Politik Berdasarkan Persahabatan Warga
Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa politik. Kecenderungan natural itu tergerak secara sadar ataupun tidak sadar akan upaya menjadi lebih baik.
Oleh: Stef Sumandi
Mantan Ketua Divisi Politik FORMARES
BERPOLITIK merupakan kecenderungan alamiah manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa politik. Kecenderungan natural itu tergerak secara sadar ataupun tidak sadar akan upaya menjadi lebih baik. Berikut, naluri individualitas untuk menentukan kebaikan dirinya juga secara sosial berjuang untuk memenuhi kebutuhan sesama dikarenakan oleh ketergantungan sosial turut memaknai intensi politik.
Lebih dari itu, ada dorongan rohaniah dalam diri manusia untuk mencintai, mengasihi sesama manusia untuk hidup bersama dalam komunitas politik. Itu berarti politik sesungguhnya upaya manusia secara bersama untuk hidup bersama demi kebaikan bersama. Filsuf Yunani, Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk politik (zoon politicon).
Membangun Konsensus Membumikan Ideologi
Tesis yang dikemukakan terdahulu berangkat dari realitas sosial politik yang dihadapi manusia bahwa ada kerelaan dari dalam diri manusia untuk hidup bersama. Kepedulian terhadap bidang politik praktis menggambarkan kenyataan tentang tesis dimaksud. Di mana-mana terutama negara-negara berkembang seperti Indonesia, masyarakat sangat peduli dengan urusan politik. Karena itu, tidak salah kalau hari-hari ini, warta tentang persiapan pesta demokrasi pemilukada tahun 2017 mendatang cukup hangat. Baik "mulut gram", media sosial maupun media massa cetak dan elektronik lokal NTT selalu dipenuhi berita tentang para kandidat yang hendak "bertarung" di Kabupaten Flores Timur, Lembata dan kota Kupang.
Saya kira dinamika pemilukada bukan sebatas rutinitas lima tahunan, melainkan lebih dari itu merupakan upaya perebutan untuk membumikan ideologi. Sehingga orang-orang yang berjuang bukan orang-orang kurang kerjaan, melainkan mereka sudah sukses dalam bidangnya masing-masing, tetapi masih kurang. Untuk para petahana, mereka masih butuh waktu untuk bekerja lebih baik bagi rakyat. Sedangkan bagi para "penantang" mau bekerja pada medan yang lebih luas lagi demi kemaslahatan rakyat banyak. Semua yang maju selalu membawa cita-cita luhur bukan dengan janji-janji tetapi mereka menawarkan visi dan misi agar menjadi konsensus bersama memajukan daerah dan masyarakat.
Nilai Persahabatan Warga
Keluhuran niat yang tertuang dalam visi, misi dan program kerja para kandidat akan lebih terwujud kalau mereka terpilih. Ada berbagai faktor yang membuat orang dapat dipilih dan sesudah itu tentunya harus bekerja. Akan tetapi ada hal yang tidak boleh dilupakan, bahwa politik itu upaya hidup bersama yang berdasarkan pada persahabatan warga (Kompedium Ajaran Sosial Gereja, Penerbit Ledalero, hal. 267-269).
Konsepsi persahabatan warga dalam kehidupan bersama mengandung nilai berikut. Pertama, makna terdalam dari paguyuban politik dan sipil tidak muncul secara langsung dari daftar hak dan kewajiban seorang pribadi. Kehidupan bersama hanya mencapai kepenuhan artinya jika didasarkan pada persahabatan. Kedua, sebuah masyarakat berdiri kokoh jika ia bercita-cita untuk mengembangkan pribadi manusia dan kesejahteraan secara umum dan secara khusus; dalam hal ini norma hukum pun didefinisikan, dihormati dan dihayati atas dasar norma solidaritas dan pengabdian tanpa pamrih kepada sesama. Ketiga, hukum cinta kasih menjelaskan makna terdalam dalam kehidupan politik. Di sana ditegaskan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada menumbuhkan semangat batin keadilan dan kebaikan hati serta pengabdian demi kesejahteraan umum.
Korelasi Positif Antara Kandidat dan Rakyat
Dalam perspektif konsepsi persahabatan warga, orang-orang dengan dorongan batiniah untuk hidup bersama. Tidak ada paksaan ataupun perhitungan nilai material. Kemauan hidup bersama itu dengan ketulusan saling menolong sesama tanpa pamrih. Pada tataran ini, perlu ada korelasi positif antara pemimpin dan pemilih.
Pertama, kandidat. Para kandidat diharapkan menjunjung nilai cinta kasih tanpa pamrih. Dia mampu membangun tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera tanpa memperhitungkan intensi kepentingan pribadi maupun golongan. Kalaupun ada efek ke arah sana, mesti dilihat sebagai akibat dari perbuatan baiknya, bukan tujuan utama dari tindakannya. Hal ini akan meminimalisir diskriminasi dan politik pencitraan. Itu artinya para kandidat yang hendak maju dalam pesta pemilukada ke depan bukan orang-orang yang sedang "menagih utang" kepada warga atas perbuatan baik sebelumnya. Bukan pula para penjual citra agar mendapat simpati dari warga. Sebaliknya mereka merupakan para pekerja visioner yang telah berhasil membawa komunitasnya meraih sukses sehingga dipercaya untuk melakukan hal-hal lain yang lebih besar dan lebih baik dari sekarang demi kesejahteraan bersama.
Kedua, rakyat. Sejalan dengan kewajiban para kandidat, dalam perspektif persahabatan yang mendasari politik, rakyat pun diharapkan menyadari politik sebagai urusan bersama. Karena itu rakyat diharapkan memiliki sikap kritis dalam menentukan pilihan. Segala bentuk propaganda politik harus dicermati secara baik. Terutama mesti melihat dengan jelas antara ketulusan memimpin dan nafsu berkuasa. Orang-orang tulus biasanya menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan. Sebaliknya para politisi yang hanya mengutamakan nafsu berkuasa biasanya merusak nilai persahabatan. Segala macam cara akan digunakan demi kekuasaan.
Politik uang bukan lagi praktek langkah. Rutinitas lima tahunan itu berjalan seiring dengan pesta demokrasi. Rakyat dibagikan uang dan barang untuk memilih kandidat tertentu. Penyelenggara pemilu pun disuap demi menggelembungkan suara atau mengamankan pelangggaran untuk memenangkan calon tertentu pun tidak terhindarkan. Perlu disadari bahwa politik uang menempatkan manusia sebagai barang yang dapat dibeli. Dalam konteks itu, keluhuran nilai persahabatan tidak lagi dihargai karena mudah dijual demi uang dan kekuasaan. Di sana, politik bukan lagi komitmen persahabatan untuk memajukan kesejahteraan umum, melainkan nafsu untuk berkuasa demi kepentingan pribadi dan golongan.
Karena itu, jangan terima tawaran uang, juga jangan pilih orangnya. Jika terima uangnya lalu tidak memilih sama halnya rakyat memupuk praktek politik uang.
Akhirnya, biarkan telinga rakyat mendengar tanpa sekat, mata rakyat melihat tanpa kaca, hati rakyat membatin tanpa keraguan agar mereka menentukan nasib mereka dengan ketulusan tanpa pamrih berdasar cinta kasih yang dikandung persahabatan sejati yang mendasari praktek politik.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/persahabatan_20160819_163035.jpg)