Basarnas Tambah Satu Armada , Tim SAR Fokus Pencarian Korban di Sekitar Lokasi Kecelakaan KLM CPA

Tim SAR dari Kabupaten Selayar hari ini (Senin, 21/11/2016) bergerak ke lokasi kecelakaan KLM Cahaya Putih Abadi (CPA) di sekitar Pulau Lambegu, Kabup

Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Alfred Dama
POS KUPANG/DION KOTA
Dua kapal milik Basarnas Kupang sedang mencari Viktor R. Balllo di perairan Pelabuhan Tenau Kupang, Jumat (9/1/2015). 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Adiana Ahmad

POS KUPANG.COM, MBAY -- Tim SAR dari Kabupaten Selayar hari ini (Senin, 21/11/2016) bergerak ke lokasi kecelakaan KLM Cahaya Putih Abadi (CPA) di sekitar Pulau Lambegu, Kabupaten Selayar, Propinsi Sulawesi Selatan.

Namun hingga pukul 17.30 Wita Tim SAR belum berhasil menemukan korban.

Menurut rencana, pada Selasa (22/11/2016) Basarnas akan menambah satu unit armada dan 15 orang personil dari Basarnas Makasar ke lokasi untuk memperkuat tim SAR Kabupaten Selayar.

Hal itu disampaikan Staf Pelaksana Kantor Unit Pelaksana Pelabuhan (KUPP) Marapokot, Deany Arisandi ketika dihubungi melalui telepon genggamnya, Senin (21/11/2016) malam.

Baca: KM Cahaya Putri Abadi Tenggelam Dihantam Gelombang, 4 Penumpang Kapal Belum Ditemukan

Deany mengatakan, pada pencarian pertama Tim SAR Selayar yang berkekuatan tujuh orang hanya menyisir di sekitar lokasi tenggelamnya kapal.

Namun pada Selasa (22/11/2016) area pencarian diperkirakan akan diperluas setelah Basarnas memastikan akan menambah satu kapal dan 15 personil dari Makasar ke lokasi untuk membantu pencarian para korban.

Sementara dalam penjelasannya, Senin siang, Deany mengatakan, secara fisik kondisi kapal layak berlayar.

"Kapal layak berlayar. Tidak ada over muatan karena muatan masih dibawah muatan maksimal. Cuaca ketika kapal keluar dari Pelabuhan Marapokot, Jumat (18/11/2016) juga cerah. Laut juga teduh. Karena itu kita keluarkan izin untuk berlayar," demikian Deany.

Deany juga mengungkapkan, dari sisi keamanan berlayar, KLM CPA cukup aman karena ada life jaket atau pelampung. Soal alat pemancar pemberi isyarat bahaya, Deany mengaku, tidak ada karena memang untuk KLM (kapal layar motor) tidak diwajibkan.

Soal keberadaan empat orang penumpang di KLM CPA, Deany mengaku, tidak tahu karena saat kapal akan berangkat pihaknya sudah menginstruksikan penumpang yang bukan kleder/ pengantar ternak untuk turutn dari kapal.

"Ketika kapal mau berangkat kita turunkan tujuh orang. Sementara empat orang ini, menurut pemilik kapal sebagai kleder. Kalau dibilang kecolongan, mungkin kami kecolongan karena kecelakaan sudah terjadi. Tetapi kami benar-benar sudah meminta mereka turun," kata Deany.

Deany mengakui petugas pelabuhan tidak sempat memeriksa kapal karena keterbatasan personil. "Kami hanya umumkan minta mereka turun. Tetapi pemilik kapal bilang itu kleder, kita percaya saja," katanya.

Deany menambahkan, pihaknya tidak berani mengeluarkan izin berlayar kalau kapal tidak layak berlayar sesuai SOP yang ada.

Deany kemudian menggambarkan SOP di Pelabuhan sebelum dikeluarkan Izin berlayar. Pertama, pemilik kapal atau nahkoda member informasi ke syahbandar tentang rencana berlayar kapal, rencana muatan, perkiraan muatan serta menunjukkan dokumen yang disyaratkan . Kalau kapal ternak, katanya, harus mampu menunjukkan dokumen dari karantina.

"Selanjutnya, kita periksa dokumen kecakapan nahkoda dan petugas mesin. Permohonan dokumen pemutan harus sinkron dengan dokumen karantina. Kemudian kleder atau pengantar hewan. Setelah semua dokumen lengkap dan perlengkapan berlayar aman, dan informasi dari BMG aman, baru kita keluarkan izin berlayar," jelas Deany.*

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved