaikan dengan mensejajarkan Yesus dan Agustus. Ini sebuah gaya bersaksi yang bernada satire, olok-olokan tingkat tinggi. Agustus, "anak Allah dan juruselamat dunia" dalam tanda petik mengeluarkan perintah yang menimbulkan ketakutan. Dalam kesombongannya Agustus mengeluarkan perintah sensus yang dijadikan Allah momen untuk mewujudkan kelahiran Yesus di Betlehem. Agustus menyebar kepanikan, membangkitkan ketakutan dan menciptakan malapetaka bagi kaum papa. Sementara juruselamat dunia dan anak Allah yang sejati membangkitkan sukacita besar. Kepada kaum minoritas dan terpinggirkan seperti gembala-gembala disediakan seorang juruselamat.
Menurut kata sang malaikat, juruselamat itu berbaring dalam palungan dan dibungkus dengan lampin. Ini benar-benar kontras dengan istana, tahta dan jubah kain sutera yang dipakai sang Kaisar. Lukas lagi-lagi membuat paradoks. Pendapat umum di kalangan warga gereja ialah bahwa tempat kelahiran Yesus adalah kandang domba. Tetapi agaknya Yesus tidak dilahirkan dalam kandang domba. Tempat paling tepat bagi kelahiranNya adalah di ruang penitipan keledai milik para pelancong. Letaknya tidak jauh dari losmen. Tentulah Yusuf dan Maria mengendarai keledai dari Nazaret ke Betlehem. Kelahiran di tempat penitipan keledai diperkuat oleh dua tanda lain yang disebutkan oleh malaikat, yakni palungan dan lampin. Menurut Yesaya 1:3 palungan adalah tempat makan keledai. Sementara menurut Yehezkiel 16:4 lampin adalah kain-kain kusam dan kumal di punggung keledai yang berfungsi sebagai alas duduk.
Kelahiran Yesus dalam bingkai pemikiran Lukas menandai permulaan the new story of man and woman dan the new history of the world. Dengan menampilkan paradoks tadi Lukas hendak menunjukkan bahwa medan pemberitaan gereja akan the new story of man and woman adalah dunia penuh teror. Kedatangan raja damai disambut dengan berbagai macam penolakan, baik yang diberi legitimasi yuridis yakni dekrit raja maupun dalam bentuk-bentuk aksi jalanan seperti sikap tidak ramah dan penolakan penduduk Betlehem memberi kamar penginapan bagi Maria untuk melahirkan.
Tanda bagi kelahiran juruselamat dunia adalah seorang bayi dalam palungan dan terbungkus dengan lampin. Ini bukan dongeng, kabar burung dan berita kosong, melainkan sebuah fakta historis. Hampir semua agama dunia, juga agama-agama kaum pagan berbicara tentang dewa-dewi sebagai penyelamat. Orang dari berbagai tempat dan masa suka bercerita tentang dewa-dewi, ilah-ilah, roh-roh di langit yang menjelma jadi manusia. Roh-roh angkasa memakai tubuh manusia untuk bertemu dan berkontak dengan manusia. Dongeng orang Kupang tentang nama Kelurahan Nunhila menunjuk hal itu. Seorang nona diculik dan dibawa pergi oleh seekor buaya yang menjelma jadi pemuda ganteng pada malam bulan purnama ketika penduduk Kupang berkumpul dekat pantai Teluk Kupang untuk menari merayakan sukacita pesta panen. Para penari laki-laki mengejar si buaya yang membawa gadis itu ke dalam laut sambil berteriak: "Nona Hilang! Nona Hilang!" yang kemudian disatukan menjadi Nunhila (Le Grand. De Timor-Bode, No. 68 Desember 1921).
Para ilah dalam agama pagan memang suka menjelma menjadi manusia. Penjelmaan itu bukan untuk membawa selamat, melainkan mendatangkan malapetaka. Kepada para gembala malaikat Tuhan berkata: "Kamu akan menjumpai seorang bayi di dalam palungan, terbungkus dengan kain lampin." Injil juga berkisah tentang yang ilahi menjadi manusia, Tuhan yang kekal masuk ke dalam waktu. KedatanganNya membawa kesukaan bagi dunia: bukan teror, bukan juga malapetaka. Karen Amstrong dalam bukunya yang sangat terkenal: SEJARAH TUHAN mengatakan bahwa para ilah dalam agama pagan hanya ada dalam mitos, kultus dan dongeng-dongeng. Tidak demikian halnya Allah dari Injil. Dia menampakkan diri dalam peristiwa-peristiwa langsung yang konkret, bukan dalam mitologi dan liturgi.
Dalam mitos, legenda dan dongeng-dongeng para ilah, dewa mengubah diri menjadi manusia dengan maksud memperalat manusia, merampok dan menghancurkan identitas dan kehidupan manusia. Dewa-dewi menjadi manusia untuk menggunakan manusia bagi kesenangan dan keselamatan dewa-dewi. Karen Amstrong (1991: 53-70) menunjukkan perbedaan yang sangat tajam antara Allah di dalam Alkitab dengan ilah-ilah bangsa pagan. Ilah-ilah pagan sangat bergantung kehidupannya pada manusia. Mereka membutuhkan sesajen untuk bertahan hidup. Menjaga kelangsungan hidup alam dan sejarah merupakan pekerjaan yang menguras tenaga para dewa-dewi pagan. Mereka membutuhkan makanan dan minuman dari manusia. Darah dan daging binatang kurban berguna untuk membuat dewa-dewi terus bersemangat.
Injil bersaksi tentang Allah yang tidak membutuhkan sesajen dan kurban. Allah tidak hanya mengurbankan diri bagi manusia dan dunia dengan masuk dalam sejarah. Justru Allah yang menyediakan segala kebutuhan manusia. Allah bukanlah ilah-ilah pagan yang mengasingkan diri dari hiruk-pikuk sejarah dan dunia. Ia yang berada di luar memutuskan menjadi manusia, masuk dalam waktu bukan menuntut kurban dan sesajen, melainkan memberikan manusia kehidupan yang penuh, memberi sentosa dan keselamatan. Allah menjadi manusia untuk memikul derita, aib, kesengsaraan dan hukuman dosa sebagai pengganti manusia supaya manusia kembali menjadi anak-anak Allah. Malaikat bilang kepada para gembala supaya mereka tidak perlu takut. Allah masuk dalam sejarah, menjadi manusia untuk membebaskan dan menyelamatkan. Dia bukan seperti dewa-dewi yang hanya ada dalam mitos dan ritus serta menuntut banyak dan membebani manusia dengan berbagai kewajiban.
Inilah latar belakang berita kelahiran Yesus yang disampaikan malaikat kepada para gembala di Efrata. Lukas hendak menegaskan bahwa penyebar teror, pembuat dekrit yang mendatangkan ketakutan dan penderitaan kepada rakyat sebenarnya bukanlah juruselamat dunia, betapa pun gelar itu memiliki legitimasi yuridis. Pembuat dekrit yang mengakibatkan penderitaan adalah antitype juruselamat. Seruan: Jangan Takut yang mengawali berita kelahiran juruselamat hendak menegaskan bahwa Allah tidak tinggal diam berhadapan dengan teror dalam berbagai bentuk. Allah bekerja melalui dekrit yang memang mendatangkan ketakutan bukan hanya untuk menyingkapkan kebodohan yang arogan dari para pembuat dekrit, tetapi juga untuk memperlihatkan kepada orang-orang tebusanNya bahwa ada juruselamat yang membebaskan dari ketakutan.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pohon-natal_20151123_193020.jpg)