Refleksi Demonstrasi, Polri dan Cakar Garuda
Komunitas umat beriman yang melakukan demonstrasi itu berkumpul di Masjid Agung, mereka berdoa bersama, dan kemudian bersama-sama ke Istana Negara.
Oleh: Dr. Watu Yohanes Vianey, M.Hum
Dosen Unwira Kupang
ADA banyak pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa demonstrasi 4 November. Saya tertarik dengan tata cara demonstrasinya. Ada kesan demonstrasinya seperti sebuah "liturgi". Liturgi adalah istilah khas keagamaan yang artinya 'perayaan iman'. Dalam dan melalui liturgi tersebut komunitas umat beriman mengungkapkan imannya pada Yang Sakral, seraya berdoa agar permohonanan yang terkait dengan hakekatnya sebagai makhluk 'serba butuh' (bedurftiges wesen) dikabulkan oleh Dia. Di hadapan 'Allah Yang Mahatinggi' (El Elyon, Dewa Zeta), semua gejolak keinginan dan pemuasan kebutuhan manusia dan komunitasnya itu sesungguhnya "telanjang" di hadapan mata-Nya.
Komunitas umat beriman yang melakukan demonstrasi itu berkumpul di Masjid Agung, mereka berdoa bersama, dan kemudian bersama-sama ke Istana Negara. Setelah memperoleh kesepakatan dengan pemerintah untuk mendesak Polri melakukan penyidikan dalam waktu dua minggu, mayoritas dari mereka kembali lagi ke masjid untuk ibadah. Sepanjang proses demonstrasi mayoritas dari mereka setia menyebut dan mengagungkan 'Allah Yang Mahabesar' dan kesucian Kitab Suci-Nya.
Bagaimana refleksi terhadap peran Polri ketika menjaga keamanan demonstrasi 4 November? Apakah ada di antara mereka mengawal proses demonstrasi dengan mempertimbangkan visi liturgis tersebut? Demonstrasi sebagai sebuah praktik liturgi kehidupan itu, apakah mengizinkan pembiakan kata-kata makian dan seruan pembunuhan kepada sesama yang diserupakan dengan "hewan yang haram"? Di akhir demonstrasi imani tersebut, terjadi kerusuhan kecil dari sekelompok kecil pendemo yang gila menusuk anggota polisi dan merusak taman kota.
Demonstrasi Imani
Aspirasi yang kudus dan santun telah direspons oleh Polri. Polri menggelar proses penyidikan sesuai dengan janji untuk menyelesaikannya dalam waktu dua minggu. Prosesnya didoakan dilakukan secara tegas, adil, dan transparan. Namun ada pula aspirasi yang berisi ungkapan kebencian satanik dan makian demonik, yang konon juga ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia. Jenis aspirasi yang non liturgis itu, juga direspons oleh Polri.
Polri dan TNI sukses mengawal demonstrasi imani. Ada anggota Polri yang juga setia berdoa dan memakai busana yang islami. Sekian anggotanya juga menjadi korban kebrutalan beberapa pengacau demonstrasi imani itu. Anggota Polri yang mengucurkan darah segar ketika mengamankan para pemuda perusuh yang mengotori demonstrasi 4 November itu, adalah bagian integral dari eksplisitasi korban demonstrasi sebagai praktik liturgis itu. Dari korban kekerasan (victims) bertransfigurasi menjadi tindakan pengorbanan pada Tuhan Yang Maha Esa, bagi keutuhan bangsa dan negara (to sacrifice). Maka, bagi saya, anggota Polri yang menjadi korban kebrutalan itu adalah pahlawan bangsa aktual, yang berani mewujudkan tugas dan panggilan hidup dengan mengobarkan jiwa bhayangkara, bagi perawatan damai sejahtera bangsa. Tindakan Polri seperti itu, eviden memuliakan Tuhan Yang Maha Esa yang diimaninya dan membanggakan anak-anak dan Ibu -Bapa Pertiwi.
Lalu bagaimana refleksi terhadap kelompok kecil demonstran yang brutal dan buas, yang terefleksikan dalam ucapan kebencian dan perbuatan penyerangan fisik itu? Secara akademis, Greenwalt (1996), dalam "Fighting Words: Individuals, Communities and Liberties of Speech" menegaskan bahwa ucapan kebencian adalah ujaran dan atau tulisan yang dibuat seseorang di wilayah publik sebagai ekspresi kebebasannya (actus hominis) untuk tujuan mewartakan dan memantik kebencian sebuah kelompok terhadap kelompok lain yang berbeda, baik karena ras, agama, etnisitas, gender, kecacatan dan orientasi seksual.
Dalam konteks etika politik di NKRI, yang dipentaskan di wilayah publik melalui aksi demonstrasi dan lain-lain, pantaskah yang berbeda atau yang lain (the other) dari komunitas imannya diujarlabelkan sebagai kaum kafir, kaum munafik, kaum anjing dan babi, dsbnya? Bukankah ujaran serupa itu eviden merusak kohesi sosial Bhineka Tunggal Ika, yang setia dicengkram kokoh oleh kuku cakar Burung Garuda Pancasila?
Cakar Garuda Pancasila
Burung Garuda adalah makhluk langit. Dia adalah agen tentara langit, yang salah satu tugasnya untuk membela kebenaran dan menghalau yang jahat. Burung Garuda menjadi totem kebangsaan NKRI yang mencengkram prinsip Bhineka Tunggal Ika dan di prisai dadanya memuat lambang suci ideologi Pancasila. Dalam lapisan tradisi budaya Nusantara, makhluk langit ini disebut dengan berbagai nama, namun mempunyai fungsi yang relatif sama yaitu menjadi pemburu setan dan antek-anteknya. Sebagai misal, dalam tradisi Jawa Kuno, Garuda itu disebut burung Jatayu, yang menolong Rama (Reinkarnasi Arjuna), untuk membebaskan Dewi Sinta dari keserakahan Raksasa Rahwana. Dalam tradisi Bajawa Kuno, analogia entis dari makhluk langit itu disebut Jata dan salah satu emanasi identitasnya adalah Tangi Toro Biza Meze (Reinkarnasi Kua Sigawunga) yang mempunyai kuasa untuk menyembuhkan dan membangkitkan Ne Tepa atau Ne Lelu yang telah dimutilasi dan dicincang oleh kekejaman ayahnya sendiri.
Siapa Rahwana kontemporer yang bernafsu menculik Sinta Pertiwi? Siapa ayah kontemporer yang tega membunuh secara terencana "Tepa Pertiwi" atau "Lelu Pertiwi", yang adalah anak kandungnya sendiri? Siapakah agen makhluk langit yang berperan seperti Jatayu (Jawa Kuno) atau Tangi Toro Biza Meze (Bajawa Kuno) yang dewasa ini bertransfigurasi menjadi Garuda Pancasila di NKRI? Apakah hanya Polri, TNI, NU, Gus Dur (Gusdurian), Ibu Megawati, Buya Safii Maarif, PDIP, KWI, Partai Nasdem, DPR, GMNI, HMI, PMKRI, Presiden Joko Widodo, Gubernur Frans Lebu Raya, Najwa Shihab, Metro TV, Pos Kupang, dll., yang setia membela prinsip Bhineka Tunggal Ika yang dicengkram kuku Garuda Pancasila? Indonesia adalah kita semua dari Merauke sampai Sabang, dari Rote sampai Sangir Talaud. Agen Garuda Pancasila adalah kita semua. Jangan gara-gara Pilkada 2017, kita mengabaikan berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa bagi kejayaan Nusantara.*