Breaking News

Injak dan IPM Ngada

Khusus Juni-Juli, Injak menjadi kata yang paling sering dikumandangkan.

Editor: Agustinus Sape
POS KUPANG.COM/HERMINA PELLO
Kaum muda menari pada acara kebaktian pembukaan Konsultasi Nasional (Konas) perempuan gereja gereja anggota PGI tahun 2016 di gereja kota baru, Selasa (21/6/2016) malam 

Oleh: Angela Regina Maria Wea
Tinggal di Kupang

INJAK, kata itulah yang pertama kali kami dengar ketika menginjakkan kaki di Ngada akhir Juni lalu. Di mana-mana orang menyebutkan kata itu. Tua, muda, di rumah, di jalan, kata ini begitu populer. Khusus Juni-Juli, Injak menjadi kata yang paling sering dikumandangkan.

Kata Injak harus kami alami langsung ketika Siprianus Bate Soro, Responsible for Papua Programme di UNDP (United Nations Development Programme) Indonesia, didaulat memimpin polines pada acara pernikahan kedua adik kami Yuvensius dan Fransiska di Kampung Manna, Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, akhir Juni lalu. Mungkin baru kali ini seseorang yang sehari-harinya berkantor di Sudirman, Jakarta, memimpin polines di kampung dengan menginjak rumput-rumput dalam lumpur. Benar-benar Injak dalam arti kata sebenarnya. Berulang-ulang kakak kandung dari mempelai pria ini memastikan kedua pengantin dan kami semua telah memasang senyum lebar-lebar sebelum menari.

Sebagai seorang yang bekerja di lembaga yang bergelut dengan IPM (Indeks Pembangunan Manusia), Siprianus yang akrab dipanggil Ipi, sarjana Fisika Teori dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Master dalam International Development: Poverty, Conflict and Reconstruction diUniversity of Manchester, Inggris, malam itu memberi kami pelajaran berharga, bagaimana membuat orang lain dan dirinya berbahagia, tidak menyerah di tengah kondisi yang paling kritis sekalipun, harus Injak dalam lumpur.

Kebetulan letak topografis kampung kami sangat sulit, harus tracking di tengah gerimis, kabut, dingin, melakukan perjalanan panjang dengan berjalan kaki karena tidak ada sarana transportasi roda empat mampu menembus kondisi jalan yang menantang dan berbukit. Di tengah medan dengan kondisi seperti ini, kualitas manusia menjadi pertaruhan untuk keberhasilan sebuah perhelatan.

Kualitas manusia merupakan hasil dari pembangunan manusia, pembangunan yang lebih menekankan pada peningkatan kualitas manusia dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur semata. UNDP memperkenalkan IPM sebagai ukuran baku untuk mengukur fenomena tersebut pada tahun 1990, didefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk. Proses agar manusia mampu memiliki lebih banyak pilihan dalam hal pendapatan, kesehatan, pendidikan, lingkungan fisik, politik, dan sebagainya.

Dalam IPM status pembangunan manusia dikelompokkan ke dalam empat kelompok: Sangat Tinggi (IPM 80), Tinggi (70 IPM<80), Sedang (60 IPM<70) dan Rendah (IPM<60). Pengklasifikasian ini bertujuan untuk mengorganisasikan wilayah-wilayah menjadi kelompok-kelompok yang sama dalam hal pembangunan manusia.

Nilai IPM dihitung berdasarkan rata-rata ukur dari ketiga indeks yaitu indeks kesehatan, indeks pengetahuan, dan indeks pengeluaran. Indeks kesehatan diukur melalui dimensi umur panjang dan hidup sehat yang digambarkan oleh Angka Harapan Hidup (AHH) saat lahir.

Indeks pengetahuan diukur melalui indikator Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS). RLS adalah rata-rata lamanya (tahun) penduduk usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal, sedangkan HLS didefinisikan sebagai lamanya (tahun) sekolah formal yang akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Indeks pengeluaran diukur oleh pengeluaran per kapita disesuaikan, yang ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan kemampuan daya beli.

Dalam pembahasan asumsi makro di DPR RI, IPM dijadikan salah satu indikator target pembangunan pemerintah disamping kemiskinan, tingkat pengangguran terbuka dan gini ratio. IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator dalam penentuan dana alokasi umum (DAU) (BPS NTT, 2015). Pembangunan manusia merupakan tujuan akhir pembangunan, dan pembangunan ekonomi merupakan alat untuk mencapai tujuan akhir tersebut. Menjadi pertanyaan, apakah IPM sejalan dengan arah pertumbuhan ekonomi, apakah pembangunan ekonomi berdampak positif terhadap pembangunan manusia, seefisien apa suatu kabupaten/kota mengkonversikan pendapatannya menjadi kapabilitas manusia.

IPM Ngada tahun 2015 termasuk kategori sedang dengan nilai 65,10. Ngada masih perlu meningkatkan RLS dengan mempertahankan anak-anak untuk tetap bersekolah sampai minimal selesai SMA. RLS Ngada 7,60 tahun atau secara rata-rata penduduk usia 25 tahun ke atas di Ngada berpendidikan setara kelas 2 sekolah menengah pertama. RLS Kota Kupang 11,43 tahun mendekati tamat sekolah menengah atas menyebabkan IPM Kota Kupang berkategori tinggi dengan nilai 77,95, tetapi masih belum mampu mengangkat IPM NTT 62,67 (BPS NTT, 2016).

Pembangunan manusia membutuhkan waktu yang panjang, tidak seperti membangun rabat jalan yang hanya butuh satu dua zak semen dan dikerjakan dalam tempo satu dua hari. Dengan IPM yang termasuk kategori sedang saja polines terindah sepanjang sejarah berhasil terukir, dapatkah dibayangkan jika IPM kita memasuki kategori tinggi apalagi sangat tinggi? Dengan bekal kesehatan, pengetahuan dan pengeluaran yang baik, kita dapat selalu mempunyai stok pilihan untuk melakukan banyak hal dalam hidup, termasuk kemampuan untuk berbahagia sekalipun dalam lumpur. Injak!*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved