Berkisah tentang Santo Mikhael
Kerinduan menjadi imam dan ketaatan pada aturan sangat dilematis. Keinginan pribadi terkadang kandas pada aturan umum.
Dirgahayu Seminari Tinggi Santo Mikhael ke-25
Oleh: Romo Inosensius Nahak Berek, Pr
Alumnus Seminari Tinggi Santo Mikhael
MEREKAM kisah dulu di pinggiran kota Kupang arah Penfui, rasanya tak usang untuk diretas. Banyak ceritera bisa diukir. Beribu kenangan sulit dilepas. Ada kisah indah penuh pesona. Terbersit catatan kelam dalam ingatan. Bila diramu dalam goresan kata, tentu jemari tangan tak sanggup menari mengurai kata hingga titik terakhir. Begitu banyak ulasan sejarah tertumpah di bukit gersang, yang dulu sepi ibarat tak berpenghuni.
Bisa dibayangkan. Perjalanan waktu bergerak tanpa dibendung. Walau dalam hitungan matematis angkat 25 bukanlah nilai fantastis yang membanggakan. Namun berbeda dengan hitungan waktu bagi Almamater Seminari Tinggi Santo Mikhael. Apa yang telah diukir lembaga pendidikan ini di mata alumninya? Pasti beragam versi akan didapat. Tak hanya itu. Terkandung pula nilai lebih yang membanggakan.
Berceritera tentang liku hidup selalu menyenangkan. Sedikit menggelitik bila menyentil perasaan. Ada duka yang melukai hati. Menarik dan membekas. Silih berganti menuai rasa. Itu sangat normal. Semua itu mengandung makna. Bisa belajar dari pengalaman. Ada kesan menata hidup demi masa depan. Semua yang terjadi tersimpan kekuatan makna untuk diamini. Saatnya untuk berkaca diri.
Makna Pembinaan Demi Pelayanan
Mengenyam ilmu di lembaga pendidikan calon imam selalu menyimpan perasaan dag-dig-dug. Kerinduan menjadi imam dan ketaatan pada aturan sangat dilematis. Keinginan pribadi terkadang kandas pada aturan umum. Kemauan berekspresi bisa dipangkas karena kondisi yang ditemui. Bisa saja di satu sisi menjengkelkan. Banyak kata omelan terlontar di relung terdalam. Dibiarkan redup sendiri tanpa harus butuh bantuan pihak ketiga.
Pergulatan batin yang dihadapkan pada formasi pendidikan memberi banyak peluang pada pembentukan karakter. Membina mental untuk tidak bertindak atas maunya sendiri tanpa peduli pada orang lain. Mengembangkan semangat penghargaan akan keberadaan sesama, dengan membangun niat bela rasa. Gaya pembinaan yang masih melekat di pikiran hingga detik ini, tidak bertendensi pada keuntungan pribadi. Selebihnya tertuang dalam cakupan karya pastoral dalam pelayanan karitatif.
Terapan kedisiplinan memberi harapan untuk mampu mematangkan kepribadian. Mengangkat nilai pelayanan. Mengedepankan kemandirian bukan pemaksaan konsep yang berbentur pada perkembangan diri. Bahkan sedikit memberi peluang mengatur kedisiplinan diri. Tentu sangat membanggakan karena nilai kemandirian diutamakan tanpa melupakan prinsip pembinaan spiritual.
Komitmen Berpastoral
Tantangan di abad 21 ini bukan perkara ringan. Sekarang ini, manusia terjebak dalam konsep 'konsumstif atau konsumerisme'. Berhadapan dengan maraknya kondisi dunia yang penuh tanda tanya, ke mana lembaga pembinaan calon imam ini (baca: Seminari Tinggi Santo Mikhael) akan memposisikan diri?
Ungkapan pergi dan wartakan Injil yang dirumus dalam bahasa alkitabiah masih sangat aktual untuk dijalankan. Model pembinaan yang diterapkan lebih terarah pada komitmen berpastoral. Pendekatan dengan pelayanan kasih. Mendekati tanpa diminta. Melayani tanpa mengharapkan pujian. Seluruh isi pelayananan berporos pada Kristus sendiri. Titik acuan untuk berkarya. Fokus dalam pelayanan.
Mewartakan kebaikan menjadi cerminan khas untuk dilakukan. Namun banyak kendala yang ditemui. Bisa dirasakan dalam kondisi riil. Bermodalkan kata-kata, pelayanan akan pudar daya 'magis'nya. Mengambang hingga melemahkan visi pelayanan. Kekuatan bahasa tak pernah mengalahkan gerakan pelayanan yang dibagikan walau hanya sebentar.
Justru kekuatan kata-kata dalam paduan pembinaan sebagai sinyal untuk mencari sasaran. Mendepankan keutamaan kasih akan membuahkan kebajikan. Menanamkan nilai kemanusiaan dengan bermuara pada semangat injili. Kasih yang sejati tidak semata satu sentilan kata hampa. Membias tanpa arah pasti. Nampak ada ketimpangan bila ditemui banyak kata hampa yang lebih terbuai arus zaman.Tantangan kehidupan yang dialami tidak semata memandekkan langkah untuk maju. Ini langkah perubahan.Temukan kemandirian untuk pembaharuan. Matangkan konsep dalam pengolahan jati diri.
Butuh Proses Menuju Hasil
Ada ungkapan bijak yang bisa memberi kesempatan untuk berpikir. "Jika kamu ingin mengubah hidupmu, maka kamu harus memutuskan untuk segera melakukannya, bukan menunggu." Kata 'melakukan' bertendensi memberi amanah untuk bertindak. Keluar dari zona nyaman kepada aksi yang berorientasi pada hasil. Memang benar. Segala tindakan hendaknya diakhiri pada hasil. Jika tindakan tanpa hasil akan terbias pada lemahnya daya juang untuk maju.
Santo Fransiskus dari Sales berkata, "Bersabarlah dengan segala hal, tetapi terutama bersabarlah terhadap terhadap dirimu. Jangan hilangkan keberanian dalam mempertimbangkan ketidaksempurnaanmu, tetapi mulailah untuk memperbaikinya. Mulailah setiap hari dengan tugas yang baru." Sentuhan katanya pun sarat makna. Mulai sesuatu dengan hal yang baru. Penegasan diarahkan pada hasil yang ingin diperoleh.
Untuk mencapai hasil diperlukan semangat untuk bertindak. Mengambil langkah pertama membangun niat dan kerja. Perpaduan keduanya berujung pada hasil. Mencintai proses sama halnya merindukan hasil optimal. Tak seorang pun mampu meraih hasil sempurna dengan menyelepelekan proses. Ada usaha pertanda ada niat. Mengupayakan hasil artinya mencintai proses.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/imam-baru_20160930_011458.jpg)