Keluarga Adalah Sekolah Kemanusiaan
Keluarga adalah Gereja mini sebab dalam keluarga, terwujudlah persekutuan murid-murid Kristus yang dibangun dalam ikatan kasih sayang
Hasil Perpas X Regio Nusra di Mataloko -Bagian Terakhir)
Oleh: Martin Chen
Panitia Perpas
PERTEMUAN Pastoral (Perpas) X Nusa Tenggara menegaskan peran hakiki keluarga sebagai subyek pastoral. Lebih dari itu Perpas menegaskan keterkaitan peran itu dengan jati diri keluarga selaras ajaran Konsili Vatikan II sebagai Gereja Rumah Tangga (ecclesia domestica) (LG 11; AA 11). Keluarga adalah Gereja mini sebab dalam keluarga, terwujudlah persekutuan murid-murid Kristus yang dibangun dalam ikatan kasih sayang, kesetiaan tanpa batas, pengorbanan, pengampunan dan solidaritas. Dalam kaitan ini keluarga memiliki dua fungsi utama baik sebagai wadah dan media pendidikan iman maupun pendidikan nilai-nilai kemanusiaan. Dokumen Gravisimum Educationis Konsili Vatikan II menegaskan bahwa pendidikan dalam keluarga bertujuan demi "pendewasaan pribadi manusia" dan juga agar anak-anak semakin "mendalami misteri keselamatan, dan dari hari ke hari makin menyadari karunia iman yang telah mereka terima; supaya mereka belajar bersujud kepada Allah Bapa dalam Roh dan kebenaran (lih. Yoh 4:23)" (GE 2). Jadi keluarga sungguh merupakan komunitas pertama, tempat pewartaan Injil bagi anak-anak dan medan untuk memimpin mereka melalui pendidikan iman bertahap menuju kedewasaan manusiawi dan kristiani (FC 2). Dalam hal ini peran orangtua sangatlah sentral dan tak tergantikan oleh siapapun. Merekalah yang menjadi pendidik pertama dan utama, yang memungkinkan anak-anak berkembang dalam cinta kepada Allah dan sesama (GE 3; AA 11). Karena itu orangtua tidak hanya berfungsi melahirkan anak, tetapi juga membesarkan dan mendidik anak-anak dalam kehangatan cinta manusiawi dan suasana kasih kristiani.
Pendidikan Iman
Keluarga hendaknya menjadi pertama-tama tempat pendidikan iman yang intensif dan holistik. Iman merupakan penyerahan diri manusia yang utuh dan total kepada Allah melalui Kristus, didorong oleh kekuatan Roh Kudus dalam seluruh pergumulan hidup konkret setiap hari. Iman meliputi sikap dan tindakan manusia dalam relasi dengan Allah (personal, fides qua) maupun percaya kepada isi pewahyuan sebagai kebenaran (obyektif, fides quae). Jadi pendidikan iman tidak sekedar informasi pengetahuan iman, tetapi semua aktivitas pendidikan yang bertujuan agar seorang anak sungguh mengandalkan Allah dalam seluruh perjuangan hidupnya dan bukannya terikat pada diri dan hal duniawi lainnya.
Dalam tantangan dunia dewasa ini, tidaklah mudah menjadikan keluarga sebagai rumah pendidikan iman. Hal ini disebabkan oleh kesibukan dalam hidup keluarga, pekerjaan orangtua dan waktu kerja yang membebani, dan gaya hidup yang instant dan serba cepat. Namun demikian keluarga harus tetap menjadi tempat untuk merasakan dan mengalami keindahan iman. Karena itu dalam keluarga hendaknya Sabda Allah menjadi terang dan penuntun hidup. Untuk itu keluarga perlu mempunyai waktu untuk bersama-sama membaca dan merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci. Demikian pula anak-anak sedari kecil hendaknya dididik untuk berdoa. Mereka perlu dituntun untuk merayakan liturgi Gereja seperti perayaan ekaristi dan perayaan sakramen lainnya serta dapat merasakan keindahan perayaan iman dalam lingkaran tahun liturgi. Orangtua hendaknya menghantar anak-anak untuk merasakan dan mengalami misteri ilahi dan berdialog secara pribadi dengan Allah. Akan tetapi hal ini janganlah dilakukan melalui perintah. Peserta Perpas X meyakini bahwa media pendidikan doa yang utama adalah contoh dan kesaksian hidup dari orangtua. Hal ini pulalah yang ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II: "Hanya bila ayah dan ibu bersama anak-anak berdoa bersama dan dengan itu mewujudkan imamat umum mereka, mereka dapat mencapai inti terdalam hati anak-anaknya dan meninggalkan di sana jejak-jejak, yang tidak akan dapat terhapus dalam peristiwa-peristiwa hidup selanjutnya" (FC 60).
Pendidikan Nilai-nilai Kemanusiaan
Selain pendidikan rohani, anak-anak perlu pula dididik untuk mengenal dan menghayati nilai-nilai kemanusiaan dalam hidup mereka. Keluarga berperan penting untuk membimbing anak-anak untuk mencintai Allah maupun untuk membangun hidup bersama yang adil dan bersaudara dalam masyarakat. Keluarga merupakan persekutuan dasariah yang membentuk masyarakat. Bahkan Konsili Vatikan II menyebut keluarga sebagai "sel dasar dan sel kehidupan masyarakat" (AA 1). Dalam keluargalah anggota-anggota masyarakat lahir dan bertumbuh sekaligus di sinilah warga belajar keutamaan dan nilai sosial, yang membentuk dan mendukung kehidupan dan perkembangan masyarakat. Dalam keluarga anggota-anggota masyarakat berjumpa satu sama lain dengan mesra, berdialog dan berkomunikasi secara intensif, belajar berkorban dan bersolider serta melayani tanpa pamrih. Jadi keluarga merupakan tempat dan sarana humanisasi masyarakat (FC 43). Keluarga adalah sungguh sekolah kemanusiaan.
Karena itu, Perpas X mengajak seluruh keluarga di Nusa Tenggara untuk mendidik anak-anak melalui pembiasaan yang terus-menerus untuk menghayati nilai-nilai kebenaran, keadilan, kejujuran, solidaritas, toleransi, perdamaian, ketekunan, kerja keras, hemat dan sederhana. Dalam keluarga anak-anak perlu dididik untuk mencintai dan memperjuangkan nilai-nilai keadilan sosial. Hal ini semakin urgen dalam situasi masyarakat Nusa Tenggara yang masih mengalami ketidakadilan sosial politik, ekonomi dan kultural. Dalam keluarga anak-anak misalnya belajar hidup jujur, sesuatu yang penting dalam membentuk sikap dan perilaku anti korupsi di tengah masyarakat. Mereka dididik untuk berani memperjuangkan dan menegakkan kebenaran, hal yang mutlak dalam melawan manipulasi dan kepalsuan dalam kehidupan sosial. Dalam keluarga anak-anak juga belajar menghargai perbedaan dan hidup dalam toleransi; inilah yang menjadi dasar utama untuk membangun kehidupan yang harmonis dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Pendidikan nilai kemanusiaan dalam keluarga mencakupi pendidikan seksualitas. Hal ini semakin urgen dan mendesak dalam situasi maraknya instrumentalisasi seks demi kesenangan dan uang yang terutama dipicu oleh penggunaan media sosial yang tidak selektif dan kritis. Maka dalam keluarga anak-anak perlu dibimbing untuk menyadari bahwa seksualitas adalah kekayaan seluruh pribadi yang meliputi tubuh, perasaan dan jiwa, dan memiliki arti yang benar, manakala menuntun seseorang dalam penyerahan diri penuh cinta kepada yang lain dalam suatu ikatan yang tetap (FC 37). Dalam keluargalah harus dimulai proses panjang pertobatan dan pendidikan untuk membentuk kultur cinta yang sejati, agar rahmat Allah kian meresapi kehidupan personal dan sosial manusia (FC 9).*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/keluarga-dalam-rumah_20160630_221526.jpg)