Sepenisasi
Mulai bulan November, apalagi Desember, Kota Kupang menjadi asyik di mata kita karena bunga sepe yang sering juga diberi nama bunga
Ayo, Tanam Pohon Sepe
Oleh Anton Bele
Pemerhati Lingkungan, Tinggal di Kupang
POS KUPANG.COM - Sepe. Ini nama yang biasa dipakai orang Kupang untuk pohon flamboyan. Dalam bahasa Buna', koban. (Bahasa Buna' itu dipakai oleh suku Buna' di Kabupaten Belu). Nama ilmiah dari pohon sepe, Poinciana regia. Namanya saja indah sekali. Cocok untuk pohonnya. Karena begitu indah dan megahnya pohon ini waktu berbunga, maka ada istilah, flamboyan untuk orang yang berpenampilan menarik campur kocak dan terkadang lupa injak tanah.
Mulai bulan November, apalagi Desember, Kota Kupang menjadi asyik di mata kita karena bunga sepe yang sering juga diberi nama bunga Desember atau bunga Natal mulai berkembang memerah di mana-mana. Satu pemandangan yang unik, khas Kota Kupang. Memang masih jarang, tetapi sudah mulai tumbuh di mana-mana.
Sekarang kita di Kota Kupang sedang sibuk memilah calon untuk memilih Walikota dan Wakil Walikota baru untuk lima tahun ke depan, 2017 -2022. Ah, betapa indahnya kalau dua orang ini, nanti siapa yang terpilih, Walikota dan Wakil Walikota mempunyai rencana mengajak warga Kota Kupang untuk menanam pohon sepe. Ramai-ramai tanam sepe. Sepenisasi.
Bayangkan, kalau jalur jalan, bahagian tengah, mulai dari Bandara El Tari sampai depan Kantor Gubernur, ditumbuhi secara teratur, pohon sepe. Bukan hanya Jalan El Tari saja. Jalan-jalan lain pun bisa dihias dengan pohon sepe. Kota Kupang menjadi Kota Sepe. Pakai saja nama ini, sepe, biar asyik.
Kalau orang Jepang bangga dengan sakura, orang Belanda, tulip, mengapa kita di Kupang tidak boleh bangga dengan sepe? Pohon buah-buahan tetap ditanam seperti sukun, mangga, nangka. Itu berbuah dan kita makan. Sepe untuk dilihat. Manusia bukan hidup hanya dari makan, tetapi juga dari melihat. Mulut makan, mata lihat. Sukun untuk perut, sepe untuk mata.
Saling melengkapi. Mana ada orang perut tanpa mata atau mata tanpa perut. Harus dua-duanya. Dari mata turun ke perut, dari perut naik ke mata. Dari mata turun ke perut itu, sukun. Dari perut naik ke mata itu, sepe. Boleh dikaitkan dengan nama tempat, Naimata. Mirip. Falsafahnya, ialah: orang senang perlu kenyang. Itu sukun. Orang kenyang perlu senang. Itu sepe. Kenyang-Senang, Senang-Kenyang. Lengkap.
Bayangkan, kalau halaman kantor-kantor ditata dengan rindangnya pohon sepe. Kepala Kantor bisa pimpin apel bendera di bawah naungan sepe, arahannya segar dan mekar seperti bunga sepe. Pegawai dengar di bawah naungan sepe ditiup angin sepoi-sepoi. Arahan pasti meresap. Bayangkan kalau tentara dan polisi berolah-raga di sela-sela tegaknya pohon sepe. Tubuh tegap siap bela negara dan amalkan kamtibmas. Bayangkan kalau dosen-dosen bersama mahasiswa-mahasiswinya berdiskusi di bawah pohon sepe yang sedang mekar.
Ilmu jadi apa? Yah, meresap sampai ke sumsum. Bayangkan kalau guru-guru dan siswa-siswi mulai dari Paud sampai esemu/esemka (SMU/SMK) se-Kota Kupang berdiri menghirup ilmu di bawah rindangnya pohon sepe yang tumbuh di setiap halaman sekolah, pasti semua ceria. Bayangkan kalau semua Gereja, Masjid, Mushola, Pura, dihiasi merahnya bunga sepe, dapat dipastikan doa akan lebih khusyuk diluncurkan kepada Sang Khalik. Pasti khotbah-khotbah akan lebih diresapi oleh umat yang mendengar dengan mata menyala karena merahnya rona warna sepe.
Bayangkan kalau toko-toko, sejauh ada tanah di halaman, dihiasi dengan pohon sepe yang bunganya merah menarik. Ako dan Aci pasti lebih bergairah menjual dagangannya. Pembeli pun datang tanpa banyak promosi. Bayangkan kalau setiap rumah makan, resto, KFC, warung, halamannya ditumbuhi pohon sepe, di musim panas, rindang, di musim hujan, riang, piring bersih, sate patah, sambal ludes. Pemilik senang, pengunjung kenyang.
Itu pengaruh sepe. Bayangkan kalau taman-taman dihiasi bunga sepe, kawula muda lama bergurau lupa berkelahi. Para manula pun lama duduk termangu lupa pulang rumah karena nikmatnya lambaian dedaunan sepe dengan bunga merah bergelantungan di setiap ranting. Bayangkan kalau setiap hotel, penginapan, rumah penduduk untuk home-stay dihiasi halamannya dengan rindangnya pohon sepe dan mekarnya bunga sepe.
Pasti tamu akan berdatangan dan berlama-lama tinggal di Kupang tanpa pikir rupiah dan dollar deras mengalir ke luar kantong. Sepe itu multi-fungsi, pohonnya tinggi, daunnya rindang, bunganya mekar, warnanya merah, kotanya meriah, warganya ceria.
Bayangkan kalau setiap puskesmas, poliklinik, rumah sakit, dihiasi dengan pohon sepe, pasti semua dokter dan para tenaga medis semakin bergairah merawat pasien dan kesembuhan dapat cepat terjadi karena para pasien terhibur oleh indahnya bunga sepe. Indahnya alam, apalagi dipercantik dengan indahnya bunga, termasuk bunga sepe, membuat setiap orang tubuh sehat, otak segar, nurani murni.
Di mata angan-angan saya sebagai penulis, ada perpaduan yang luar biasa asri, warna putih pakaian para dokter dan perawat, berpadu dengan warna merah bunga sepe. Merah di atas, putih di bawah. Merah-putih. Itu kalau musim sepe berbunga. Sayang sepe tidak berbunga pada bulan Agustus. Kalau tidak, wah, upacara bendera Tujuh-belas Agustus di rumah sakit bisa jadi sangat alamiah, bunga sepe berwarna merah di atas dan di naungannya para insan medis berbusana putih. Merah-putih sungguhan, alamiah. Waduh!
Bayangkan kalau setiap rumah penduduk di Kota Kupang ini memelihara satu batang pohon sepe. Apa yang akan terjadi pada bulan Desember? Natal dan Tahun Baru akan benar-benar jadi pesta meriah lahir-batin. Warga Kota Kupang akan berjingkrak ria di bawah pohon sepe yang bunganya merah menyala menambah semaraknya lagu "ke kiri-kiri, ke kanan-kanan". Pohon sepe menawarkan seribu satu keceriaan.
Kita semua tahu, ciptaan Tuhan itu mempunyai tiga sifat, 3-B. Baik, Benar, Bagus. Dalam bahasa Latin, bonum, verum, pulchrum. Maksudnya, Baik itu memenuhi hasrat, Benar itu sesuai aturan, Bagus itu memuaskan rasa. Salah satu ciptaan, sepe, Baik kalau ditanam secukupnya sampai tidak mengganggu tanaman lain, Benar kalau ditanam beraturan oleh kita manusia, Bagus kalau dinikmati indahnya oleh setiap mata yang memandang.
Sepe memenuhi tiga sifat ini, Baik-Benar-Bagus (bonum, verum, pulchrum). Mengapa kita tidak ramai-ramai tanam dan rawat sepe? Masyarakat menanam. Baik. Pemerintah mengatur. Benar. Semua kita menikmati. Bagus. Ini filsafat alam, filsafat sepe.
Sepenisasi. Ada informasi, Dinas Kehutanan sudah menyiapkan anakan sepe. Bisa diambil dan ditanam. Jangan tanya, untuk apa, bisa dimakan? Untuk makan, tanam sukun. Untuk taman, tanam sepe. Ingat, orang Belanda tidak makan tulip, orang Jepang tidak makan sakura. Tapi mereka bangga dan negeri mereka ramai dikunjungi orang hanya untuk lihat bunga-bunga itu. Sebut tulip, ingat Belanda. Sebut sakura, ingat Jepang. Sebut sepe, ingat Kupang.
Mengapa kita di Kota Kupang tidak buat Kota Kupang menjadi Kota Sepe? Kupang Kota Sepe! Ternyata sepanjang pantai mulai dari Tablolong sampai Lasiana bisa ditumbuhi pohon sepe. Di tempat yang ada rawa-rawa, yah, tanam bakau. Tetapi di tempat yang ada tanah dan karang, sepe bisa tumbuh. Bayangkan, sepanjang garis pantai Kota Kupang diberi bingkai merah menyala bunga sepe.
Di musim hujan akan ada keterpaduan warna, lautnya biru, pantainya putih, pesisirnya merah, daratannya hijau. Biru, putih, merah, hijau. Daya tarik dan daya pikat yang luar biasa akan terpampang di muka setiap orang termasuk para wisatawan. Jadi kota wisata, Kota Sepe. Kota Kasih, bagus. Itu untuk hati, tapi untuk mata, yah, Kota Sepe. Untuk lidah, yah, Kota Se'i. Banyak nama, tidak apa. Lebih banyak lebih baik. Asal ada arti yang baik untuk diingat dan disimak. Kota Karang? Yah, julukan itu bisa menambah semangat untuk hidup bertahan, tapi kurang menawan. Kota Sepe! Keren!
Sepenisasi! Mulailah di Kota Kupang. Kota-kota lain boleh mulai. Serentak. Mengapa tidak? Ini bukan tiru-meniru. Saling menjiplak. Tidak. Serentak membuat sesuatu baik dan bermanfaat, apakah salah? Tidak. Hei, jangan kota sentris. Tidak boleh hanya berpusat pada kota.
Bahaya urbanisasi. Setiap kampung, penghuninya boleh sekali tanam sepe. Kantor-kantor desa, puskesmas, asrama-asrama, pos-pos keamanan, sekolah-sekolah, rumah-rumah ibadat, di mana pun saja di Nusa Tenggara Timur ini, sepe bisa ditanam. Tetap pegang dua kata ini: kenyang-senang, senang-kenyang. Sebagai contoh: sepe untuk senang, sukun untuk kenyang. Kenyang saja, tidak cukup. Diabetes! Senang saja, tidak cukup. Pelancong! Harus sepe-sukun, sukun-sepe. Ini simbol kenyang-senang, senang-kenyang.
Sebenarnya sepe itu tanaman tropis.Jadi seluruh Indonesia ini cocok untuk sepenisasi.*