Punggung dan Panggung Perempuan Biasa

Panggung Perempuan Biasa dapat dilihat sebagai sebuah upaya representasi, usaha menyuarakan kegetiran nasib kaum perempuan NTT

Editor: Agustinus Sape
POS KUPANG/JOHN TAENA
Salah satu anggota Komunitas Teater Perempuan Biasa sedang saat mementaskan aksinya dalam acara Kupang Pesta Monologia 2016 di di Aalu F - Sqeur, Kota Kupang. Sabtu (12/3/2016). 

Oleh: Gusty Fahik
Pegiat pada Institut SOPHIA, Kupang

SEHARI setelah jenazah almarhumah Yufrida Selan tiba di rumah orangtuanya, sebuah pementasan bertajuk Panggung Perempuan Biasa dilangsungkan pada Sabtu (16/7/2016) di Taman Dedari, Kupang. Yufrida, perempuan asal TTS yang direkrut menjadi TKW pada tahun 2015 itu meninggal di Malaysia, dan jenazahnya dipulangkan dalam kondisi penuh bekas jahitan. Sebelumnya, almarhumah Dolfina Abuk, perempuan asal TTU yang menjadi TKW di Malaysia juga mengalami hal serupa. Kedua sosok ini adalah perempuan biasa yang kematiannya justru tidak biasa. Mereka meninggal dan beberapa organ tubuh bagian dalam mereka hilang. Diduga mereka menjadi korban perdagangan organ tubuh.

Jika yang dialami Yufrida dan Dolfina sebagai TKW adalah kenyataan yang juga dialami banyak perempuan lain di NTT, maka Panggung Perempuan Biasa dapat dilihat sebagai sebuah upaya representasi, usaha menyuarakan kegetiran nasib kaum perempuan NTT lewat pementasan seni di ruang publik. Pementasan ini dapat dilihat sebagai semacam ruang dimana para perempuan menarasikan dirinya sendiri di tengah kultur sosial yang memberi lebih banyak ruang bicara kepada laki-laki. Kehadiran panggung yang disakralkan bagi perempuan menjadi sebuah tanda perlawanan atas dominasi kaum laki-laki.

Saya tidak akan membahas satu demi satu lakon yang dipentaskan dalam Panggung Perempuan Biasa. Sebagai bentuk apresiasi, saya hanya akan membaca keseluruhan lakon dan mencoba mencari hubungannya dengan konteks kultural masyarakat NTT, terutama nasib perempuan-perempuan biasa dari NTT seperti yang dialami almarhumah Yufrida Selan dan Dolfina Abuk.

Punggung yang Menjadi Panggung
Sepintas dapat dengan mudah dikatakan bahawa Yufrida dan Dolfina adalah korban dari sebuah kultur yang mengistimewakan laki-laki serentak tumbal dari struktur yang melanggengkan dominasi laki-laki dan meminggirkan perempuan. Namun, bila dicermati lebih jauh, sosok seperti Yufrida dan Dolfina adalah gambaran perempuan yang mempertaruhkan apa yang mereka miliki untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dari himpitan kehidupan yang memang tidak adil.

Mereka memberikan punggungnya untuk menanggung beban agar mampu menyelamatkan kehidupan anggota keluarga yang lain dari tuntutan ekonomi dan sosial di kampung masing-masing. Di atas punggung itu barangkali telah diletakkan harapan untuk turut menyumbang rupiah bagi saudaranya yang sedang melanjutkan pendidikan, orangtua yang sedang membangun rumah di kampung halaman, atau nenek yang sedang sakit tetapi tidak punya biaya untuk merasakan pelayanan kesehatan di puskesmas atau rumah sakit.

Punggung Dolfina dan Yufrida, juga punggung perempuan-perempuan lain di NTT selama sekian tahun dijadikan alas untuk membangun panggung bagi kemegahan laki-laki. Dalam dunia yang menempatkan laki-laki pada peringkat pertama, kesuksesan yang patut dibanggakan ialah kesuksesan yang diraih laki-laki. Kesuksesan perempuan bukanlah prioritas untuk dibanggakan, apalagi bila laki-lakinya tidak mencapai kesuksesan yang sama bahkan yang melampui sang perempuan.

Kultur sosial di NTT kebanyakan menyediakan panggung untuk dilakoni para lelaki, bahkan ketika panggung itu mesti dibangun di atas punggung perempuan. Di atas panggung itu laki-laki bebas menampilkan dirinya, sementara perempuan harus tetap di belakang, seperti punggung. Apa yang patut dibanggakan dari sebuah punggung? Ia hanya akan dihargai ketika berhasil menanggung beban seberat apapun itu. Bila gagal, ia dihujani cacian sebagai yang lemah dan tidak berguna.

Kenyataan kultural ini pada akhirnya menjadikan perempuan sebagai korban yang sempurna ketika dirasuki oleh aktor-aktor yang mengejar keuntungan ekonomi dengan memperdagangkan tenaga kerja murah yang tidak memiliki bekal pendidikan dan keterampilan. Mereka hanya memiliki bekal kemauan untuk berbakti kepada keluarga dan lingkungan sosial kulturalnya, barangkali dalam kepasrahan pada tekanan situasi yang juga tidak berpihak pada mereka. Mereka dengan mudah ditipu dengan iming-iming gaji yang besar, dipalsukan data dirinya, dan diberangkatkan ke tempat yang sama sekali tidak pernah mereka ketahui sebelumnya.

Mereka adalah perempuan-perempuan yang mempertaruhkan hidupnya dengan memberikan punggung mereka untuk menanggung beban, serentak menjadi fondasi bagi panggung yang dilakoni para lelaki. Barangkali mereka ingin berontak atas apa yang mereka alami, tetapi suara mereka memang tidak ingin didengar. Protes mereka hanya akan membentur tembok kuasa yang dibangun laki-laki. Mereka dibesarkan dalam kultur yang hanya mau mendengar suara para lelaki. Bahkan untuk menentukan belis dan mahar bagi perkawinan yang akan mereka jalani pun mereka tidak punya kuasa. Semua kuasa adalah milik para lelaki. Para lelaki yang mesti bertitah, menentukan mas kawin yang mesti digenapi untuk seorang perempuan. Perempuan tidak punya kuasa, bahkan atas tubuh dan hidupnya sendiri. Ia hanya boleh memberi punggung, untuk menanggung segala sesuatu yang bahkan tidak diinginkannya sendiri.

Narasi Para Korban?
Menyaksikan lakon demi lakon dalam Panggung Perempuan Biasa, dengan cepat dapat disimpulkan bahwa ini adalah panggung yang menampilkan atau setidaknya merepresentasikan perempuan yang menjadi korban. Ini adalah panggung para korban, tetapi bukan korban yang diam, melainkan korban yang bersuara di tengah kencangnya suara laki-laki. Meski pada akhirnya mereka harus dipaksa untuk pasrah pada keadaan, setidaknya mereka telah bersuara. Mereka sudah berjuang memekikkan perlawanan, walau suara perlawanan itu belum mampu merobohkan tembok dominasi para lelaki.

Saya melihat perjuangan perempuan lewat Panggung Perempuan Biasa dalam dua tataran, yakni pertama perjuangan menaklukkan stereotip yang telah dimapankan dalam dunia sosial kultural di mana mereka berasal, kedua, perjuangan melampaui kultur dan struktur itu sendiri. Perjuangan pada tataran pertama dapat juga dilihat sebagai sebuah perjuangan mengenal diri sendiri. Bagaimana perempuan mengenal dirinya akan sangat menentukan narasi diri mereka kemudian.

Dalam kultur masyarakat yang mengesampingkan perempuan, sangat mungkin perempuan mengenal dirinya berdasarkan gambaran yang dibuat laki-laki. Misalnya, gambaran bahwa perempuan itu lemah, maka harus dilindungi laki-laki, perempuan sepantasnya bergiat dalam urusan rumah tangga, dan gambaran lain tentang perempuan yang merupakan hasil konstruksi dunia sosial yang dikuasai laki-laki. Ketika perempuan mengenal diri dengan mengafirmasi gambaran-gambaran yang demikian, mereka secara tidak langsung telah turut melanggengkan praktik dominasi yang dilakukan laki-laki.

Situasi ini menuntut perempuan untuk bisa membuat gambaran tentang diri sendiri yang sebisa mungkin membalikkan secara radikal gambaran-gambaran yang telah dibangun dan dihidupi dalam dunia yang dikuasai laki-laki. Perempuan mesti membuktikan bahwa mereka tidaklah selemah yang dibayangkan laki-laki. Perempuan juga mampu untuk keluar dari kungkungan peran rumah tangga untuk terlibat dalam urusan publik di luar tetek bengek urusan rumah tangga.

Implikasi dari upaya pembalikan yang radikal ini dapat dipakai untuk membaca apa yang dialami Yufrida dan Adolfina. Gambaran bahwa mereka adalah korban harus juga bisa dibalikkan secara radikal menjadi gambaran mereka sebagai pahlawan. Jika dalam hidup mereka adalah korban ketimpangan dunia yang dikuasai laki-laki, maka kematian mereka harus dimaknai ulang bukan lagi sebagai kematian korban, tetapi sebagai kematian seorang pahlawan. Dengan demikian, kematian mereka tidak hanya untuk ditangisi oleh kaum perempuan, tetapi untuk membangkitkan semangat perlawanan secara lebih masif atas praktik kultural yang merugikan kaum perempuan sendiri.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved