Breaking News

Sikap Budaya Para Presiden

Pameran lukisan koleksi Istana Presiden, "17/71: Goresan Juang Kemerdekaan", di Galeri Nasional Indonesia

Editor: Rosalina Woso
KOMPAS.COM/SILVITA AGMASARI
Kurator pameran, Mikke Susanto sedang menjelaskan lukisan yang dilukis Soekarno berjudul Rini . 

Hampir semua koleksi era Soeharto untuk keperluan dekorasi walaupun tentu ada sederet karya yang menyimpan bobot artistik lebih dari sekadar hiasan.

Pada era ini pula lukisan Raden Saleh, "Penangkapan Diponegoro", dipulangkan ke Indonesia atas upaya Joop Ave, Sri Warso Wahono, dan Rachmat Ali setelah lebih dari seabad berada di Belanda.

Menarik dicatat, pada era Soeharto, sejak pertengahan 1980-an, puluhan karya seni bertema telanjang dialienasi ke ruang khusus di Istana Bogor, atas saran budaya Ibu Tien, sehingga tak bisa ditonton publik umum.

Soeharto turun dan diganti BJ Habibie. Agak mengejutkan, Habibie ternyata tahu situasi koleksi benda budaya Istana. Ia lalu meminta agar koleksi era Soekarno dan Soeharto didokumentasi dalam buku besar.

Tahun 1999, draf buku sudah disusun, bahkan pra-dumi-nya sudah dibikin. Upacara "deklarasi" penerbitan buku pun sudah dilakukan di Istana, dengan dihadiri banyak seniman penyumbang lukisan.

Namun, Habibie keburu lengser, diganti Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam kekuasaan yang pendek, Gus Dur hanya sempat mereposisi pajangan koleksi benda seni di Istana, dengan koridor budaya Islami.

Museum budaya

Setelah itu, Megawati Soekarnoputri jadi presiden. Koleksi lukisan dan benda seni seluruh Istana dibenahi. Semua Istana ditata bak museum seni kebudayaan, dengan koleksi Sang Bapak sebagai primadona.

Pada tahun 2004 ia menerbitkan buku Rumah Bangsa-Istana-istana Presiden Republik Indonesia dan Koleksi Benda Seni. Buku ini diniatkan sebagai tanda bahwa koleksi Soekarno yang ada di seluruh Istana resmi dihibahkan kepada Istana Kepresidenan.

Megawati juga menyiapkan buku budaya Istana, Singgasana Seni. Menurut rencana, buku tersebut diluncurkan pada 17 Agustus 2005. Belum tuntas, Megawati kalah pemilu.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun naik takhta. SBY menyadari kekuatan nilai koleksi seni Istana.

Ia lalu meminta dilakukan uji petik: nominalisasi terhadap sekitar 2.600 lukisan, serta 13.300 keramik, patung, dan kriya koleksi Istana. SBY juga mengatakan bahwa Istana bukanlah ruang bagi para maestro saja, melainkan juga rumah budaya generasi dini.

Oleh karena itu, pada setiap Agustus 2006 sampai 2014 Presiden mengundang siswa sekolah dasar wakil dari 34 provinsi untuk berkompetisi seni (musik, puisi, lukis, dan batik) di kompleks Istana Kepresidenan. Untuk proyek ini, SBY menguluk tagline: "Membangun karakter bangsa dengan seni budaya".

Ketika Joko Widodo menjadi presiden, koleksi Istana ia giring untuk menghadap rakyat agar dikagumi seluruh rakyat.

"Beginilah kehebatan koleksi budaya Istana," kata Joko Widodo.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved