Sikap Budaya Para Presiden

Pameran lukisan koleksi Istana Presiden, "17/71: Goresan Juang Kemerdekaan", di Galeri Nasional Indonesia

Editor: Rosalina Woso
KOMPAS.COM/SILVITA AGMASARI
Kurator pameran, Mikke Susanto sedang menjelaskan lukisan yang dilukis Soekarno berjudul Rini . 

Konsultan Koleksi Benda Seni Istana Kepresidenan

Pameran lukisan koleksi Istana Presiden, "17/71: Goresan Juang Kemerdekaan", di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, usai pada 30 Agustus lalu. Antusiasme publik luar biasa, di-"tonton" oleh sekitar 35.500 pengunjung.

Puluhan karya itu lantas dikembalikan ke "istana"-nya di sejumlah kota dengan diangkut mobil boks besar yang resik. Dalam perjalanan, mobil pembawa harta budaya tersebut dipandu polisi lalu lintas. Sementara di belakangnya, Brigade Mobil mengawal, dengan serdadu bersenjata. Penyelenggaraan pameran pun menjumbulkan junjungan.

"Hadirnya penghormatan tinggi ini karena ada faktor Presiden Jokowi," kata budayawan Mudji Sutrisno SJ.

Pernyataan itu lalu menstimulasi pertanyaan substansial: sesungguhnya, bagaimana sikap kedekatan setiap presiden Indonesia (era sebelum Joko Widodo) terhadap koleksi Istana? Atau, bagaimana para presiden Indonesia menyikapi kelindan budaya Istana yang berada di hadapannya? Berikut adalah gambarannya.

Tempayan jiwa

Soekarno adalah presiden yang memulai pengoleksian seni untuk Istana. Namun, sesungguhnya Soekarno tak pernah mengatakan bahwa seni yang dipajang di Istana itu adalah milik Istana.

"Itu milik saya," katanya.

Ia mengatakan bahwa negara tak punya duit untuk menghiasi Istana Kepresidenan, yang ada di Jakarta, Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring. Karena itu, karya seni yang ia koleksi sejak zaman Jepang, ia hiaskan di semua Istana Kepresidenan.

Soekarno mengatakan bahwa eksistensi lukisan-lukisan itu bukan hanya aksesori, melainkan juga alat pemenuhan jiwa. Untuk dirinya sendiri, untuk para pengelola negara yang setiap kali datang ke Istana, untuk para tamu negara, serta rakyat Indonesia sebagai pemilik utama Istana.

Soekarno pun mengutip ungkapan Jawa tua: Jun yen lokak, kocak. Yen kebak, nonggak. Artinya, tempayan yang isinya sedikit akan koclak, jika berisi penuh, akan tenang, mantap berdiri bagai tonggak.

Tempayan adalah ruang jiwa bangsa Indonesia, seni adalah isinya. Seni sebagai anak budaya akan memenuhkan tempayan jiwa bangsa.

Soekarno lengser dan Soeharto naik takhta. Soeharto menyadari bahwa dia "tidak mengerti" bagaimana cara memelihara seni dan mengolah budaya. Oleh karena itu, ia lantas menginstruksikan pembentukan institusi Sanggar Istana Presiden.

Sanggar yang lama diurus Adek Wahyuni Saptantinah ini menemukan kenyataan: banyak koleksi seni Soekarno raib dari Istana kala transisi Orde Lama ke Orde Baru dan amat banyak pula karya seni yang rusak. Namun, institusi ini tak berdaya melacak dan merestorasi lantaran anggaran untuk kebudayaan di Istana begitu cekak.

Pada era Soeharto berkuasa 32 tahun, koleksi seni-terutama lukisan-bertambah sekitar 1.000. Lukisan ini biasanya dibeli atas instruksi Kepala Rumah Tangga Kepresidenan, yang berganti setiap periode.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved