Rumah Gendang Tenda Tempat Hunian Bersama Masyarakat
Pembangunan rumah adat ini dilakukan secara bersama-sama, melibatkan seluruh elemen masyarakat.
POS KUPANG.COM, RUTENG - RUMAH itu berdiri kokoh menjulang tinggi. Menampilkan konstruksi yang kuat dalam 'perkawinan' yang serasi dengan aspek seni bertingkat tinggi. Di hadapannya terdapat hamparan kampung yang disebut sebagai natas (halaman). Di natas itu, batu-batu tersusun rapi membentuk compang (mesbah) melahirkan kesan anggun dan sakral.
Tak jauh dari compang terpampang jelas ratusan pekuburan dalam aneka bentuk. Juga dalam kesan yang sama: rapi!. Ada ketakjuban yang sulit diungkapkan dengan kata tatkala bersemuka dengan perkampungan tradisional Tenda di Kota Ruteng.
Di tengah-tengah kampung menjulang tinggi rumah adat yang disebut sebagai mbaru gendang. Di sekitar rumah itu, rumah-rumah penduduk melingkari natas. Di tengah-tengah berdiri compang tempat persembahan dan doa yang menjadi tanda pemisah antara orang yang masih hidup dengan yang sudah meninggal.
"Mbaru gendang ini baru mulai dibangun tahun 2013. Mbaru gendang lama sudah tidak memadai lagi," kata Kanisius Teobaldus Deki, Ketua Pembangunan Mbaru Gendang kepada Pos Kupang di Tenda, Rabu (11/10/2016) pagi.
Menurut Kanisius, pembangunan rumah ini amat berbeda dengan rumah adat sebelumnya. Pada rumah sebelumnya, modelnya seperti layaknya rumah biasa, bersegi empat dan ditinggali oleh utusan klan (wa'u). Namun kali ini, rumah adat ini dibangun dengan terlebih dahulu menggali filosofi orang Manggarai.
Tetua Adat Tenda, Agustinus Palu Barut, bertutur, rumah ini membentangkan secara nyata filosofi orang Manggarai, yakni Gendang Onen Lingkon Pe'ang. Yang berarti, rumah sebagai pusat kehidupan dan kebun komunal sebagai penyanggah kehidupan. Rumah ini menjadi simbol bagi orang Manggarai untuk sadar bahwa kehidupannya berpusat pada rumah sebagai komunitas dan kerja sebagai upaya menghasilkan sesuatu.
Rumah Bersama
Pembangunan rumah adat ini dilakukan secara bersama-sama, melibatkan seluruh elemen masyarakat.
"Dalam budaya Manggarai, pelibatan semua pihak kerap disebut wan koe etan tu'a, pa'ang olon ngaungn musin. Intinya, semua yang mendiami tanah ulayat (lingko) Gendang Tenda terlibat mengerjakan dan membiayainya," jelas tetua adat, Agustinus.
Agustinus menambahkan, rumah adat yang dikerjakan tanpa melibatkan semua pihak secara aktif cenderung tidak bernilai bagi pemiliknya. Akibatnya, rumah itu tidak menjadi kebanggaan bersama. Bahkan ada beberapa rumah adat di Manggarai tidak berpenghuni. Efek yang muncul adalah rumah itu cepat rusak. Rumah yang sedang dibangun ini kemajuannya sudah mencapai 75%.
Ketua pembangunan rumah adat ini seorang yang masih berusia muda. Ketekunan, ketelatenannya serta kerja kerasnya sebagai pemimpin proyek membuahkan hasil.
"Rumah ini dibangun atas swadaya murni. Mula-mula kami membuat kajian tentang filosofi rumah adat, bertemu untuk mendiskusikannya dan merancang secara bersama. Uniknya, pemilihan pengurus atau panitia pembangunan melibatkan semua pihak dan dilakukan secara demokratis. Akhirnya, para tetua adat (Tu'a Golo, Tu'a Panga, Tu'a Teno) mempercayakan saya untuk mengerjakannya," kata Kanisius.
Menurut Kanisius, dengan melibatkan para sarjana teknik, ekonomi, lingkungan dalam tim kerjanya, membuat pembangunan rumah ini menjadi mungkin. Demikian halnya tatkala mengangkut kayu, menggali fondasi, ritual-ritual adat, masyarakat dilibatkan secara aktif dan kreatif. Kehadiran para warga kampung dengan multi profesi ini sangat banyak.
Destinasi Wisata
Ketika membahas kemungkinan rumah adat dan kampung ini menjadi destinasi wisata, Kanisius terlihat termenung. Menurutnya, jika melihat bentuk rumah adat ini ada beberapa bagian sudah tidak asli lagi. Misalnya, atasnya yang dulu ijuk, kini diganti seng dan tiang-tiang kolong yang dulu kayu kini terbuat dari semen cor.
Namun, dia menyadari bahwa budaya selalu berdinamika. "Kami memiliki daya tarik filosofis, bentuk dan makna. Secara filosofis ini mempresentasikan pola hidup orang Manggarai, bentuknya sudah tersentuh arsitektur modern dan maknanya sebagai rumah bersama. Ada delapan kamar di dalamnya, tujuh kamar untuk utusan klan (wa'u) dan satu kamar untuk tamu (meka) yang mau menginap baik tamu lokal, nasional pun mancanegara. Kami menawarkan pola hidup komunalisme. Hidup bersama beberapa keluarga dalam satu rumah masih mungkin. Ini representasi kehidupan orang Manggarai yang rukun dan senantiasa bersatu-padu. Kita terus berbenah. Untuk destinasi wisata unsur manusianya yang pertama dibetulkan. Konsep dan praktek pariwisata sangat bergantung pada pola pikir (mindset) manusianya. Yang lain tinggal ikutannya," jelasnya lancar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/rumah-gendang-tenda_20161023_203130.jpg)